
Kini saatnya tiba dipagi hari yang cerah namun sang penghuni rumah masih setia di dalam mimpi indahnya. Alika masih enggan untuk membuka matanya yang terasa berat karena habis menangis semalaman karena ulah tajudin. Ema yang baru saja bangun mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. Ema langsung beranjak dari kasurnya menuju cermin ingin merapikan penampilan nya agar tidak berantakan. Setelah yakin dirinya sudah rapi ema langsung bergegas keruang tamu untuk membukakan pintu rumahnya yang diketuk sedari tadi. Ema yang melihat tajudin datang tak kuasa menahan ocehan nya yang panjang seperti tali tambang.
"Astaghfirullahal'adzim tajudin! Kamu ini kemana saja? Jangan membuat istrimu selalu meneteskan airmata setiap hari hanya karena kelakuanmu!" Ujar ema menatap tajudin dengan mata tajamnya.
"Aku hanya ingin menenangkan diri saja diluar bu!" Jawab tajudin tanpa rasa bersalah sambil melangkahkan kakinya masuk.
"Hmm. Kamu tahu? Alika semalaman menunggu kamu sampai ketiduran disofa! Apa kamu tidak mempunyai rasa iba sedikitpun!" Ujar ema mendengkus kesal yang melihat menantunya berjalan santai meninggalkan dirinya yang masih bicara.
Tajudin yang meninggalkan ema dengan ocehan panjangnya hanya geleng-geleng kepalanya sambil melangkah menuju kamarnya. Namun ema yang melihat tingkah menantunya itu mendengkus kesal dan meninggalkan nya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tajudin membuka kamarnya dengan perlahan karena takut mengganggu alika yang masih tidur. Tajudin melihat mata alika sembab dan bengkak, dirinya merasa bersalah sudah membuat alika sakit hati karena kelakuan nya. Tajudin duduk di tepi ranjang melihat alika yang masih terlelap dengan damai.
"Kamu itu cantik alika! Aku dulu sangat terobsesi ingin memilikimu seutuhnya! Tapi setelah menikah malah kamu menolak ku untuk aku tiduri! Dalam hal ini memang aku yang bersalah. Tapi aku tahu kamu tidak mencintaiku! Sebenarnya siapa pria yang beruntung mendapatkan hatimu alika?" Gumam tajudin dalam hati dengan menatap wajah alika lekat tanpa berkedip.
Tajudin terus membelai lembut kepala alika hingga alika merasa terusik karena ulah tajudin yang mengganggunya. Alika mengedip-ngedipkan matanya untuk menetralkan matanya yang begitu berat karena habis menangis semalaman. Alika yang melihat tajudin sudah berada disampingnya sambil tersenyum simpul menatap alika.
"Kamu sudah pulang? Kemana saja kamu semalam?" Tanya alika dengan suara seraknya seraya bangun dari tidurnya untuk duduk menyandarkan dirinya.
"Maaf! Aku hanya ingin menenangkan diri saja!" Jawab tajudin yang masih menatap alika tanpa berkedip.
"Oooh. Apa kamu sudah makan?" Tanya alika yang sedikit khawatir karena semalam saat tajudin pergi belum mengisi perutnya.
"Belum! Tapi aku tidak lapar!" Sahut tajudin menundukan kepalanya sembari menggelengkan nya dan memainkan jarinya dengan memutar-mutar nya dikasur.
__ADS_1
"Hmm. Sebenarnya kamu itu sakit atau bagaimana sih? Terkadang dia lembut, terkadang dia kasar, bahkan selalu teriak jika bicara! Apa aku menikahi pria depresi?" Gumam alika dalam hati sambil menatap tajudin yang berada disampingnya."Apa kamu mau aku buatkan teh hangat?" Tanya alika yang merasa iba menatap suaminya dengan kondisi yang lemah.
"Apa kamu bisa membuat teh?" Ucap tajudin balik bertanya pada alika dengan tatapan heran sambil memicingkan kedua alisnya.
"Aku sebenarnya bisa melakukan semuanya! Bahkan memasak untuk kamu pun aku bisa! Tapi aku tidak tahu harus masak apa dirumahmu karena tidak ada bahan yang harus dimasak!" Ujar alika menjelaskan pada tajudin tentang dirinya dengan ekspresi biasa saja.l
"Alika! Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Tanya tajudin dengan ekspresi serius.
"Boleh. Silahkan tanyakan apa yang ingin kamu tahu dariku?" Tanya alika dengan nada welcome dan ingin menjalin hubungan dengan suaminya lebih baik lagi.
