
Ema kini sudah menggelar syukuran untuk memberikan nama pada cucu nya. Tak berselang lama acara syukuran akhirnya selesai dan alika kembali masuk ke kamar nya dan mengunci pintu kamar nya agar tidak ada yang mengganggunya karena alika sedang ingin sendiri. Ema yang merasa tidak enak dengan rombongan karena tingkah alika hanya tersenyum kecut. Entah apa letak kesalahan nya sampai membuat alika seperti itu.
***
Hari silih berganti minggu alika sudah terbiasa dengan kesendirian nya dan sudah dua bulan alika menjadi seorang ibu. Ema masih menemui rombongan nya dan betapa terkejutnya saat ada yang datang kerumah nya. Ema menatap nya dengan teliti apa benar dia datang?
"Assalamualaikum bu!" Ucap pria yang datang membawa tas ransel berisi pakaian masuk menghampiri ema dan duduk dihadapan ema.
"Waalaikumsalam! Dengan siapa kamu datang?" Tanya ema yang masih tak percaya dengan kedatangan nya.
"Aku datang sendiri bu! Maaf jika aku punya salah. Aku ingin memperbaiki semuanya!" Ucap pria yang datang tak lain adalah menantunya yaitu tajudin.
"Yaa semuanya sudah dimaafkan! Tapi tolong jangan ulangi lagi apa yang sudah kamu perbuat!" Jawab ema dengan mata berkaca kaca.
"Trimakasih bu! Alika nya mana bu?" Tanya tajudin yang tak melihat istrinya.
"Ada dikamar nya! Ayo mama antar ke kamarnya!" Titah ema beranjak mengantar tajudin menuju kamar alika.
Ema berjalan di ikuti tajudin dibelakang nya menuju kamar alika. Saat sampai di depan kamar alika ema mengetuk pintu kamarnya lalu membukanya tanpa disetujui oleh alika.
"Alika! Lihat siapa yang datang?" Ucap ema dan menyuruh tajudin masuk.
Alika menoleh dan terkejut melihat tajudin datang tapi alika tak menunjukan keterkejutan nya. Alika kembali menggendong bayi nya tanpa menatap suaminya yang sudah masuk ke dalam kamarnya sambil menaruh tas ranselnya dipinggir pintu.
"Mama tinggal dulu yaa tajudin?" Ucap ema dan kembali menutup pintu kamar alika.
"Iya bu!" Jawab tajudin dan kembali menoleh ke arah alika dan menghampirinya.
"Alika!" Ucap tajudin menyentuh bahu alika.
"Ada apa kamu datang?" Tanya alika masih fokus dengan anaknya tanpa melihat suaminya.
"Aku minta maaf atas semua kesalahanku! Aku ingin memperbaiki semuanya! Apa kamu mau memberikan aku kesempatan lagi?" Ujar tajudin menyentuh kedua bahu alika dibelakang alika yang menidurkan anaknya.
__ADS_1
"Terserah kamu! Aku sudah tidak peduli kamu ingin bagaimana!" Sahut alika dengan nada dingin nya.
Tajudin hanya menutup matanya dan menjatuhkan wajahnya di tengkuk alika merasa bersalah dengan sikap kerasnya pada alika.
"Apa kamu cacat? Bisa berdiri tanpa menyentuhku?" Ujar alika datar dan melepaskan dirinya dari tajudin.
"Maaf! Aku hanya merindukanmu!" Sahut tajudin terus berusaha membujuk alika.
Alika tidak merespon tajudin yang bercerita panjang lebar. Alika masih tetap fokus dengan anaknya. Tajudin kagum melihat anaknya yang digendong oleh alika.
"Boleh aku menggendong nya sebentar?" Tanya tajudin dengan senyum simpulnya.
"Dia sudah tidur jangan diganggu!" Jawab alika dan menidurkan nya dikasur bersama dirinya.
"Anak kita cantik seperti ibunya." Ucap lagi tajudin merayu alika agar tersipu.
"Aku ngantuk mau tidur! Jangan ganggu." Sahut alika datar dan dingin lalu memunggungi tajudin tanpa rasa canggung.
Tajudin hanya pasrah dengan sikap alika yang jutek. Tajudin akhirnya merebahkan dirinya dilantai dan alika melihatnya hanya diam saja tidak memperdulikan suaminya. Alika sudah merasa lelah dengan sikap orang orang disekitarnya yang selalu bersikap seenaknya tanpa memikirkan perasaan alika. Alika selalu berusaha tidak merespon sikap orang yang disekitar alika agar tidak merasa sakit hati.
***
"Alika! Aku ingin!" Ucap tajudin membuat alika memutar bola matanya malas.
"Lakukan saja dengan wanita lain!" Jawab alika masih saja dingin dengan suaminya.
"Aku mohon jangan seperti ini alika! Kamu boleh menampar menyiksaku tapi jangan mendiamkan aku seperti ini! Aku mohon kasih aku kesempatan sekali lagi!" Ujar tajudin memeluk alika dari belakang karena alika akan pergi keluar dari kamarnya.
"Aku sudah memberimu kesempatan. Jika tidak aku sudah mengusirmu dari sini! Lakukan saja apa yang kamu inginkan. Jangan memaksaku untuk melakukan nya lagi dengan mu! Rahimku sudah tidak sudi lagi punya anak dari mu!" Ucap alika dengan nada penuh penekanan.
Tajudin mendapat jawaban seperti itu dari alika menjatuhkan dirinya dan berlutut dilantai membiarkan alika keluar dari kamarnya. Tajudin tak menyangka akan mendapatkan sikap seperti ini dari alika. Tajudin menangis menahan rasa sakitnya setelah mendapatkan jawaban seperti itu dari alika. Setelah alika selesai mandi alika kembali masuk ke kamarnya tanpa membantu tajudin untuk berdiri dari berlututnya yang masih menangis. Seakan alika tak melihat keberadaan tajudin dikamar nya. Alika membuka lemarinya dan berganti pakaian tanpa menghiraukan tajudin yang melihatnya. Alika sudah seperti orang putus asa dan frustasi dengan keadaan nya yang tak berpihak padanya.
Keesokan harinya alika berada diruang tamu sendirian dan memesan Yong tahu untuk sarapan karena perutnya yang sudah lapar. Tajudin menggendong anaknya melihat alika yang makan sendirian tanpa menawarinya makan. Tajudin tersenyum kecut karena alika tak memperdulikan dirinya lapar atau tidak. Alika makan dengan lahapnya tanpa sisa dan tanpa menoleh menatap suaminya.
__ADS_1
"Apa kau tega membiarkan aku kelaparan seperti ini?" Tanya tajudin sambil menggendong anaknya
"Aku tidak peduli kamu lapar atau tidak. Bukan kewajibanku memberikan mu makan!" Sahut alika membuat tajudin terdiam.
Tajudin tak lagi banyak bicara setelah mendapat jawaban yang begitu menyakitkan dari alika. Setelah berganti malam tajudin bergabung dengan rombongan ema diruang tamu dan meninggalkan alika sendiri dikamar nya. Tajudin berbincang bincang dengan para tamu ema.
"Apa kamu tidak bekerja tajudin?" Tanya rodiyah yang penasaran.
"Aku tidak tau lokasi disini!" Jawab tajudin dengan senyum simpulnya.
"Bekerja dengan suamiku saja di alun alun! Suamiku kerja menjaga mobil mainan anak anak dan gajinya juga lumayan. Jadi kamu bisa memberi uang untuk alika! Kasian dia hanya berdiam diri dikamarnya sejak melahirkan!" Ujar rodiyah panjang lebar.
"Yaa nanti aku pikirkan lagi." Sahut tajudin merasa sungkan.
Setelah berbincang bincang tajudin kembali masuk ke kamar alika dan ingin istirahat. Tapi tajudin belum juga mendapat jatah batin nya dari alika karena alika masih saja jutek padanya dan tak mengajaknya bicara jika tajudin tak mengajaknya bicara lebih dulu.
Tak terasa sudah hampir 3 minggu tajudin berada dirumah alika dan anindia datang menengok keadaan orangtua juga alika sebagai kakaknya. Sejak alika melahirkan nindia baru datang lagi kerumahnya karena kesibukan yang harus ia jalani bersama suaminya. Fajri melihat tajudin dan langsung menyalaminya lalu mengajaknya ngobrol membahas tentang lelaki. Dan anindia berada di dalam mengobrol dengan keluarganya juga alika.
"Sejak kapan kamu disini?" Tanya fajri sambil menyulutkan rokoknya.
"Yaa sekitar tiga minggu! Dimana rumah mu?" Tanya tajudin basa basi.
"Masih daerah kota tapi dijalan pantura utama!" Jelas fajri sambil menghisap rokoknya. "Apa kamu bekerja disini?" Tanya fajri basa basi.
"Tidak! Aku kesini ingin mengambil hati istriku lalu membawanya kembali ke kampung ku!" Jawab tajudin menjelaskan keinginan nya.
"Untuk sementara dari pada nganggur bekerja dulu saja denganku! Aku punya stand es cappucino tapi tidak ada yang menjaga nya. Jika kamu mau untuk kesibukan jaga saja di stand ku! Nanti aku akan menggajimu sesuai kemampuanmu!" Ujar fajri yang di angguki oleh tajudin.
"Boleh! Daripada aku berdiam diri saja dirumah tanpa ada kesibukan!" Sahut tajudin dengan penuh semangat.
Mereka berdua mengobrol dan bercanda ria sampai lupa waktu. Alika juga banyak mengobrol dan bercanda dengan adiknya dikamar karena alika masih tidak mau keluar dari kamarnya karena banyak orang yang akan mengajaknya bicara membuat alika jadi malas menanggapi mereka. Mereka semua berbincang bincang sampai lupa waktu hingga malam hari fajri dan nindia baru saja pulang dari rumah alika dan berpamitan dengan ema dengan menyalaminya penuh sopan santun.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG