NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
23.MASIH KRITIS


__ADS_3

Doni sudah sampai dirumah nya dan langsung berbicara pada kakak nya agar mau menolong alika hari ini juga karena jika tidak maka nyawa alika tidak akan tertolong. Dibalik doni yang sedang sibuk membujuk sang kakak, dirumah tajudin terjadi sesuatu. Banyak kerumunan warga disana melihat keadaan tajudin dan banyak yang bertanya tentang kondisi alika. Dariyah ibu dari tajudin juga sudah berada dirumah nya karena di panggil oleh tetangga nya saat masih di sawah. Dariyah terus mondar-mandir membujuk tajudin untuk bercerita pada nya, namun tajudin tetap terdiam tak mau bicara. Para tetangga terutama ibu-ibu masih mendampingi tajudin yang masih terdiam karena syok dengan kejadian hari ini.


***


Kini doni berhasil membujuk sang kakak untuk mendonorkan darah nya pada alika. Doni langsung tancap gas menuju rumah sakit yang merawat keadaan alika. Tak lama doni melakukan perjalanan akhirnya mereka berdua telah sampai dirumah sakit. Dengan berlari kecil doni dan kakak nya tergesa-gesa takut keadaan alika semakin memburuk."


"Diyo! Ini mbak resma. Dia mau mendonorkan darah nya untuk alika!" Ujar doni dengan nafas yang tersengal-sengal yang sudah ada dihadapan wardiyo.


"Alhamdulillah. Mbak resma terimakasih banyak yah sudah mau mendonorkan darah nya. Jika tidak, entahlah apa yang akan terjadi pada alika." Ucap wardiyo dengan senyum lebar dibibirnya.


"Sama-sama yo. Dimana ruangan alika? Lalu dimana aku harus mendonorkan darahku padanya?" Tanya resma dengan menoleh kesana kemari mencari ruangan untuk mendonorkan darahnya.


"Kita keruangan dokter yang menangani alika mbak! Ruangan nya ada disana. Ayo kita kesana!" Ajak wardiyo antusias merasa lega."Don! Kamu tungguin alika disini ya? Kalau ada apa-apa hubungi aku!" Ucap wardiyo meminta tolong pada doni.


"Oke beres! Sudah sana buruan keburu dokter nya pulang!" Titah doni menyuruh kakak dan sahabatnya segera melakukan apa yang harus dilakukan.


Kini wardiyo dan resma berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan dokter yang menangani alika. Dengan langkah cepat tegas dan pasti wardiyo bersemangat demi sang adik ipar yang di pujanya selama ini. Setelah sampai wardiyo mengetuk pintu ruangan dokter yang bernama Juwita itu.


"Tok! Tok! Tok!"


"Permisi.." Ucap wardiyo mengetuk pintu ruangan itu.


"Yaa silahkan masuk!" Sahut dokter juwita dari dalam ruangan nya.


"Maaf dok saya mengganggu. Ini saya mau memberitahu bahwa ada yang ingin mendonorkan darah nya untuk alika." Ujar wardiyo yang masih berdiri di dalam ruangan itu bersama resma.


"Oooh baik. Silahkan duduk!" Titah dokter juwita menyuruh keduanya untuk duduk dihadapan meja nya."Maaf ibu dengan nama siapa?" Tanya dokter juwita dengan ramah.


"Nama saya resma dok." Jawab resma dengan tegas.

__ADS_1


"Baik ibu resma silahkan isi formulir ini dan tanda tangani ya.?" Ucap dokter juwita sembari menyerahkan selembar kertas pada resma.


Resma mengisi formulir tersebut dengan teliti tanpa celah. Sedangkan dokter juwita sambil menunggu formulir terisi mengajak wardiyo mengobrol tentang alika dan kronologis alika seperti apa kenapa bisa sampai seperti ini. Tak berselang lama resma sudah selesai mengisi formulir dan di ajak dokter juwita keruangan laboratorium untuk pengambilan darah. Selama resma berada di laboratorium wardiyo kembali menghampiri ruang darurat dan menunggu nya diruang tunggu bersama doni. Disaat sedang mengobrol tiba-tiba handphone wardiyo berbunyi."


"Triing! Tring!"


"Ya assalamualaikum." Ucap wardiyo yang sudah mengangkat telfon nya.


"Waalaikumsalam! Kamu dimana?" Tanya seseorang diseberang telfon yang tak lain adalah dariyah sang ibu.


"Aku masih dirumah sakit bu! Ada apa?" Jawab wardiyo dan menanyakan maksud ibu nya telfon.


"Bagaimana kabar nya alika? Apa dia baik-baik saja?" Tanya dariyah yang ikut cemas dengan keadaan menantu nya meski sangat membencinya.


"Alika masih kritis. Dia masih membutuhkan banyak darah. Dan alhamdulillah mbak resma mau mendonorkan darah nya untuk alika untuk dua kantong darah. Tapi alika belum sadar karena masih kritis bu!" Jawab wardiyo menjelaskan panjang lebar pada ibunya.


"Masih kurang tiga kantong untuk stok darurat jika alika kembali kritis. Karena darah alika sangat sulit dicari bu!" Sahut wardiyo memberitahu ibunya sembari mondar mandir kesana kemari.


"Memang nya darah apa yang dibutuhkan alika?" Tanya dariyah agar mencarikan pendonor dikampung nya.


"Darah nya O rhesus negatif bu!" Jelas wardiyo agar dariyah sang ibu bisa memberikan solusinya.


"Baiklah kamu tenang saja disitu. Ibu akan mencari orang satu desa agar bisa mendonorkan darah untuk alika agar dia cepat sadar." Ujar dariyah ingin menantunya segera sadar.


"Iya bu. Kalau bisa segera ya bu? Sebab diharuskan hari ini darahnya sudah terkumpul. Karena jika sampai besok darah tidak terkumpul maka nyawa yang jadi taruhan nya!" Jelas wardiyo panjang lebar menjelaskan secara detail kepada ibunya dengan maksud agar dariyah sang ibu tidak membenci alika lagi.


"Yaa sudah ibu akan mencari orang sekarang! Ibu tutup telfon nya yaa? Assalamualaikum!" Ucap dariyah membuat wardiyo sedikit lega.


"Ya bu waalaikumsalam!" Sahut wardiyo dari sebrang telfon dan mematikan nya.

__ADS_1


Wardiyo lega karena sang ibu mau membantu mengusahakan darah untuk alika agar alika kembali sadar dari kritis nya. Saat wardiyo akan duduk diruang tunggu dirinya kembali di panggil oleh dokter.


"Bapak wardiyo!" Panggil suster yang bertugas disana.


"Yaa saya sus. Ada apa?" Tanya wardiyo bergegas menghampiri suster yang memanggilnya.


"Bapak dipanggil oleh dokter. Silahkan masuk pak!" Titah suster mempersilahkan wardiyo untuk masuk keruang darurat.


"Don sebentar ya? Aku ke dalam dulu!" Ucap wardiyo pada doni yang masih setia menemani sahabatnya.


"Iya santai aja bro!" Sahut doni dan kembali bermain game di handphone nya untuk menghilangkan rasa jenuh nya.


Wardiyo akhirnya masuk keruang darurat dimana tempat alika berbaring yang masih tak sadarkan diri. Wardiyo hati nya teriris melihat kondisi alika yang masih menutup matanya. Wardiyo ingin alika segera sadar dan kembali mengajaknya menonton film horor kesukaan alika. Namun disaat wardiyo melamun melihat alika diatas kasur nya dirinya dikejutkan dengan panggilan sang dokter yang berada diruangan alika.


"Pak wardiyo!" Panggil dokter juwita dengan menepuk bahu wardiyo karena tak menyahut saat di panggil beberapa kali.


"Ah iya dok! Maaf saya.." Jawab wardiyo tak bisa melanjutkan ucapan nya dan mengusap air matanya.


"Mari pak. Saya mau bicara sebentar!" Titah dokter juwita mengajak nya duduk di hadapan nya.


"Ada apa dok?" Tanya wardiyo yang sudah duduk disofa bersama dokter.


"Begini. Ehem..ehem..! Jadi begini.. Alhamdulillah kantong darah sudah lengkap tinggal di observasi agar kuman di dalam darah tersebut bersih. Namun disisi lain kita juga harus bersyukur kepada tuhan telah membuat pasien sudah terbebas dari masa kritisnya. Kondisi pasien sudah stabil berkat doa dan usaha bapak yang selalu setia menemaninya. Namun saya tekan kan sekali lagi pak. Pasien tidak boleh berhubungan badan selama enam bulan dan harus betres tidak boleh melakukan apapun selain ke kamar mandi. Maka dari itu pasien juga masih harus dirawat selama enam bulan. Semua tergantung dari kondisi tubuh pasien. Jika memang keadaan pasien sebelum enam bulan sudah membaik dan diperbolehkan pulang maka pasien akan pulang. Tapi harus tetap kontrol dua minggu sekali untuk memeriksa kondisi kelamin nya yang parah!" Jelas dokter juwita panjang lebar menjelaskan dengan detail jelas padat dan akurat.


"Oooh alhamdulillah yaa Allah. Alika! Akhirnya kamu stabil juga." Sahut wardiyo setelah mendengar penjelasan sang dokter. "Terimakasih dok atas penanganan nya pada alika. Saya sangat lega sekali mendengar nya." Ucap wardiyo bersyukur dengan kondisi alika.


...****************...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2