NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
29.AKU INGIN PULANG


__ADS_3

Hari berganti hari hingga berganti minggu kehidupan alika semakin memburuk. Wajah yang kusam, kulit yang kasar dan semakin menghitam karena hidup di desa bagian gunung. Alika tetap berusaha menerima takdir dan nasib nya yang seakan tak berpihak padanya. Kini alika sudah mulai membiasakan diri menjadi orang desa yang sesungguhnya. Namun tetap saja baginya sebuah beban hidup yang tak mampu ia jalani. Alika sudah mulai memasak untuk dirinya sendiri mulai dari memetik daun singkong, labu hijau, kangkung, daun pepaya hingga bayam. Alika selalu berusaha untuk tetap makan sayuran tanpa nasi agar bayi yang di kandungan nya tetap sehat. Meski tak bisa cara memasaknya alika tetap berusaha memakan nya walau rasanya tidak enak.


"Alika. Sedang masak apa?" Tanya biyung amin yang masuk dari arah luar.


"Ah ini.. Aku mau masak kangkung biyung! Biyung sudah makan?" Jawab alika dengan ramah sambil mengiris daun kangkung.


"Aku sudah makan tadi dengan tumis jantung pisang!" Sahut biyung amin."Cara memasak kangkung bukan seperti itu. Sini biyung ajarin biar masakan mu enak di makan!" Titah biyung amin mengajari alika cara memasak sayuran yang benar.


Dengan telaten nya biyung amin mengajari alika dari awal menumis bumbunya hingga memasukan kangkung nya sampai matang. Alika melihat dengan teliti cara biyung amin memasak sampai alika mencicipi nya.


"Waaah rasanya enak sekali biyung! Apa aku boleh minta nasi sedikit dirumah biyung? Apa nasi yang biyung masak sama seperti ibu atau tidak?" Tanya alika yang dengan senang nya ingin makan sayur kangkung nya bersama nasi.


"Memang nya nasi disini kenapa? Apa rasanya tidak enak?" Ujar biyung amin berbalik menyakan maksudnya pada alika.


"Nasi yang ibu masak seperti bubur nek. Aku tidak suka, bahkan melihat nya saja perutku terasa mual." Sahut alika dengan wajah sedihnya.


"Coba aku lihat?" Ujar biyung amin sambil melangkah ke arah rice cooker."Oooh nasinya seperti ini? Ya sudah setiap hari kamu bisa ambil nasi dirumahku sampai kenyang dan puas!" Tawar biyung amin pada alika merasa kasihan.


"Serius yung? Aku boleh mengambil nasi sepuasnya?" Tanya alika antusias.


"Yaa.. Nasi dirumahku tidak seperti mertuamu yang seperti bubur." Ujar biyung amin pada alika.


"Oke.. Nanti setelah semuanya beres aku akan membawa lauk kerumah biyung dan kita makan bareng ya biyung?" Tawar alika merasa bahagia karena ada yang mau diajak makan bareng.


Dengan cekatan alika membereskan semua yang ada dirumah dan membersihkan nya agar dirinya bisa makan dirumah biyung amin dengan tenang tanpa memikirkan pekerjaan rumah yang belum selesai.

__ADS_1


***


Kini hari-hari alika sudah semakin rileks karena dia selalu memasak sayuran dan membawanya kerumah biyung amin untuk makan bersama. Tak terasa usia kandungan alika sudah memasuki ke empat bulan. Hari ini alika merasa tidak enak badan dan bangun sedikit siang. Rumah menjadi terbengkalai karena tak dibersihkan karena sedang tidak enak badan. Lagi-lagi kekerasan yang dia terima jika keadaan rumah berantakan.


"Gubraaakkhh!"


Tajudin membuka pintu kamar dengan kasar setelah pulang dari kebun.


"Dor! Dor! Dor!"


Tajudin menggedorkan celurit tajam ke pintunya membuat alika gemetaran karena bangun dengan keadaan terkejut.


"Bangun! Sudah siang! Kebiasaan kamu ini selalu bangun siang dan belum ada masakan apapun! Cepat bangun lalu masak. Aku sudah sangat lapar!" Teriak tajudin masih dengan alat tajam celurit di tangan nya.


Alika gemetar dan takut akan alat tajam jika terlepas dari tangan tajudin menusuk perutnya. Akhirnya alika menuruti permintaan tajudin untuk memasak agar suaminya tidak kembali teriak. Alika masak dengan tubuh penuh keringat dan jantung yang berdegub kencang. Setelah selesai masak alika menguatkan diri agar bisa menyelesaikan tugasnya. Dengan tetesan air mata yang terus mengalir sembari mengerjakan pekerjaan nya. Setelah tajudin selesai makan alika kembali sendirian di dalam rumah itu.


Alika tak menjawab ucapan tajudin hanya menatapnya tajam seakan ingin rasanya membunuh suaminya saat itu juga. Setelah kepergian suaminya alika bergegas mandi dan berganti pakaian lalu duduk sejenak di tepi kasur untuk berfikir dengan kepala dingin.


"Aku ingin pulang! Tapi aku tidak mempunyai uang untuk ongkos! Bagaimana caranya yaa aku pulang tanpa uang?" Gumam alika berbicara ada diri sendiri.


Tak berfikir panjang alika terus bertekad lillahita'ala untuk pulang ke kampung nya. Alika sudah tidak sanggup berada dirumah suaminya dengan keadaan seperti ini terus menerus.


"Bismillah.. Ya Allah lindungilah aku dari segala marabahaya untuk pulang kerumah ku!" Ucap alika pada diri sendiri.


Alika bergegas membereskan pakaian nya yang ada di dalam lemarinya. Alika membawa separuh baju nya untuk dibawa pulang. Tidak lupa alika membawa perhiasan nya hadiah seserahan saat pernikahan nya masih lengkap karena tidak boleh dijual oleh suaminya. Alika dengan mantap dan bertekad untuk pulang tanpa berpamitan pada siapapun karena dia hanya sendirian dirumah itu. Alika pergi kerumah sahabat tajudin yang bernama doni untuk minta tolong mengantar nya turun ke kota.

__ADS_1


"Assalamualaikum mas doni!" Ucap alika sudah berada dirumah doni.


"Waalaikumsalam! Iya alika ada apa?" Tanya doni yang sudah membuka pintu rumah nya.


"Bisa minta tolong mengantar saya turun ke kota?" Tanya alika memohon."Sebelum itu antarkan dulu ke toko perhiasan untuk menjual perhiasanku untuk ongkos pulang!" Ujar alika menjelaskan tujuan nya.


"Oooh iyaa bisa! Sekarang? Apa tajudin tidak mengantar?" Tanya doni berulang kali.


"Iyaa sekarang mas! Tajudin sudah tahu aku akan pulang namun karena dia sedang sibuk dengan pekerjaan nya jadi tidak bisa mengantar!" Jelas alika berbohong agar doni mau mengantarnya.


"Baiklah. Silahkan masuk ke mobil!" Titah doni sembari melangkah menuju mobilnya.


Alika menuruti perintah doni untuk masuk ke dalam mobilnya. Tak lama mobil pun jalan menyusuri perjalanan yang berliuk-liuk dengan bibir alika yang terus berzikir agar selamat sampai tujuan. Tanpa berpamitan tanpa meninggalkan sepucuk kertas pun alika pergi dari rumah suaminya membawa kedua handphone miliknya agar tajudin tak bisa menghubunginya karena handphone tajudin sudah rusak karena dibanting dengan kerasnya saat dia emosi. Akhirnya alika sampai ditoko perhiasan dan menjual gelang nya seharga delapan ratus ribu untuk ongkos pulang ke kampung nya.


"Mas doni. Terimakasih yaa sudah mau mengantar! Ini untuk membeli bensin!" Ucap alika sembari menyerahkan uang lima puluh ribu pada doni.


"Ah jangan alika! Aku ikhlas kok mengantarmu!" Ujar doni meenolak uang pemberian alika."Jangan! Ini buat ongkos kamu saja pulang ke kota ya?" Tolak doni tanpa membuat alika tersinggung.


"Sekali lagi terimakasih yaa mas doni! Semoga rejeki mas doni semakin berlimpah dan diberi keselamatan panjang umur!" Ucap alika merasa tidak enak hati.


"Iyaa amin alika terimakasih juga doa nya. Semoga kamu selamat sampai tujuan yaa?" Sahut doni dengan senyum lebarnya.


Kini doni mengantar alika untuk mencari bus menuju kotanya agar alika tidak mendapatkan pelecehan. Alika menaiki bus dibantu oleh doni yang membawa barang-barang nya. Tak berselang lama bus akhirnya jalan dan doni berpamitan untuk turun dari bus dan menatap bus itu sampai hilang dari pandangan nya. Doni bergegas pulang kembali kerumahnya. Kini alika sudah dalam perjalanan pulang nya ke kota X dengan perasaan campur aduk hingga meneteskan air mata dan berulang kali mengusapnya.


"Maafkan aku! Aku pergi dari hidupmu! Karena aku sudah tidak sanggup lagi hidup bersamamu! Maaf jika aku pergi tanpa pesan. Karena jika aku berpesan kau akan kembali menyiksaku tanpa ampunan darimu!" Gumam alika dalam hati sambil menatap pemandangan di samping jendela dengan tetesan airmata nya tanpa henti.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG


__ADS_2