"Apa kamu mencintaiku? Atau masih ada seseorang yang berada dihatimu?" Tanya tajudin dengan tatapan intens menatap alika dihadapan nya.
"Kenapa kamu menanyakan itu?" Sahut alika gugup dan bingung tidak tahu harus menjawab apa.
"Maaf! Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu!" Sahut alika dan langsung beranjak dari kasurnya menuju pintu kamar namun tangan nya ditahan oleh tajudin.
"Aku mohon alika! Jangan seperti ini. Aku sangat mencintaimu dengan tulus! Jangan siksa aku karena itu!" Ujar tajudin yang sudah berdiri dan melepaskan tangan alika lalu memeluknya dari belakang.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu tentang ini? Aku juga sebagai wanita tidak ingin tahu tentang masa lalu kamu seperti apa! Yang aku tahu kamu adalah suamiku sekarang. Hanya itu!" Sahut alika panjang lebar dan tak ingin membahas masa lalunya pada tajudin dengan posisi tajudin masih memeluknya dari belakang.
"Aku hanya ingin tahu saja pria yang beruntung mendapatkan hatimu dan bagaimana caranya untuk mendapatkan hatimu!" Ujar tajudin yang sudah sangat terobsesi dengan alika.
__ADS_1
"Aku masih mencintai mantan kekasihku! Sudah satu tahun aku berusaha melupakan nya. Tapi rasanya susah sekali untuk melupakan nya." Sahut alika tanpa menatap wajah suaminya yang memeluknya dari belakang.
"Bagaimana caranya dia bisa mendapatkan hatimu?" Tanya tajudin dengan nada penasaran.
"Dia mendapatkan hatiku karena sikapnya yang lembut. Selalu mengerti yang aku inginkan dan memahami aku disaat aku sedang tidak mood!" Jelas alika panjang lebar dan melepaskan tangan tajudin yang memeluk perut alika dengan erat.
Tanpa menoleh alika langsung berjalan keluar dari kamarnya. Alika melangkah menuju kamar mandi dan ingin membersihkan diri tanpa mandi. Alika menatap wajahnya dicermin yang ada dihadapan nya. Dan dia terkejut melihat matanya yang bengkak karena menangis semalaman. Alika menyentuh matanya dengan lembut dan kembali mengeluarkan air matanya. Alika kembali menangis setelah melihat tajudin bersikap lembut padanya. Alika tidak tahu karena apa tajudin tiba-tiba bersikap lembut seperti tadi. Alika hanya menduga-duga dengan pikiran nya sendiri tanpa berfikir negatif. Setelah membersihkan wajahnya alika kembali keluar dari kamar mandi dan mencari mama nya entah dimana. Alika terus memanggil mamanya dengan menoleh kesana kemari dengan langkah sedikit cepat. Alika juga membuka kamar ema tapi masih tidak melihat ema dikamarnya. Hingga langkah alika menuju keluar rumah dan melihat halaman rumahnya clingukan mencari mamanya. Setelah mencarinya alika bernafas lega karena ema sedang membersihkan halaman rumahnya dan menyirami tanaman peninggalan kakek nenek alika.
"Mah! Aku cari-cari kesana kemari ternyata mama ada disini?" Ujar alika sambil melangkah mendekati ema.
"Ooh ini. Mama kan setiap pagi selalu membersihkan halaman dan menyirami tanaman kakek nenekmu!" Sahut ema masih sibuk menyirami tanaman nya.
"Mama sudah sarapan?" Tanya alika sambil membantu ema membersihkan dedaunan yang berjatuhan.
"Mama sudah sarapan tadi. Kamu sudah sarapan? Jika belum itu ada tempe mendoan untuk lauk sarapan pagi ini. Mama mencari telur diwarung habis semua. Jadi mama membuat tempe mendoan sisa tempe kemarin masih enak untuk dimakan!" Ucap ema panjang lebar sembari menata anak rambut alika yang berantakan.
"Yaa nanti alika makan jika sudah lapar!" Sahut alika dengan senyum simpul dan kembali berjongkok memungut dedaunan yang berjatuhan.
"Apa kamu masih bertengkar dengan suami mu?" Tanya ema penasaran yang melihat wajah alika sedikit suram.
"Nggak mah! Dia sudah minta maaf pada alika. Sikapnya juga lembut, tidak seperti semalam saat dirinya berteriak!" Jelas alika menutupi keburukan suaminya demi kebaikan hubungan nya dengan tajudin tanpa campur tangan ibunya.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG