NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
26.NAFKAH PERTAMA


__ADS_3

Kini hari-hari alika dipenuhi dengan rasa mual yang tak pernah habis. Dirinya tak pernah mengadu pada suaminya tentang keadaan dirinya. Alika hanya berusaha sendiri semaksimal mungkin. Karena kalaupun dirinya mengadu hanya perdebatan yang diterima nya. Dengan keterkejutan nya hari ini alika ditemani sang ibu mertua dirumah nya.


"Alika!" Panggil dariyah yang melihat alika sedang duduk melamun di teras depan rumahnya.


"Ada apa bu!" Sahut alika yang hanya menoleh saja tanpa menghampirinya.


"Ini untuk mu yaa? Berhematlah jangan terlalu boros. Uang ini untuk satu minggu hanya untuk pegangan saja. Jika ingin makan, makanlah sesukamu semua sudah tersedia di dapur." Ujar dariyah memberi uang nafkah pada alika sesuai perintah tajudin.


"Iyaa bu!" Jawab alika dengan perasaan sedih tanpa bisa protes.


"Yaa sudah, ibu akan pergi ke kebun untuk mencari kayu bakar. Jika lapar makan lah, ada lauk di dalam lemari." Ujar dariyah kemudian beranjak pergi ke kebun mencari kayu bakar.


"Hmmm.. Uang nafkah pertama ini membuatku kecewa sakit dan terluka. Apa dia tidak berfikir, uang dua puluh ribu untuk satu hari saja masih kurang apalagi untuk satu minggu? Memangnya aku anak TK yang harus dikasih uang dua ribu sehari? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka!" Gumam alika yang masih di dengar untuk dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya merasa heran.


Alika hanya bisa meneteskan air matanya untuk mengobati rasa sakitnya. Selama ini dia hanya bisa bersabar menghadapi keluarga tajudin yang terlalu berlebihan dengan keuangan. Bahkan dariyah rela makan seadanya demi memperbanyak emas nya yang selalu dipakainya setiap hari.


"Bagaimana caraku membaginya uang dua puluh ribu untuk satu minggu?" Gumam alika sambil mengusap uang yang dia pegang dengan air mata yang terus mengalir."Mah! Aku kangen banget sama mama! Alika pengen sama mama!" Gumam lagi alika semakin terisak dan berlari kecil menuju kamarnya.


Setelah sampai kamarnya alika menangis sejadi jadinya karena kondisi rumah yang sepi hanya alika sendirian dirumah itu. Alika semakin tersiksa dengan keadaan seperti itu.


"Alikaa! Alikaa!" Teriak tajudin yang baru sampai dari kebun membawa air bunga kelapa.


Alika yang mendengar tajudin sudah pulang langsung mengusap air matanya agar suaminya tak melihat dirinya sedang menangis.


"Yaa! Aku dikamar!" Sahut alika teriak dari dalam kamar dan langsung keluar menghampiri tajudin."Ada apa kak?" Tanya alika setelah berada dihadapan suaminya.


"Sedang apa kamu dikamar?" Tanya tajudin di samping pintu rumahnya.

__ADS_1


"Aku hanya tiduran sebentar. Tubuhku pegal semuanya!" Jawab alika sambil memijit bahunya sendiri.


"Hmm jangan terlalu manja jadi perempuan! Itu piring belum di cuci! Apa saja yang kamu lakukan seharian?" Ujar tajudin dengan wajah kesal nya.


"Jika kamu ingin tahu aku ngapain saja seharian, maka duduk lah dirumah satu hari menemaniku! Agar kamu tahu apa saja yang aku kerjakan hingga aku kelelahan seperti ini!" Jawab alika yang sudah sedikit mulai berani bersikap.


Tajudin tidak menjawab nya langsung membalikan badan nya menuju dapur dan mengambil makanan dan memakan nya hingga habis seperti satu bulan tidak makan. Alika hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya itu dengan jijik karena tajudin makan dengan rakusnya.


Alika akhirnya mengambil alih pekerjaan tajudin untuk merebus air bunga kelapa agar menjadi gula merah. Karena jika alika tidak melakukan nya suaminya akan memarahinya tanpa henti. Alika mencari daun kelapa dan menyalakan nya menggunakan korek api dan menumpuknya dengan kayu bakar diatasnya agar kayu terbakar dengan sempurna. Alika sudah mulai bisa menyalakan pawon kayu bakar dengan lihai berkat wardiyo yang mengajarinya dengan telaten. Saat alika sedang melakukan aktifitasnya dirinya kembali mual tanpa henti.


"Huek! Huek! Huek!"


"Aduh kenapa rasanya sakit sekali. Dan mulutku rasanya pahit luar biasa!" Gumam alika pada diri sendiri.


"Kamu kenapa kok akhir-akhir ini selalu muntah-muntah? Apa kamu sakit?" Ujar tajudin sembari menekan leher belakang alika dan menempelkan tangan nya di dahi alika.


"Kamu itu kenapa? Disaat aku perhatian kamu malah sewot! Jika tidak diperhatikan malah bilang aku suami nggak berguna. Apa mau mu!" Pekik tajudin yang kesal dengan sikap alika.


"Aku kan sudah bilang aku nggak apa-apa! Kalaupun aku jawab aku sakit apa kamu akan membawaku ke dokter? Apa kamu akan membelikan obat untukku? Apa kamu akan membelikan makanan yang aku mau jika aku terkena lambung? Tidak kan? Kamu hanya menjawab jangan salahkan aku jika kamu jatuh sakit!" Jelas alika dengan bibir yang menirukan saat tajudin bicara."Maka dari itu aku hanya menjawab aku tidak apa-apa! Karena bagimu aku hanya seorang istri yang merepotkanmu saja!" Tambah lagi alika kemudian pergi melangkah menuju kamarnya meninggalkan tajudin yang masih terdiam.


Setelah sampai dikamar nya alika mengunci pintu kamarnya dan menangis sejadi-jadinya dengan dada yang terasa sesak seakan kebahagiaan tak pernah berpihak padanya.


***


Kini hari sudah berganti pagi. Saat alika bangun seperti biasanya dia sudah kembali sendirian dirumah nya. Kepalanya terasa pening setelah menangis semalaman membuat hatinya lega tapi membuat kepalanya mengeluarkan kunang-kunang nya. Namun alika tetap berusaha kuat agar dirinya bisa menuju ke kamar mandi dengan langkah gontai dan perlahan. Alika kembali memuntahkan isi perutnya dipagi hari hingga terkuras habis dan dengan keringat dingin.


"Kenapa aku setiap hari selalu mual-mual? Sebenarnya aku sakit apa?" Gumam alika pada diri sendiri."Aku harus periksa ke dokter! Tapi uang dari mana aku untuk membayar dokter?" Gumam alika lagi sibuk dengan pikiran nya sendiri.

__ADS_1


Akhirnya alika berinisiatif untuk minum air panas agar perutnya kembali terasa hangat. Alika berfikir bagaimana caranya dia mengetahui sakitnya tanpa uang untuk membayar dokter. Akhirnya alika pergi kerumah nenek dari tajudin di depan rumah tajudin. Alika bergegas melangkah menuju rumah nenek tajudin untuk bertanya apa di kampung nya ada seorang yang bisa mengetahui penyakitnya tanpa harus membayarnya.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikum..!" Ucap alika yang sudah berada di depan pintu rumah nenek dari suaminya.


"Waalaikumsalam. Yaa siapa itu?" Sahut nenek tajudin yang bernama biyung amin.


"Aku biyung! Alika!" Teriak alika dari depan pintu rumah biyung amin.


"Oooh alika! Ada apa kamu kesini? Tumben?" Tanya biyung amin setelah membuka pintu rumah nya.


"Ini biyung aku mau tanya. Setiap hari aku mual-mual, bahkan satu hari bisa sampai empat atau lima kali. Aku takut aku sakit parah. Sebab aku hanya makan singkong setiap hari." Ujar alika menjelaskan apa yang ia keluhkan selama ini.


"Lalu kenapa kamu kemari? Harusnya kamu pergi ke dokter agar dapat diperiksa." Sahut biyung amin yang sudah duduk bersebelahan dengan alika.


"Aku tidak pernah diberi uang oleh tajudin. Makanya aku ingin bertanya. Apakah disini ada seseorang yang bisa memeriksa aku sakit apa tanpa harus membayarnya?" Tanya alika dengan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Oooh pergilah kerumah biyung silem! Dia seorang tabib pengobatan sentuh tanpa alat periksa." Jawab biyung amin menjelaskan pada alika.


"Rumahnya di mana biyung?" Tanya alika ingin segera mendatangi rumahnya.


"Kau pergilah ke pertigaan di sebelah sana. Lalu lurus saja sebelah kanan jalan ada satu rumah gubuk. Itulah rumahnya. Jika dia bertanya kamu siapa? Jawab saja istrinya tajudin. Agar tidak dimintai uang sebagai bayaran nya." Jelas biyung amin pada alika dengan detail.


"Baiklah! Aku akan kesana sekarang! Terimakasih biyung. Aku permisi assalamualaikum!" Jawab alika antusias dan langsung bergegas pergi kerumah biyung silem.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2