NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
30.ADA APA DENGAN ANAKKU?


__ADS_3

"Maafkan aku! Aku pergi dari hidupmu! Karena aku sudah tidak sanggup lagi hidup bersamamu! Maaf jika aku pergi tanpa pesan. Karena jika aku berpesan kau akan kembali menyiksaku tanpa ampunan darimu!" Gumam alika dalam hati sambil menatap pemandangan di samping jendela dengan tetesan airmata nya tanpa henti.


Tak terasa dalam perjalanan panjangnya kini alika sudah sampai dikota X. Alika turun dari bus diterminal kota X. Perut alika sudah mulai membuncit dengan usia kandungan empat bulan. Alika menghirup udara kebebasan dengan perasaan damai. Tanpa pikir panjang alika mencari angkutan umum untuk sampai dirumah nya.


"Pak! Jalan cendrawasih yaa?" Ujar alika pada supir angkutan dengan ramah.


"Iya mba." Sahut supir angkutan antusias.


Settelah menunggu penumpang penuh akhirnya angkutan jalan dengan kecepatan sedang. Alika sudah tidak sabar sampai dirumah nya. Alika merasa kecewa yang teramat dalam pada suami dan keluarganya. Hanya kesalahan kecil di awal pernikahan tak membalas pemberian yang mewah pada keluarga tajudin mereka seenaknya saja menindas dan memaki alika layaknya binatang. Mungkin jika tidak mengandung mungkin alika sudah menceraikan nya satu bulan yang lalu. Tak berselang lama alika sudah sampai di ujung gang dekat rumah nya. Alika berjalan menyusuri gang sambil menyeret koper nya menuju rumahnya. Sesampai nya dirumah alika mengetuk pintu rumah nya karena gerbang tidak dikunci.


"Tok! Tok! Tok!"


"Assalamualaikum.. Maaah!" Panggil alika namun tak ada jawaban.


Alika mencoba membuka pintu rumahnya dan ternyata juga tidak dikunci. Alika langsung saja masuk ke dalam rumahnya dengan langkah perlahan dan mencoba untuk duduk di sofa ruang tamu. Dengan nafas yang tak beraturan alika ingin istirahat sejenak setelah perjalanan panjang nya.


"Alhamdulillah yaa Allah. Akhirnya aku sampai juga dirumah ini lagi." Bisik alika pada diri sendiri."Kemana mama? Kenapa rumahnya sepi? Dan pintu nya juga tidak dikunci!" Ucap alika bertanya pada diri sendiri.


Setelah beristirahat sejenak akhirnya alika mencoba untuk masuk dengan menyeret kopernya yang sedikit berat. Dengan langkah perlahan alika menuju kamar ema yang juga ia tempati bersama.


"Ceklek!"


"Mah! Mama tidur?" Ujar alika masih menyeret kopernya.


Ema masih tidak menyadari alika pulang. Ema masih pulas dengan tidurnya.


"Mah! Mah! Bangun mah!" Panggil alika membangunkan ema.

__ADS_1


Ema yang merasa ada suara alika langsung terkejut dan bangkit dari tidurnya.


"Alika! Kapan pulang nak?" Tanya ema masih tidak percaya.


"Aku baru saja sampai mah! Mama apa kabar? Mama sehat kan?" Tanya alika berusaha menahan tangis nya agar tidak pecah.


"Alhamdulillah mama baik. Kamu pulang dengan siapa? Tajudin?" Tanya ema dengan wajah bingung melihat koper alika.


"Aku pulang sendirian mah!" Jawab alika tetap berusaha menahan kesedihan nya."Kenapa pintu tidak dikunci mah? Memang nya mama tidur jam berapa?" Tanya alika mengalihkan pembicaraan.


"Ooh mungkin zaki pergi main bersama teman nya. Jadi hanya ditutup saja pintunya." Jawab ema beranjak dari kasurnya."Kamu sudah makan? Apa mau minum teh?" Tanya ema menggandeng tangan alika untuk duduk diruang keluarga.


"Iyaa mah. Aku ingin minum teh buatan mama!" Jawab alika yang merindukan ibunya.


"Baiklah mama ke kamar mandi dulu yaa? Kamu duduk dulu disana!" Titah ema dan kemudian beranjak menuju kamar mandi.


"Ada apa dengan anakku? Kenapa dia kurus sekali? Dia semakin hitam tak terawat. Apakah dia tidak bahagia hidup dengan suaminya?" Gumam ema dalam hati memikirkan keadaan alika.


Tak berselang lama ema akhirnya keluar dari kamar mandi dan akhirnya membuatkan teh untuk alika. Ema membuat dua teh hangat untuk dirinya juga. Ema menaruh nya di karpet permadani diruang keluarga. Ema bersandar di dinding menghadap televisi. Dan alika bersandar di dinding menghadap ema dengan kepala yang menoleh ke kiri untuk menonton televisi. Ema menatap tubuh alika lekat tanpa celah. Ema menatap dari kepala hingga kaki alika dirinya menjadi penuh dengan segala pertanyaan.


"Di minum teh nya alika!" Ujar ema yang melihat alika melamun namun dengan mata yang menonton televisi.


"Ah iya mah! Sudah jadi teh nya? Kenapa mama tidak bilang?" sahut alika sedikit canggung dengan kepulangan nya saat ini. Alika takut ema menghujani banyak pertanyaan yang membuat alika tidak bisa menjawabnya.


"Alika! Kamu pulang sendirian dari sana?" Tanya ema memulai pembicaraan tentang dirinya.


"Iya mah. Aku pulang naik bus ompreng sendirian!" jawab alika berusaha untuk tetap tenang.

__ADS_1


"Kemana suami mu? Kenapa dia tidak mengantarmu pulang?" Tanya ema dengan nada menyelidik.


"Dia..di-dia sedang sibuk dengan pekerjaan nya mah!" Sahut alika mulai gugup.


"Memang nya sesibuk apa sampai dia membiarkan istrinya pulang sendirian? Dimana tanggung jawab nya sebagai suami?" Tanya ema mulai menekan alika.


"Mm itu mah..anu..!" Alika tak mampu menjawab pertanyaan ibunya.


"Itu anu ini itu! Jawab alika? Ada apa sebenarnya? Jujur sama mama!" Ujar ema dengan nada penekanan.


"Aku pulang tanpa berpamitan pada siapapun mah! Aku kabur dari rumah dia!" Jawab alika dengan air mata yang mulai mengalir.


"Kenapa? Kenapa kamu harus kabur dari rumah suamimu tanpa pamit?" Ujar ema dengan lantang."Apa kamu tidak tahu ajaran agama? Seorang istri yang pergi tanpa ijin dari suami nya maka langkah nya akan dilaknat oleh Allah sampai suaminya memaafkan nya!" Jelas ema menasehati alika dengan tegas nya.


"Dengar dulu penjelasan alika mah! Alika melakukan ini semua ada alasan nya! Alika tahu semua dan mengingat apa yang mama ajarkan pada alika! Alika paham! Tapi alika mohon dengar dulu penjelasan alika!" Jawab alika tak mau disalahkan di posisi nya saat ini.


"Lalu? Apa yang sedang kamu alami? Ceritakan sekarang!" Ujar ema dengan menatap secara intens pada alika.


"Alika disana diperlakukan seperti budak mah! Alika bahkan tak pernah makan nasi walau satu suap. Hanya singkong dan sayuran yang alika makan setiap hari tanpa nasi. Sedangkan alika sedang hamil sekarang! Apa mama tahu. Tajudin meminta haknya secara paksa hingga alika terinfeksi kelamin bahkan dia melakukan nya dengan kasar hingga tujuh kali dalam semalam. Sampai-sampai kelamin alika membengkak dan pendarahan hingga membutuhkan lima kantong pendonor darah hari itu juga! Batin alika tersiksa mah! Alika sakit. Jangan sampai alika sakit jiwa hanya karena pria seperti dia!" Ujar alika menangis sesenggukan dihadapan ibunya.


"Astaghfirullahal'adzim! Beraninya dia menyiksa batin anakku." Sahut ema dengan wajah merah padam menahan emosinya."Tapi tadi kamu bilang dia sibuk dengan pekerjaan nya? Berarti dia kan bekerja? Lalu kenapa dia tak pernah memberimu makan?" Tanya ema yang merasa heran.


"Yaa dia memang bekerja dari pagi hingga malam. Tapi semua uangnya dia serahkan pada ibu nya. Dan ibunya yang memberiku uang dua puluh ribu untuk satu minggu! Apa tidak gila pikiran mereka semua?" Kesal alika menumpahkan segala isi hatinya pada sang ibu dengan tangisan yang semakin menjadi.


...****************...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2