
"Jika kamu tidak ingin alika bekerja, maka penuhilah kebutuhan nya dengan benar! Mana ada seorang istri yang tidak diberi nafkah lahir, tidak boleh bekerja, tidak boleh berdagang, lalu tidak diberi makan yang layak akan diam saja? Kamu cari diluar sana. Apa ada wanita seperti itu?" Ujar ema semakin emosi dengan mata berkaca-kaca tak terima anaknya diperlakukan seperti boneka.
"Bukan seperti itu bu! Maksud saya.." Jawab tajudin ingin menjelaskan maksudnya namun dipotong begitu saja oleh ema.
"Aaah sudahlah! Ingat yaa tajudin! Jika nanti mama mendengar lagi alika hanya makan satu kali sehari dirumahmu! Aku yang akan memberikan pelajaran untukmu!" Pekik ema dengan nada penuh penekanan ditambah ekspresi yang ingin menghajar tajudin saat itu juga.
Alika yang melihat ema semakin lepas kontrol berusaha menenangkan ibunya agar tidak terjadi keributan. Tajudin yang melihat ema dengan wajah merah padam ditambah tubuh yang gemetaran menahan emosi akhirnya memilih diam tak berbicara lagi. Tajudin mengakui bahwa dirinya memang sudah keterlaluan. Tajudin menatap alika dengan tatapan tajam seperti akan menerkamnya. tajudin tidak menyangka alika akan mengadu semuanya pada ema sang ibu.
Kini alika sudah berhasil menenangkan ema dan tajudin sudah berada dikamarnya. Ema yang sudah merasa lebih baik memilih berdiam diri didalam kamarnya dan memejamkan matanya dengan berbaring diatas kasur. Sedangkan alika menyusul suaminya yang berada dikamarnya untuk bericara dari hati ke hati agar tidak terus-terusan bertengkar hanya karena hal sepele. Kini alika sudah berada dikamarnya dan terdiam sejenak setelah melihat tajudin duduk dilantai dengan bersandar di dinding kasur sambil memijat pelipisnya yang terasa pusing.
"Kak! Kita harus bicara!" Ujar alika masih berdiri melihat suaminya duduk dilantai.
"Bicaralah! Telingaku tidak tuli dan masih bisa mendengar ucapanmu dari jarak satu meter." Jawab tajudin dengan nada dingin yang masih memijit pelipis nya.
"Kak! Aku serius!" Ujar alika yang kesal dengan menghentakan satu kakinya.
"Yaa aku juga serius alika! Kamu ingin aku dengan posisi yang bagaimana untuk mendengar kamu bicara?" Pekik tajudin dengan nada sedikit tinggi menoleh ke arah alika.
__ADS_1
"Jika kakak selalu seperti ini, kapan kita akan bahagia tanpa masalah?" Tanya alika dengan nada sedikit tinggi.
"Kamu ingin aku seperti apa? Menimangmu dan menyanyikan lagu saat kamu sedang bawel? Atau kamu ingin aku memanjakanmu seperti ibumu yang memanjakanmu?" Teriak tajudin langsung berdiri menghadap alika yang masih berdiri di depan pintu kamar dari dalam.
"Plaak!"
Alika menampar tajudin dengan kerasnya karena sudah tidak tahan lagi menahan emosinya yang melihat sikap tajudin. Tajudin yang ditampar oleh alika memegang pipinya yang panas dan menatap alika dengan tajamnya. Tajudin ingin menampar alika sebagai balasan, namun ia urungkan mengingat dirinya sedang berada dirumah mertuanya. Tajudin tidak ingin menambah masalah semakin besar. Tajudin langsung membalikan badan nya dan mengambil jaket yang tersampir di sandaran kursi kemudian beranjak pergi keluar dari rumah alika tanpa berpamitan padanya. Tajudin tak tahu harus kemana kakinya melangkah, dia tak tahu kota xx yang alika tinggali sedari kecil. Kakinya terus melangkah tanpa tujuan dengan tatapan yang kosong. Hati yang tak menentu rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya.
***
Alika ketiduran menunggu tajudin yang tak kunjung pulang kerumah. Ema yang melihat alika ketiduran di kursi ruang tamu terkejut. Ema ingin membangunkan alika tapi ia urungkan karena ingin menghajar menantunya yang membiarkan alika tidur diruang tamunya. Ema berjalan dengan menghentakan kakinya menuju kamar alika untuk memanggil tajudin agar membawa alika pindah ke kamarnya. Saat ema membuka pintu kamar yang ditempati alika terkejut tak melihat tajudin didalam kamar. Ema clingukan mencari tajudin disemua tempat yang ada dirumahnya namun masih tidak menemukan tajudin. Ema menghela nafasnya kasar dan kembali menghampiri alika diruang tamu. Ema tidak tega membangunkan alika yang sudah jam dua pagi dini hari. Namun ema tetap melakukan nya karena penasaran tajudin tidak ada dirumah yang entah pergi kemana.
"Eehh mama! Ada apa mah? Mama kok udah bangun? Apa ini sudah pagi?" Tanya alika beruntun sambil mengusap matanya karena tadi menangis yang disebabkan oleh tajudin.
"Hmm kamu itu kebiasaan kalau tanya beruntun kayak kereta! Ujar ema masih duduk disamping alika dan mengusap punggungnya dengan lembut."Mama terbangun karena ingin buang air kecil. Tapi mama kaget melihat kamu tidur disini sampai jam segini. Apa kamu bertengkar dengan suamimu karena mama sayang?" Tanya ema dengan ekspresi yang penasaran.
"Iyaa mah! Alika bertengkar dengan dia, tapi bukan karena mama! Ini karena dia yang tak bisa santai jika diajak bicara! Segalanya selalu dihadapi dengan emosi jika bicara dengan alika!" Sahut alika sambil menyandarkan tangan nya dilutut lalu mengusap wajahnya dengan kasar karena frustasi menghadapi suaminya yang susah diajak bicara.
__ADS_1
"Lalu. Kemana suamimu pergi? Apa dia pulang kerumahnya tanpa ijin sama mama?" Tanya ema dengan nada menyelidiki namun masih dengan posisi mengusap punggung alika.
"Aku tidak tahu dia kemana! Aku sudah menunggunya sampai aku tertidur disini. Tapi dia belum pulang juga! Aku ingin mencarinya, aku takut dia tidak bisa kembali pulang karena tidak tahu jalan dikota ini!" Sahut alika sambil bersandar disandaran sofa ruang tamu dan merebahkan kepalanya disandaran sofa sambil menatap langit-langit atap rumahnya.
"Apa dia bawa handphone?" Tanya ema karena panik jika menantunya akan tersesat disatu daerah yang tidak tahu arah jalan pulang.
"Handphone nya tertinggal dikamar mah! Alika juga tidak punya motor untuk mencarinya. Alika juga tidak tahu harus bagaimana sekarang!" Jawab alika kesal sambil duduk tegap dan menggelengkan kepalanya.
"Yaa sudah kamu yang sabar! Dia sudah dewasa, dia pasti akan bertanya jika tidak tahu arah pulang. Kamu jangan khawatir yaa, apalagi dia juga pernah merantau pasti tidak akan takut tersesat!" Sahut ema menenangkan alika sambil menarik kepalanya untuk bersandar didada nya dan mengusap nya dengan lembut.
Alika terus meneteskan airmata nya tanpa henti. Alika tak tahu lagi bagaimana caranya bicara dengan pria tempramen seperti tajudin. Alika sebenarnya malas jika harus bicara dengan suaminya. Tapi alika berfikir akan sampai kapan hubungan nya seperti benang kusut yang susah untuk diluruskan. Alika frustasi dan kecewa dengan sikap suaminya yang tak pernah mengerti posisinya. Alika yang selalu dimanja selama dirinya menjalin kasih dengan para mantan nya, kini harus memutar otak bagaimana caranya memanjakan suaminya yang keras kepala dan suka marah-marah.
***
Setelah menumpahkan semua airmatanya kini alika sudah kembali terlelap dikamarnya ditemani ema yang terus membelai kepala alika dengan lembut. Ema khawatir akan kondisi alika yang terus seperti ini karena harus menghadapi suaminya yang entah apa maunya. Setelah alika terlelap kini ema beranjak dari kamar alika dan kembali ke kamarnya untuk meneruskan tidurnya yang sempat terganggu karena ingin buang air kecil. Kini semuanya telah terlelap dijam tiga pagi dini hari. Ema juga tidak lupa mengunci pintu rumahnya agar dirinya bisa tidur dengan tenang tanpa gangguan suatu apapun.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG