
Kini pagi menjelang. Matahari menampakan cahayanya dengan indah. Sepasang suami istri yang masih dalam masa pengenalan masih berada di dalam kamarnya. Tajudin sudah membuka matanya sejak jam enam pagi namun enggan untuk bangun dari kasurnya. Tajudin menatap wajah alika lekat, wajah yang cantik seperti boneka india dengan bulu mata lentik panjang hidung yang mancung bibir yang tebal bervolume dan alis yang hitam tebal membuat tajudin selalu membayangkan dirinya bersama alika jika sedang berhubungan suami istri. Tajudin sangat ingin menyentuh tubuh istrinya yang berdada bidang namun berisi perut yang ramping dan pinggul seperti gitar serta bahenol. Alika kini telah membuka matanya dengan perlahan mengedip-ngedipkan matanya. Setelah membuka matanya alika menatap tajudin yang ada dihadapan nya. mereka berdua saling menatap tanpa ekspresi dan tanpa ada kata yang terucap dari bibir mereka. Namun hati mereka lah yang bicara.
"Wajah nya cantik dan natural saat baru bangun dari tidurnya." Gumam tajudin yang memiringkan tubuhnya ke kiri menghadap alika dan mengagumi wajah alika tanpa berkedip.
"Kenapa dia menatapku seperti itu? Iish wajahnya jelek sekali tidak setampan yudi dan mas sigit! Kenapa aku sampai bisa menerima dirinya sebagai suamiku? Apa mataku rabun saat itu melihat dirinya?" Gumam alika tanpa ekspresi menatap lekat wajah tajudin yang berposisi memiringkan tubuhnya ke kanan menghadap tajudin.
Mereka saling berbicara dengan hati mereka sendiri. Namun lamunan tajudin buyar setelah melihat alika yang beranjak dari tidurnya. Alika tak sanggup menatap wajah suaminya meski berwajah pas-pasan dengan hidung yang mancung mata yang sipit alis yang setengah tebal bibir yang tebal dan lebar dengan gigi gingsulnya yang membuat senyum terlihat manis. Namun dimata alika tajudin tidak setampan mantan kekasihnya. Alika tidak begitu beruntung mendapatkan tajudin namun berbeda dengan tajudin yang sangat beruntung sekali mendapatkan wanita bak boneka india seperti alika. Kini keduanya sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Ema juga sudah berkutat dengan pekerjaan nya di dapur untuk menyiapkan makanan alika dan tajudin. Tajudin menghampiri ema yang sedang memasak didapur.
"Sedang apa bu?" Tanya tajudin sambil melenggangkan kakinya menuju ibu mertuanya.
"Ini sedang membuat nasi goreng untuk sarapan kita!" Jawab ema tanpa menoleh ke arah menantunya karena masih sibuk mecampurkan nasi dengan bumbunya.
"Boleh aku bantu?" Ucap tajudin ingin mengambil hati mertuanya.
"Tidak usah! Ibu tidak suka dibantu jika memasak. Rasanya tidak fokus jika ada seseorang yang membantu ibu saat masak!" Sahut ema yang masih fokus memasak.
"Alika tidak bisa memasak ya bu?" Tanya tajudin perlahan agar ema tidak tersinggung.
"Alika bisa masak kok! Bahkan jika dia sedang dirumah, dia selalu memasak makanan kesukaan nya!" Jawab ema dengan bangga pada menantunya.
__ADS_1
"Tapi alika dirumahku tidak pernah masak bu, katanya dia tidak bisa masak!" Ujar tajudin yang mendengar alika bisa memasak dari ibunya.
"Bagaimana dia mau masak disana, bahan-bahan sayuran nya saja tidak disediakan dirumahmu. Bahkan dia hanya makan satu kali sehari dengan telor ayam yang dia curi saat ayam bertelor di belakang pintu! Iya kan?" Sahut ema skakmat membuat tajudin tak bisa berkutik.
"Semuanya sudah tersedia kok bu. Seperti labu hijau, pepaya, daun singkong, bayam dan kangkung! Semuanya ada tinggal metik saja dikebun depan rumah!" Jawab tajudin tak mau disalahkan dengan ibu mertuanya.
"Itu kan kamu yang paham. Alika kan anak gadis kota. Dia hanya tahu membeli sayuran diwarung. Tidak tahu memetik sayuran dikebun!" Ujar ema yang berwajah kesal masih enggan menoleh ke arah tajudin.
"Maaf bu. Jika alika sudah kembali kerumahku, aku akan mengajarinya agar dia bisa memasaknya sendiri." Sahut tajudin dengan perasaan tidak enak dengan melihat ema yang mondar mandir melakukan aktivitas nya didapur.
