NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
40.SELAMAT TINGGAL


__ADS_3

"Alikaaa!" Teriak tetangga samping rumah yang bernama dewi memanggil alika.


"Iyaa.. Siapa yaa?" Sahut alika berteriak dari kamarnya dan melangkah keluar disumber suara.


"Itu ada yang mencari kamu menggunakan mobil!" Ucap dewi yang masih berdiri di depan pintu.


"Oooh itu pasti mamaku! Bisa tolong antar suruh masuk saja kemari mbak?" Sahut alika dengan sedikit sungkan.


"Oooh iyaa akan aku suruh mereka kemari. Tadi katanya mereka nyasar dan salah jalan!" Ucap dewi membalikan badan nya kembali ke jalanan aspal yang hanya cukup untuk satu mobil.


"Trimakasih mba!" Sahut alika dan kembali masuk ke kamarnya mengambil barang yang akan dibawa.


Alika sangat bahagia yang di dampingi reni disetiap detiknya membantu alika menyiapkan semuanya. Senyum alika selalu tersenyum merekah bagaikan orang yang sedang jatuh cinta. Disaat sedang sibuk menyiapkan barang nya terdengar suara dari luar dengan ramai.


"Assalamualaikum.." Ucap ema dan nindia bersamaan masuk ke dalam rumah tajudin.


"Waalaikumsalam! Mamaaah!" Sahut alika dan berlari kecil memeluk mamanya.


"Eeeehhh jangan lari sayang kamu sedang hamil!" Ujar ema dengan wajah khawatirnya dan menyambut pelukan alika.


"Mama katanya nyasar yaah?" Tanya alika melepaskan pelukan nya.


"Iyaa tadi mama tanya orang-orang disana. Alhamdulillah ada yang mengantarnya menggunakan motor. Dan akhirnya sampai disini!" Jawab ema menjelaskan memeluk pinggang alika dan mengusap perut alika yang sudah besar.


Setelah mengobrol dengan alika sebentar ema dan yang lain nya bersalaman dengan reni dan wardiyo. Reni juga sudah menyiapkan minuman untuk keluarga alika dan beberapa cemilan. Disaat sedang berbincang bincang mereka di kejutkan kedatangan tajudin yang baru pulang membawa air bunga kelapa yang dibawa ke gubuk depan rumahnya untuk direbus agar menjadi gula merah. Alika yang melihat tajudin datang dirinya sudah mulai terdiam tak banyak bicara. Alika takut tajudin kembali emosi dan marah-marah jika dirinya ikut pulang sang ibu ke kotanya. Namun yang dikhawatirkan alika salah, tajudin menyambut ramah suami nindia yaitu fajri dan mengajak nya ngobrol dengan diselingi candaan. Reni yang menggendong anaknya juga sedang berbincang-bincang dengan para wanita diruang tamu.


"Sebentar! Aku masuk dulu ingin menemui istriku tercinta!" Ucap tajudin berpamitan pada fajri yang sedang mengajaknya ngobrol diteras.


"Hahahah! Baiklah.. Aku disini saja!" Sahut fajri yang tak percaya tajudin berperilaku manis pada alika.

__ADS_1


"Alika! Bisa bicara sebentar?" Ucap tajudin dengan nada dingin dan tak menyalami ema sebagai mertuanya langsung melangkah masuk ke kamarnya.


"Bicara disini saja! Aku tidak mau dikamar!" Sahut alika masih duduk ditempatnya di sebelah ema. Tajudin yang mendengar jawaban alika menghentikan langkahnya berbalik menghadap alika yang memunggunginya.


"Alika! Dengar aku bicara tidak?" Pekik tajudin meninggikan suaranya meski sedang ada keluarga alika dirumah nya.


"Jika dia tidak mau jangan dipaksakan din!" Ujar wardiyo yang muncul dari arah dapur.


"Kakak jangan ikut campur! Ini urusan aku sama alika!" Ucap tajudin masih menatap punggung alika.


"Alika! Bicara di dapur saja. Biar saya dampingi!" Titah wardiyo bicara dengan nada lembut pada alika."Bicara di dapur saja din! Jangan keras kepala! Disini sedang ada tamu. Jangan bertingkah memalukan!" Ujar wardiyo dengan suara bariton nya.


Alika menuruti perintah kakak ipar nya dan melangkah menuju dapur di dampingi reni karena takut tajudin berulah lagi. Tajudin juga tak punya pilihan lain selain menuruti perintah kakaknya. Mereka berempat akhirnya melangkah menuju dapur dengan langkah gontai alika terus menggenggam erat tangan tareni agar tak terlepas dari tangan nya. Setelah sampai di dapur alika duduk disamping reni dengan tubuh gemetar dan panas dingin alika mencoba mengontrol dirinya.


"Kamu mau ikut pulang dek?" Tanya tajudin dengan nada datarnya.


"Iyaa!" Jawab alika singkat menundukan wajahnya.


"Aku tidak peduli!" Sahut alika datar tanpa ekspresi.


"Aku nggak ridho jika kamu tetap pulang kerumah orangtua mu!" Ucap tajudin semakin menjadi.


"Aku juga tidak mau tahu!" Sahut alika masih dengan ekspresi datarnya.


"Kamuu!" Teriak tajudin menggebrak meja makan dengan kerasnya karena alika terus menjawab ucapan tajudin.


"Tidak usah teriak din!" Pekik wardiyo yang berdiri mendampingi alika dan tajudin.


"Apa mau mu sekarang?!" Tanya tajudin dengan nada tingginya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin pulang dan melahirkan di kotaku bersama ibuku! Dan aku juga tidak peduli kamu setuju atau tidak! Selama aku bersamamu kamu tak pernah menghargai aku sebagai istrimu! Bahkan kak reni dan kak diyo yang memberiku makan setiap harinya bukan kamu yang sebagai suamiku! Jadi untuk apa aku menuruti perintahmu!" Kesal alika menjelaskan yang selama ini ia rasakan.


"Baiklah terserah kamu! Jangan pernah hubungi aku jika kamu benar-benar membutuhkan aku!" Pekik tajudin dengan suara tingginya dan kembali pergi ke kebun tanpa ijin kepada keluarga alika dan melewatinya begitu saja.


Alika akhirnya bangkit dari duduknya dan kembali melangkah menuju ruang tamu menghampiri ema sang ibu. Alika sedih, hatinya teriris. Alika sungguh merasakan pilu karena luka yang Tajudin berikan padanya. Ema dan keluarganya juga .melihat sendiri kelakuan tajudin yang tempramental dan sangat keras kepala. Alika, tareni dan wardiyo sudah sampai diruang tamu dengan wajah sedih karena ucapan tajudin.


"Apa setiap hari sifat tajudin seperti itu?" Tanya ema pada wardiyo yang berdiri di hadapan meraka yang sedang duduk disofa ruang tamu.


"Maaf jika kelakuan adik saya membuat ibu sakit hati! Tajudin memang mempunyai sifat tempramen sedari kecil. Perintah nya tak bisa dibantah sedikitpun!" Sahut wardiyo merasa malu dengan kelakuan adiknya.


"Yaa sudah begini saja! Karena ini sudah sore, jadi alika akan saya bawa pulang untuk sementara! Jika memang tajudin ada niatan untuk berubah, jemput alika bersama anaknya nanti jika alika sudah melahirkan. Tapi jika memang dia susah untuk berubah maka lebih baik berfikir ulang untuk kembali dengan alika!" Ujar ema menjelaskan pada wardiyo sebagai wakil dari keluarga tajudin.


"Baik bu! Nanti akan saya sampaikan pada ibu dan bapak juga tajudin. Maaf jika kelakuan tajudin membuat alika sakit hati selama ini!" Jelas wardiyo merasa sungkan dengan keluarga alika.


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu membawa alika pulang! Jika alika melahirkan aku akan memberi kabar pada kalian!" Jelas ema bangkit dari duduknya memeluk pinggang alika.


"Iyaa bu! Hati-hati dijalan alika. Jangan lupa beri aku kabar jika sudah sampai dikota mu!" Ujar wardiyo dengan senyum simpulnya pada alika.


"Aku pulang dulu yaa kak! Kak reni maafin aku jika ada salah! Maaf titipkan salam pamit ku untuk ibu sama bapak jika pulang dari sawah nanti!" Ucap alika sembari memeluk reni sang kaka ipar.


"Iyaa alika nanti akan kita sampaikan! Baik-baik disana yaa?" Sahut tareni melepaskan pelukan alika.


Alika dan keluarganya akhirnya beranjak pergi menuju mobil fajri. Dan koper alika dibantu wardiyo yang membawanya mengantar mereka menuju mobilnya. Alika dan keluarga nya kini sudah masuk ke mobil dan membuka jendela sampingnya untuk melambaikan tangan pada sang kakak ipar begitu juga dengan reni dan wardiyo yang menyambut lambaian tangan alika.


"Selamat tinggal kaaakk!" Teriak alika melambaikan tangan nya karena mobil sudah jalan.


Tareni dan wardiyo masih terpaku ditempatnya dengan mata berkaca-kaca melihat alika meninggalkan nya. Wardiyo dan reni merasa sedih dan juga ikut merasakan sakit yang alika rasakan selama hidup berumah tangga dengan tajudin.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2