NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
47.PERHIASAN


__ADS_3

"Akan kamu beri nama siapa sayang?" Tanya ema yang sudah menggendong cucu nya.


"Nanti aku pikirkan lagi! Apa mama sudah memberi kabar pada tajudin?" Tanya alika yang masih mengunyah makanan nya.


"DEG"


Ema tidak tau harus menjawab apa mendengar pertanyaan alika mengenai tajudin yang sudah tidak mau peduli lagi pada alika. Ema terdiam dan mengalihkan pembicaraan agar alika tak banyak pikiran karena tingkah suaminya.


"Mama sudah menelfon suami mu, tapi dia tidak mau datang!" Sahut ema tanpa menatap alika hanya fokus menatap bayi yang ia gendong.


"Sudah ku tebak. Dia pasti tidak akan datang!" Gumam alika meletakan piring nya di nakas. "Jangan pernah beri kabar apa-apa lagi pada nya! Aku sudah tidak mau mengemis perhatian padanya!" Kesal alika dan mengambil air putih lalu meminum nya. "Sini mah! Aku ingin menggendong anakku!" Ucap alika merentangkan tangan nya dengan wajah menahan rasa sedih nya.


Ema menghampiri alika dan perlahan memberikan anaknya pada alika. Alika menggendong bayinya yang lucu dan imut seperti dirinya. Alika menatap bayi nya dengan teliti dan mengecup kening lalu hidung nya. Bayi itu menggeliat saat di cium oleh alika yang membuat alika melebarkan senyum nya.


"Anak mama.. Semoga menjadi anak yang Solehah yaa sayang? Jangan pedulikan ayah mu. Buktikan pada nya bahwa kita bisa tanpa dia ya sayang?" Bisik alika pada bayi yang ia gendong dan meneteskan air matanya. "Doakan mama agar kuat dan bisa membesarkan mu tanpa ayahmu!" Bisik alika lagi dan memeluk erat sang bayi.


"Sabar sayang! Allah sedang menyiapkan kebahagiaan yang luar biasa untuk mu nanti!" Ucap ema menguatkan alika yang berjuang sendiri.


"Amiinn..!" Sahut alika memberikan senyum simpulnya.


Alika memberikan asi pertama nya pada bayi nya. Saat pertama kali rasanya perih dan ngilu membuat alika meringis menahan rasa itu. Tapi alika bahagia akhirnya asi yang ia harapkan keluar dengan begitu lancarnya agar alika tidak terlalu memikirkan biaya membeli susu sambung untuk anaknya. Alika ingin anaknya sehat dengan memberi full asi pada anaknya.


***


Tak terasa hari silih berganti sudah lima hari alika berada dirumah sakit dan sudah waktunya pulang. Alika yang bingung melihat wajah ema gelisah mondar mandir tak jelas akhirnya alika menanyakan pada ibunya apa yang membuatnya gelisah sampai mondar mandir tidak karuan.


"Ada apa mah? Kenapa mama seperti setrikaan mondar mandir nggak jelas! Lantai nya udah halus dan nggak kusut mah!" Ucap alika yang pusing melihat ema mondar mandir.


"Mama lagi pusing mikirin biaya rumah sakit untuk kepulangan kamu!" Sahut ema yang khawatir tidak bisa melunasi biaya rumah sakit.


"Memang berapa biaya nya mah?" Tanya alika yang masih tiduran sambil menggendong bayi nya.

__ADS_1


"Semuanya 9 juta 800 ribu alika! Jika kita tidak bisa membayar nya anakmu tidak bisa kita bawa pulang kata pihak rumah sakit!" Ujar ema dengan wajah khawatir.


"Apa mah? 9 juta 800 ribu? Uang dari mana kita bisa membayar nya?" Alika terkejut ternyata biaya melahirkan tidak murah.


Alika dan ema terus memutar otak bagaimana caranya bisa membayar biaya rumah sakit sebanyak itu. Ema dan alika yang tidak bekerja dan tidak mempunyai tabungan hanya mengharapkan belas kasih bagi orang yang mengingatnya. Alika terus berfikir bagaimana caranya agar bisa pulang tanpa meninggalkan anaknya dirumah sakit. Akhirnya setelah berfikir keras alika mengingat perhiasan emas yang ia punya.


"Mah! Alika masih punya kalung cincin dan tindik untuk dijual. Kita bisa mencari sisa biaya nya. Nanti aku akan meminta bantuan sama Om rozak, siapa tau Om rozak mau memberikan sedikit bantuan untuk ku!" Ucap alika yang tak ingin ema berfikir sendirian.


"Baiklah! Dimana kamu menaruh perhiasan mu?" Tanya ema ingin segera menjualnya agar malam nanti biaya nya sudah terkumpul dan bisa pulang.


"Aku menaruh di bawah bajuku. Cari saja disana ada dompet kecil beserta surat-surat nya! Jual saja semuanya!" Titah alika agar lebih ringan dengan biaya sebanyak itu.


Tak berselang lama ema bergegas menyusuri lorong rumah sakit minta antar pada rayan untuk kesana kemari. Ema pulang dan langsung menuju kamar nya dan membuka lemari yang berisi pakaian alika. Ema mencari dan akhirnya menemukan perhiasan yang akan ia jual untuk biaya rumah sakit.


Sedangkan alika mengambil ponsel nya dan menghubungi om nya yang mengurus dirinya sejak kecil selama alika disemarang dulu. Alika menelfon tak memikirkan rasa malu nya demi biaya rumah sakit yang harus dibayar nya. Panggilan pertama tidak tersambung dan setelah panggilan kedua akhirnya alika bernafas lega karena om nya mau menerima panggilan dari nya.


"Hallo Assalamualaikum om!" Ucap alika yang telfon nya sudah diterima.


"Om alika sudah melahirkan!" Sahut alika menghilangkan rasa gugup nya karena alika tidak pernah minta-minta pada saudaranya.


"Alhamdulillah.. Apa jenis kelamin anakmu? Dan dimana kamu sekarang?" Tanya rozak senang mendengar keponakan kesayangan nya sudah memiliki anak.


"Anakku perempuan om.. Aku masih berada dirumah sakit di jalan Kepodang!" Sahut alika masih berusaha menghilangkan gugup nya.


"Yaa.. Nanti om akan kesana melihat anakmu yaa?" Ucap rozak sudah tidak sabar ingin melihat alika.


"Tapi om.. Mmm alika harus pulang hari ini! Tapi alika tidak ada biaya untuk melunasinya. Apa om bisa membantu sedikit untuk tambahan biaya nya? Mama sekarang sedang menjual semua perhiasanku agar aku bisa pulang tapi biaya nya masih kurang banyak om!" Jelas alika panjang lebar dengan jantung berdegup kencang menahan rasa malu nya.


"Oooh.. Baiklah nanti malam om kerumah sakit! Kamu tenang yaa?" Jawab rozak membuat alika merasa sedikit lega.


"Iyaa om alika tunggu yaa?" Ujar alika menghela nafas nya.

__ADS_1


"Iyaa.. Jangan khawatir! Tenang kan pikiranmu!" Jawab rozak lagi. "Yaa sudah om kembali kerja dulu yaa? Assalamualaikum!" Ucap rozak di seberang telfon nya.


"Waalaikumsalam..!" Sahut alika lalu menutup telfon nya.


Alika bernafas lega karena om nya tidak pernah membuat alika kecewa jika alika membutuhkan sesuatu yang mendadak. Rozak adalah anak dari nenek khodijah sepupu ema dari semarang namun tinggal satu kota dengan alika. Rozak adalah seorang guru olahraga di sekolah menengah atas daerah kabupaten namun sayang di usianya yang sudah tua rozak masih belum memiliki anak hingga sekarang. Rozak selalu bahagia jika saudara atau keponakan nya ada yang beruntung bisa memiliki anak tanpa harus berusaha keras seperti dirinya.


***


Setelah ema pontang panting mencari uang untuk biaya rumah sakit kini hari sudah malam dijam 7 malam alika masih saja gelisah karena ema masih juga belum datang menemuinya dirumah sakit. Alika menangis sakit hati pada suaminya karena dia tidak ada rasa tanggung jawab sedikitpun padanya. Setelah menunggu berjam jam akhirnya yang ditunggu pun datang.


"Assalamualaikum..Alika!" Ucap rozak yang baru datang diruangan alika. "Kamu sendirian? Mama mu mana?" Tanya rozak yang melihat alika duduk dikursi disamping ranjang nya menunggu bayinya.


"Mama masih keluar mencari tambahan untuk biaya rumah sakit om!" Jawab alika Sudah menyalami om nya dan istrinya dengan senyum simpulnya.


"Anakmu cantik sekali seperti mu alika!" Ujar rozak mengusap kepala bayi nya. "Apa anakmu boleh untukku? Apa saja yang kamu minta akan om kasih untukmu asal anak mu untukku! Om ingin sekali mempunyai anak, tapi yang maha kuasa belum memberikan nya untuk om! Kamu kan masih bisa hamil lagi dan mempunyai anak lagi!" Jelas rozak panjang lebar terus menatap bayi alika yang lucu.


"Hehehehehe.. Maaf om alika tidak bisa! Alika melahirkan dia empat hari berjuang karena tak mau keluar! Jahitan nya juga belum kering, jadi maaf alika tidak bisa!" Jawab alika sedikit sungkan.


"Yaa tidak perlu menjawab sekarang! Pikirkan dulu saja siapa tau berubah pikiran!" Ucap rozak lagi membuat alika kesal di dalam hatinya.


"Maaf om.. Rasanya aku tidak akan memberikan anakku pada siapapun hanya karena uang! Aku akan terus berusaha membesarkan anakku sendiri dengan tanganku sendiri sampai anakku besar dan menikah nanti!" Sahut alika dengan raut wajah yang sudah berubah kesal.


"Baiklah kalau begitu! Ini om ada sedikit untuk membantu biaya rumah sakit! Maaf jika jumlahnya tidak seperti yang kamu inginkan. Dan ini aku ikhlas memberikan nya untuk kamu. Kamu tidak usah meminjam nya!" Ucap rozak dan menyerahkan amplop putih pada alika.


Alika menerima amplop yang diberi oleh rozak. Dan mengucapkan terimakasih lalu menyalaminya dengan takzim. Dan rozak berpamitan untuk pulang kembali kerumahnya yang diikuti oleh istrinya.


Alika masih merenung sendirian diruangan nya menunggu ema yang masih saja tak kunjung datang menemuinya dirumah sakit. Entah apa yang dilakukan ema diluar sana dari pagi hingga malam sampai rela meninggalkan alika sendirian dirumah sakit.


...****************...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2