NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
18. AKU BISA MASAK


__ADS_3

"Bangun! Sudah siang! Tidur jam berapa kamu semalam? Sampai jam segini belum juga bangun!" Pekik dariyah sang ibu melihat anaknya masih tidur di jam delapan pagi.


"Sssttt! Jangan teriak-teriak bu. Nanti alika bangun! Sahut tajudin sembari menutup pintunya dengan ekspresi panik karena takut istrinya akan terbangun.


"Appah! Takut istri kamu bangun kamu bilang? Lihat! Ini sudah jam berapa? Bangunkan istrimu! Ajarkan dia jangan jadi pemalas!" Teriak dariyah dihadapan tajudin dan kemudian melangkah pergi ke dapur dengan perasaan kesalnya.


Tajudin hanya menghela nafasnya kasar mendengar omelan dari ibunya. Tajudin kembali masuk ke kamarnya untuk membangunkan alika sesuai perintah ibunya. Tajudin ingin mengajarkan alika memasak. Agar jika nanti penghuni rumah tidak ada, dia bisa mengurus dirinya sendiri dengan cara nya sendiri.


"Alika! Alika bangun. Alikaa!" Bisik tajudin membangunkan alika dengan lembut.


"Ada apa kak?" Sahut alika dengan suara serak nya seraya merentangkan tangan dan tubuhnya yang terasa pegal.


"Bangun. Ini sudah siang! Ibu menyuruhmu bangun!" Ujar tajudin yang masih duduk disebelah alika.


"Hah! Ibu menyuruhku bangun? Memang nya ada apa? Apa salahku?" Tanya alika terkejut dan langsung bangkit duduk disebelah tajudin.


"Kamu tuh! Kalau tanya tuh satu-satu. Jangan beruntun kayak kereta api!" Sahut tajudin dengan nada meledek."Ibu tidak akan memarahi kamu. Kamu tidak salah apa-apa. Ibu cuma ingin kamu bangun pagi seperti yang lain nya. Itu saja," Ujar tajudin memberi penjelasan pada alika agar tidak takut menghadapi orangtua nya."Ayo bangun! Kita mandi junub dulu agar tubuh kita suci!" Titah tajudin mengusap kepala alika.


Alika yang hanya menjawab dengan anggukan mengikuti langkah tajudin dibelakang nya menuju kamar mandi dan mandi bersama. Alika menggunakan kain penutup untuk mandi bersama suaminya karena pintu kamar mnadi yang tidak menggunakan dinding melainkan hanya pagar pembatas saja. Setelah selesai dengan ritual mandinya alika berganti menggunakan handuk kimono nya agar seluruh tubuhnya tertutup agar tak menjadi tatapan nakal para kakak tajudin yang sedang berkumpul dirumah itu. Kakak tajudin yang bernama wardiyo masih berada dirumah itu. Dan tugiyo yang mendapatkan istri satu desa tinggal dirumah orang tua sang istri. Tugiyo datang kerumah ibunya hanya satu minggu dua kali sekedar menengok dan berkumpul bersama dari pagi hingga sore hari. Mereka semua berkumpul di dapur. Alika dan tajudin baru bergabung dengan mereka setelah selesai beeganti pakain. Setelah alika sudah mulai bergabung, darun ayah tajudin yang melihat alika bergabung dirinya memilih pergi ke kebun karena tak ingin melihat menantu kota nya itu.


"Mau kemana pak?" Tanya wardiyo yang duduk dilantai beralaskan tikar.


"Mau ke kebun! Malas dirumah udaranya semakin panas seperti udara dikota!" Sahut darun sembari mengambil alat tajam nya untuk mencari kayu bakar dikebun.

__ADS_1


Alika yang paham dirinya disindir hanya diam menunduk tak ingin bicara apapun takut salah bicara. Semuanya yang tahu jawaban sang bapak adalah menyindir alika hanya terdiam dan semuanya melirik ke arah alika.


"Alika! Gabung sini. Jangan berdiri disitu!" Ujar wardiyo mencairkan suasana dengan senyum lebarnya.


"Iya kak!" Sahut alika sembari melangkah mendekati wardiyo dan duduk disebelahnya.


"Hahahaha! Kakang ojo njiot kesempatan maraning bocah ayu! ( kakak jangan ambil kesempatan sama anak cantik )" Ujar tugiyo yang paham bahwa wardiyo mencuri kesempatan agar bisa berdekatan dengan alika.


"Hahahahaha..." Tertawa semuanya serentak ketika mendengar ucapan tugiyo.


"Eee.. Aku nggak ambil kesempatan. Aku hanya menganggap alika sebagai adikku. Jangan macam-macam pikiran nya!" Sahut wardiyo tak ingin terjadi salah faham dengan tajudin.


Alika yang mendengar obrolan mereka hanya senyum-senyum saja. Alika tidak berani menyahut obrolan mereka karena takut jika sahutan nya akan menjadi suasana yang tadinya hangat menjadi dingin.


"Aku bisa masak. Tapi untuk masakan yang biasa dimasak oleh ibu aku tidak bisa!" Sahut alika dengan wajah datarnya.


"Mau tidak jika diajarkan memasak masakan desa?" Tanya eni menawarkan diri.


"Memang nya akan mengajarkan masakan yang bagaimana?" Sahut alika balik bertanya pada eni sang kakak ipar.


"Yaa nanti kamu juga akan tahu sendiri. Ayo alika kita mulai memasak untuk makan siang bersama!" Titah eni yang sudah diberitahu ibu mertua untuk mengajarkan alika memasak agar tidak selalu dikamar seharian.


"Ayo kak!" Sahut alika antusias.

__ADS_1


Alika kemudian mengikuti langkah eni dari belakang. Eni menuju kebun di depan rumah tajudin untuk memetik daun singkong yang masih muda dan memetik pepaya yang masih muda untuk dijadikan lauk seadanya. Setelah selesai memetik semuanya kini eni menuju dapur dan mengupas seluruh nya lalu memotongnya dengan ukuran dadu. Daun singkong yang sudah di pisahkan dengan tangkai nya dan mencucinya bersih lalu direbus di atas pawon yang menyala. Kini semua bahan telah direbus hingga matang dan disisihkan agar air nya tersaring.


"Naah. Sekarang tinggal dipotong-potong daun singkongnya sampai mengecil. Setelah itu kita siapkan bumbunya!" Ujar eni dengan telaten mengajarkan alika memasak masakan khas desa.


"Bumbu nya apa saja kak? Biar aku saja yang menyiapkan!" Sahut alika bersemangat untuk memasak bersama.


Dariyah yang melihat alika bersemangat memasak menjadi heran. Karena selama satu bulan lebih dariyah tak pernah melihat menantunya berkutat didapur layaknya seorang wanita. Tajudin dan wardiyo tersenyum simpul melihat alika bersemangat belajar memasak. Tak berselang lama alika dan eni sudah selesai memasak namun kompor belum dimatikan. Alika berteriak antusias memanggil para lelaki untuk mencicipi hasil masakan nya.


"Kaak! Bisa cicipi masakanku? Takut ada yang kurang!" Teriak alika antusias memanggil sang suami dan para kakak iparnya.


"Memang nya sudah matang?" Tanya wardiyo dan yang lain sembari melangkah menghampiri alika.


Tajudin mencicipi nya lebih dulu. Tajudin mengangguk-anggukan kepalanya sembari memasukan makanan ke dalam mulutunya. Begitu juga dengan wardiyo dan tugiyo. Mereka bertiga tak menyangka bahwa masakan alika bisa seenak itu, padahal alika baru saja belajar memasak masakan seperti itu.


"Waah.. Alika ini serius kamu yang masak?" Tanya wardiyo heran dengan wajah yang tak percaya pada alika.


"Iyaa kak. Ini aku yang masak! Kak eni hanya merebus semua bahan-bahan nya saja. Tapi aku semuanya yang memasaknya hingga matang!" Sahut alika dengan senyum lebarnya.


"Rasanya sedap sekali!" Ujar wardiyo tak menyangka pada alika sang gadis kota.


Mereka semua ikut senang pada alika yang pintar memasak. Pada dasarnya alika bukan gadis pemalas seperti yang mertuanya ucapkan. Dia pintar memasak hanya saja masakan kota yang biasa dia masak selama ini. Dariyah sang ibu mertua yang ingin mengolok-olok menantu nya itu tak bisa ia lakukan karena memang tidak ada yang harus di olok dari dirinya. Tajudin selalu mengumbar senyumnya lebar saat menyaksikan sendiri bahwa istrinya bisa masak. Namun karena tak ada yang mengajaknya untuk mengajari dirinya itulah yang membuat alika selalu berdiam diri dikamarnya.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2