
"Apa kamu tidak puas semalam?" Tanya tajudin yang melihat wajah alika dengan rasa kecewa.
"Aku tidak tahu aku puas atau tidak. Yang pasti aku hanya seorang istri cukup melayani suaminya di atas ranjang dengan baik." Sahut alika tak mau membahas masalah ranjang nya lebih dalam dengan tajudin.
Kemudian alika bangkit dari duduk nya lalu pergi melangkah menuju kamarnya. Alika ingin merebahkan tubuhnya sebentar karena lelah. Alika sibuk dengan pikiran nya sendiri memikirkan kenapa perasaan nya seakan sulit menerima tajudin sebagai suaminya. Alika selalu berusaha agar bisa mencintai suaminya namun malah semakin membencinya entah kenapa bisa seperti itu.
Kini hari sudah berganti malam. Seperti biasanya pasangan suami istri selalu berdebat jika di malam hari hanya karena hal kewajiban nya diatas ranjang. Lagi-lagi alika menolaknya entah kenapa alika begitu berat untuk menerima permintaan tajudin. Hingga hanya satu minggu sekali saja alika memberikan nya itu saja karena ada paksaan dari tajudin. Alasan alika adalah karena tajudin tidak benar-benar berubah sesuai janjinya. Tajudin kembali tidak memberikan nafkah lahirnya pada alika melainkan pada sang ibu. Alika kesal, alika kecewa, sakit, karena sebagai istri dirinya tak pernah dihargai. Alika dihargai jika tajudin menginginkan adegan ranjang dengan nya.
"Kemana dia? Ini baru jam satu malam! Kenapa dia tidak tidur?" Gumam tajudin pada dirinya sendiri mencari alika yang tak ada bersamanya.
Tajudin bangkit dari kasur nya dan pergi keluar dari kamar nya. Tajudin terus mencari keberadaan alika, dan ternyata tajudin melihat alika sedang sibuk dengan kayu bakar yang menyala merebus singkong di dalam panci yang mendidih. Alika kelaparan dan terbangun untuk mengganjal perut nya.
"Sedang membuat apa?" Tanya tajudin yang sudah berjongkok di samping alika.
"Rebus singkong!" Jawab alika singkat tanpa menoleh pada suaminya.
"Ini sudah malam loh! Apa kamu tidak takut sendirian di dapur yang disamping ada kebun dan rumah kosong!" Ujar tajudin menakut-nakuti alika.
"Aku sudah biasa melihat makhluk halus! Asalkan aku tidak mengganggu dia juga akan diam saja!" Sahut alika datar tanpa rasa takut.
"Memang nya kamu pernah lihat?" Tanya tajudin tak percaya.
"Setiap hari dirumahku di kota!" Jawab alika tanpa ekspresi masih sibuk dengan kayu bakar nya.
__ADS_1
"Masa sih? Bohong banget!" Sahut tajudin tak percaya.
"Nggak percaya yaa sudah! Apa yang aku ucapkan tidak bohong seperti kamu!" Ucap alika membuat tajudin skakmat.
Tajudin terdiam setelah mendengar ucapan alika yang sedikit membuat nya tanpa bisa menjawabnya. Setelah berbincang bincang akhirnya singkong sudah matang dan alika memakan nya tanpa menawari tajudin dihadapan nya dan menghabiskan semua singkong yang sudah habis dimakan sendiri.
"Kamu tidak menawari aku untuk makan singkong dek?" Tanya tajudin yang melihat alika dengan lahap tanpa memandang dirinya.
"Kamu makan setiap hari apa menawari aku makan? Sudah tahu kan aku tidak makan nasi bubur ibu mu? Dan sudah tahu kan aku tidak makan lauk jantung pisang yang aku tidak suka! Apa kamu berinisiatif membelikan aku sayuran untuk lauk makan ku? Aku lapar atau tidak apa kamu menanyakan nya? Kamu makan hanya untuk perutmu sendiri, tidak memikirkan istri yang sedang hamil anaknya kelaparan atau tidak!" Jawab alika menohok dengan panjang lebar membuat tajudin mengatupkan bibirnya tak ingin banyak bicara lagi pada alika.
Setelah mengatakan itu alika melirik sinis dan bangkit dari hadapan tajudin menaruh piring yang sudah kosong didapur dan kembali melangkah menuju kamar nya lalu merebahkan dirinya diatas kasur. Langkah alika masuk ke kamar nya di ikuti oleh tajudin di belakang nya. Alika kembali mengunci bibirnya tak banyak bicara pada suaminya jika tajudin tidak mengatakan atau menanyakan sesuatu pada alika. Tajudin akhirnya ikut berbaring di atas kasur nya dengan terlentang dan sesekali melirik ke arah alika.
"Alika! Aku ingin." Ucap tajudin menengok ke arah alika yang terlihat punggung nya saja.
"Sudah hampir dua minggu aku tidak mendapatkan nya. Apa kamu tega aku menahan nya?" Ujar tajudin merayu alika dengan posisi masih terlentang.
"Sudah hampir satu bulan aku juga tidak mendapatkan uang darimu. Dan kamu juga tega membuatku menahan lapar setiap harinya! Tapi aku diam saja tidak banyak protes!" Jawab alika yang lagi-lagi membuat tajudin skakmat.
"Tapi.." Ucapan tajudin tak bisa dilanjutkan karena alika sudah memotong nya lebih dulu.
"Sudah diam! Aku mau tidur. Jangan berisik!" Kesal alika masih dengan posisinya memunggungi suaminya.
Akhirnya tajudin terdiam dan tak banyak bicara. Alika semakin kesini semakin berani menjawab ucapan tajudin. Alika sudah tidak peduli tajudin akan marah atau kasar padanya. Karena jika itu terjadi bisa untuk dijadikan bukti kekerasan dalam rumah tangga dan dirinya akan langsung menceraikan suaminya.
__ADS_1
Kini kandungan alika sudah memasuki bulan ke enam. Perut alika semakin membesar bahkan banyak yang bilang alika sedang hamil anak kembar. Karena alika tidak pernah memeriksakan nya pada bidan karena tak punya uang dirinya selalu berdoa semoga anaknya baik-baik saja tanpa ada cacat sedikitpun. Namun hari ini adalah hari yang bahagia untuk alika karena wardiyo dan tareni sang kakak ipar telah kembali pulang dan kembali harmonis seperti dulu.
"Assalamualaikum!" Ucap Wardiyo dan tareni bersamaan dari luar menuju rumahnya.
"Waalaikumsalam!" Sahut alika dari dapur melangkah keluar menghampiri seseorang yang datang."Kak diyo! Kak reni!" Ucap alika antusias menyalami mereka berdua dan memeluknya sebagai seorang adik.
"Alika! Maafin kakak yaa? Maaf kakak udah pernah salah paham sama kamu!" Ucap reni yang sudah melepaskan pelukan nya.
"Tidak apa-apa kak. Alika mengerti kok!" Jawab alika dengan senyum lebar nya."Waaah aku jadi punya temen dong dirumah nggak sendirian lagi!" Ujar lagi alika merasa bahagia karena sudah ada wardiyo.
"Kok sepi? Pada kemana alika?" Tanya Tareni celingukan mencari keberadaan mertuanya.
"Yaa begitulah! Sejak aku sendirian dirumah ini tak ada yang mau menemaniku dirumah. Ibu setiap hari pergi ke kebun. Bapak setiap hari ke sawah. Suamiku pergi ke kebun kelapa pulang siang lalu pergi lagi mencari kayu! Jadi aku sendirian dirumah!" Curhat alika mencurahkan semuanya pada sang kakak ipar.
"Tidak apa-apa! Aku juga dulu pernah ada diposisi kamu alika. Bahkan aku juga sempat pisah rumah dengan suamiku. Tapi setelah aku melahirkan mertua kita malah berubah menerimaku sebagai menantunya." Sahut tareni menguatkan alika.
"Eh kok jadi meloow begini sih! Kakak mau minum apa? Teh atau apa?" Tanya alika tidak enak hati.
"Sudah kamu duduk saja! Aku bukan tamu alika! Biar nanti suamiku aku yang membuatkan minuman nya." Sahut tareni yang miris melihat keadaan alika sekarang.
Tareni akhirnya bangkit dari duduknya dan menuju dapur untuk membuatkan minuman. Dengan berbincang-bincang bersama alika tareni mencoba untuk masak yang bisa dimakan juga oleh alika. Tareni mengeluarkan rice cooker kecilnya dan memasak nasi yang sesuai seperti lidah alika. Selera tareni dan alika sama tidak suka dengan nasi setengah bubur yang dibuat oleh ibu mertuanya. Alika sedikit bahagia karena sekarang ada yang menemani nya memasak setiap hari dan meminta lauk pada tareni agar dirinya bisa makan nasi setiap harinya.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG