NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
33.KESEMPATAN KEDUA


__ADS_3

Dari semua yang dikatakan oleh ema tajudin tak mampu menjawabnya. Senjata makan tuan itulah yang diterima tajudin saat berhadapan dengan sang mertua. Namun walau bagaimana pun sebagai orang tua ema menginginkan rumah tangga anak nya baik-baik saja. Ema banyak memberikan nasehat pada tajudin agar tidak menjadi suami yang lepas tanggung jawab dan tidak menghargai istrinya. Namun ema tak ingin memisahkan tajudin dengan alika. Keputusan rumah tangga alika adalah keputusan nya sendiri tidak dipengaruhi oleh siapapu. Jika alika masih mau memberi kesempatan pada tajudin dan menerima nya kembali ema tak bisa berbuat apa-apa. Ema hanya bisa mendoakan rumah tangga alika hingga ke jannah nya. Namun kembali lagi dengan nasib dan takdir nya yang menentukan hubungan mereka berdua.


"Bagaimana tajudin? Apa tujuan kamu datang kemari? Apa kedatanganmu untuk melepaskan alika? Atau bahkan akan memperbaikinya?" Tanya ema mengintimidasi dengan tatapan tajam nya.


"Tujuanku datang kemari untuk meminta maaf pada ibu dan alika jika memang aku ada salah. Aku ingin memperbaiki hubunganku kedepan nya dengan alika. Itupun jika alika berkenan!" Jawab tajudin dengan nada lembut berusaha menghilangkan emosinya.


"Bagaimana alika? Apa kamu masih mau memberi kesempatan kedua pada suamimu?" Tanya ema pada alika yang sedari tadi hanya menunduk tak bisa berkata.


"Aku belum bisa menjawab sekarang mah!" Jawab alika masih menundukan wajahnya sembari memainkan jarinya.


"Bagaimana tajudin? Apa kamu akan menginap disini? Atau pulang lebih dulu dan kemari lagi minggu depan?" Tanya ema ingin segera menyelesaikan rumah tangga anak menantunya.


"Aku akan menginap malam ini dan bicara dengan alika dari hati ke hati. Agar kita bisa sama-sama memperbaiki kesalahan kita!" Jawab tajudin dengan penuh keyakinan.


"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kalian istirahat dikamar agar lebih rileks setelah bangun tidur. Karena ini sudah jam dua sudah hampir sore!" Titah ema yang sudah mulai pening dengan mereka berdua.


Akhirnya ema bergegas untuk menuju kamar nya istirahat sejenak menenangkan pikiran nya. Alika lebih dulu masuk kamar dan diikuti tajudin di belakang nya. Setelah mereka berdua sudah di dalam kamarnya kedua nya terdiam tanpa ada yang bicara. Alika masih terus menunduk sambil meremas ujung bajunya dengan wajah cemberut masih malas untuk bicara dengan suaminya.


"Alika! Maafin aku. Aku memang salah sudah terlalu keras sama kamu. Mulai sekarang aku janji ingin memperbaiki semuanya." Ujar tajudin memulai pembicaraan.


Alika hanya terdiam tak menjawab ucapan tajudin. Alika masih menundukan wajahnya dengan bibir terkunci.


"Alika! Kamu dengar aku bicara kan?" Tanya tajudin sembari mengusap bahu alika.


"Yaa!" Sahut alika singkat dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Iya yang bagaimana maksud nya?" Tanya tajudin memastikan.


"Kamu mau nya aku jawab apa? Sudah aku jawab iya yaa berarti iyaa!" Ketus alika tanpa menatap tajudin di samping nya.


"Hmm yaa sudah! Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" Tanya tajudin agar tidak selalu salah.


"Maksud kamu gimana?" Tanya alika mendongakan dagunya.


"Apa yang kamu inginkan tentang hubungan kita?" Tanya lagi tajudin mencoba bersabar dengan emosi alika.


"Aku ingin uangmu aku yang memegang nya. Jika kamu ingin memberi untuk ibumu tinggal perintah aku untuk memberinya!" Jawab alika masih fokus dengan pandangan ke bawah.


"Yaa baiklah! Setelah pulang kerumahku nanti aku akan memberikan semua uang hasil jualanku sama kamu! Apa ada lagi?" Tanya tajudin lagi memastikan sudah tidak ada unek-unek dihati alika.


"Jangan protes jika aku masak nasi sendiri dengan caraku sendiri tanpa rice cooker milik ibumu. Dan jangan melarangku untuk berbelanja sayuran di warung. Dan jangan menghalangiku untuk membeli cemilan diwarung untuk mulutku sendiri sekedar menghilangkan rasa mual yang aku rasakan!" Ujar alika panjang lebar menyampaikan apa yang di inginkan nya.


"Aku hanya ingin melahirkan di kota ini dirumah ini di dampingi mamaku sendiri!" Jelas alika sekilas melirik ke arah suaminya.


"Iyaa baiklah. Tidak masalah! Sekarang terserah kamu saja!" Jawab tajudin pasrah."Apa kamu sudah memaafkan aku? Dan apa kamu mau kembali pulang lagi bersamaku?" Tanya tajudin memastikan.


"Iyaa aku beri kamu kesempatan kedua. Jika sampai kamu tidak berubah maka aku tidak akan pernah memaafkan mu selamanya!" Jawab alika dengan tatapan intens pada suaminya.


"Iyaa aku janji!" Ujar tajudin sembari mengusap kepala alika dan mencium pucuk kepala alika dengan lembut.


Kini mereka berdua sudah membicarakan masalah mereka berdua tanpa ada emosi di dalam nya. Alika masih kecewa pada tajudin namun dirinya berusaha untuk berbesar hati memaafkan tajudin dan memberi kesempatan kedua. Alika sebenarnya merasa ragu memberi kesempatan tajudin. Tapi alika berusaha menampik perasaan ragunya untuk menerima kembali tajudin dengan tulus.

__ADS_1


***


Kini sudah dua hari tajudin dirumah alika. Ema sudah memusyawarahkan masalah mereka dengan kepala dingin. Begitu juga dengan alika. Mereka berdua sudah sepakat untuk memperbaiki kesalahan dengan kesempatan kedua. Alika sudah bersiap untuk kembali lagi kerumah suaminya dengan perasaan gelisah. Alika merasakan keraguan yang tinggi namun alika menutupi semua itu dengan beristighfar. Alika berpamitan dengan ema untuk kembali pulang bersama suaminya.


"Mah! Alika pamit yah? Doakan semoga tajudin benar-benar menepati janji nya untuk berubah!" Ucap alika dengan memeluk mamanya erat dan membisikan nya ditelinga ema.


"Insyaallah mama doakan semoga rumah tangga kalian langgeng sampai ke jannah-Nya!" Sahut ema mengusap punggung dan kepala alika.


"Amiin!" Jawab alika yang sudah mulai meneteskan air matanya."Alika pamit ya mah? Jaga diri mama dan jaga kesehatan!" Ucap alika dengan diakhiri senyum simpulnya.


"Iyaa sayang! Hati-hati yaa? Jangan terlalu capek! Ingat kata dokter! Kamu harus banyak istirahat!" Ujar ema memperingati anaknya.


"Iyaa mah!" Jawab alika dengan menganggukan kepalanya.


"Aku pamit mah!" Ucap tajudin menyalami ema dengan lembut.


"Ingat ya tajudin! Alika tidak boleh capek! Karena kandungan nya sedikit terganggu karena dia terlalu lelah!" Ucap ema mengintimidasi.


"Iyaa mah! Aku pamit. Assalamualaikum!" Ucap tajudin dan membalikan badan nya sembari menyeret koper alika menuju taxi online yang sudah dipesan.


"Assalamualaikum mah! Dah maah!" Ucap alika melambaikan tangan nya pada ema dengan derai air matanya yang sudah tidak bisa ia tahan sejak tadi.


Ema membalas lambaian tangan alika hingga alika tak terlihat lagi dari matanya. Ema selalu berdoa dalam hatinya agar alika selalu diberi kekuatan dan diberi segala kebahagiaan yang berlimpah dan dilindungi dari segala mara bahaya. Alika terus menangis di dalam mobilnya tanpa menoleh ke arah suaminya. Alika menyandarkan kepalanya di kursi penumpang dan melihat arah jendela dengan pikiran yang melayang memikirkan akan masa depan nya dengan tajudin jika tajudin tidak menepati janjinya bahwa dirinya harus siap menjadi seorang janda yang mempunyai satu anak dari buah pernikahan nya dengan tajudin.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2