"Ema tidak menjawab ucapan tajudin. Ema langsung saja membawa nasi goreng nya keruang keluarga. Ema duduk di lantai yang dialasi karpet dan menata piring untuk sarapan bersama."Tajudin! Panggil alika untuk sarapan!" Titah ema yang sudah menata semuanya dengan rapi.
Alika yang mendengar tajudin langsung beranjak keluar dari kamarnya menghampiri ema diruang keluarga. Alika melihat semuanya sudah siap dengan rapi langsung mengambil nasi goreng di piring nya tanpa ditawari lebih dulu. Tajudin yang melihat tingkah alika hanya menatapnya tanpa ekspresi. Tajudin juga langsung mengambil nasi goreng yang sudah disediakan oleh ema dan langsung menyantapnya. Mereka sarapan bersama tanpa ada obrolan. Alika menyantap nasi goreng hingga tiga piring dengan lahapnya tanpa melihat sekelilingnya. Tajudin yang melihat terheran heran.
"Alika! Tumben kamu makan sampai tiga piring? Biasanya tidak seperti itu?" Tanya tajudin reflek karena baru melihat istrinya makan serakus itu.
"Alika memang banyak makan tajudin! Asalkan makanan yang dia suka pasti dia banyak makan!" Sahut ema menatap tajudin yang berekspresi terheran-heran pada istrinya.
"Oooh begitu! memangnya makanan apa saja yang alika suka bu?" Tanya tajudin agar bisa mengimbangi makanan kesukaan alika.
__ADS_1
"Alika paling suka sop kambing! Jika tidak ada kambingnya paling tidak dia suka sekali dengan sayur sop! Meskipun gorengan nya hanya tempe, dia bisa menghabiskan tiga piring nasi. Sederhana bukan? Lalu apa sayuran seperti kobis, wortel, sosis, bawang daun itu juga kamu tanam dikebun? Agar alika tidak repot membelinya diwarung. Karena kamu kan tidak bekerja. Dan kamu juga tidak bisa memberi uang belanja untuk istrimu," Ucap ema yang tanpa basa basi membuat tajudin terdiam seperti patung.
"Mah! Jangan seperti ini!" Sahut alika memberi kode pada ema yang sudah mulai naik darah.
"Loh kenapa alika? Mama kan hanya bicara fakta, bukan fitnah! Iya kan tajudin?" Ujar ema yang semakin naik darah ekspresi nya sudah tidak bisa dijelaskan lagi.
"Maaf bu! Bukan saya tidak mau memberi uang belanja pada alika. Tapi aku hanya pria kampung yang bekerja disawah dengan gaji yang tidak seberapa!" Jawab tajudin sambil menunduk tidak ingin dicecar dengan pertanyaan terus oleh ema.
"Kamu kan dulu sebelum menikah dengan alika bekerja disemarang! Lalu kenapa sekarang kamu malah tidak mau bekerja lagi? Apa alasan nya?" Tanya ema dengan penuh penekanan sambil mengangkat dagunya menatap tajudin.
"Aku dipecat dari pabrik bu! Karena waktu itu aku ijin cuti satu minggu tapi lebih dari satu minggu aku tidak berangkat dan tidak ada ijin ulang karena harus kembali lagi ke semarang untuk tanda tangan. Jadi saya dipecat secara tidak hormat tanpa pesangon yang seharusnya aku terima! Jadi yaa saya tidak bisa bekerja lagi disana!" Ujar tajudin menjelaskan panjang lebar pada ema sang ibu mertua dengan wajah memelas tanpa ekspresi.
"Alika kan sudah menawari kamu untuk bekerja dijakarta dengan kenalan dia disana! Lalu jawaban kamu tidak ingin bekerja diluar kota lagi. Hanya ingin bekerja dikampung saja! Sedangkan dikampung kamu tidak mengijinkan alika berdagang atau bekerja seperti dia dulu yang aktif bekerja! Kamu hanya ingin alika berdiam diri dirumah menjadi bonekamu! Memangnya alika tidak lapar? Memangnya alika tidak mempunyai kebutuhan sendiri? Kamu jadi suami jangan egois tajudin! Alika juga masih punya keinginan!" Ujar ema dengan nada tinggi dan penuh emosi.
"Maaf bu! Saya hanya tidak ingin alika menjadi istri yang ngelonjak jika dia bisa memenuhi kebutuhan nya sendiri!" Sahut tajudin yang ikut tersulut emosi karena ucapan ema.
"Jika kamu tidak ingin alika bekerja, maka penuhilah kebutuhan nya dengan benar! Mana ada seorang istri yang tidak diberi nafkah lahir tidak boleh bekerja tidak boleh berdagang lalu tidak diberi makan yang layak akan diam saja? Kamu cari diluar sana. Apa ada wanita seperti itu?" Ujar ema semakin emosi dengan mata berkaca-kaca tak terima anaknya diperlakukan seperti boneka.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG