
Di Sore hari setelah kedatangan sang kakak ipar alika selalu tertawa melebarkan senyumnya. Alika bahagia akhirnya tareni mau menerima alika sebagai adik ipar nya hanya menganggap wardiyo juga sebagai kakak nya. Kini mereka sudah bergantian untuk mandi membersihkan dirinya karena hari sudah sore. Namun sang mertua belum juga ada yang menampakan batang hidung nya hingga maghrib menjelang. Tajudin, alika, tareni dan wardiyo berkumpul meminum teh di ruang keluarga ditemani singkong goreng juga keripik singkong yang tareni bawa dari kampung nya. Anak tareni ada dua, mereka juga bermain dengan riang nya tanpa mengganggu orangtua mereka. Mereka berkumpul dan berbincang-bincang bercanda ria seakan hidupnya tanpa masalah.
***
Tak terasa kehamilan alika kini sudah memasuki bulan ke tujuh. Alika sudah semakin susah untuk banyak bergerak. Namun saat alika sedang bergantian masak untuk makan bersama dengan kakak ipar nya tak disangka tabung gas nya habis. Dirinya sudah tidak bisa berjongkok untuk masak menggunakan kompor kayu di bawah. Karena takut masakan nya jadi tidak enak karena belum matang alika mencari tajudin untuk minta tolong membelikan gas elpiji yang ukuran tiga kilo.
"Kak! Bisa tolong bantu aku?" Teriak alika di pintu samping ke arah gubuk untuk membuat gula merah.
"Ada apa?" Sahut tajudin hanya melongok kan kepalanya saja.
"Gas nya habis! Masakan nya belum matang. Apa aku boleh minta tolong belikan gas di warung?" Ujar alika sedikit meninggikan suaranya.
"Ahk! Kamu bisa nya bikin repot saja! Usaha Lah sendiri! Tabung gas kecil seperti itu tidak berat untuk kamu angkat!" Jawab tajudin tanpa beralih dari tempat nya.
Alika yang mendapat jawaban dari suaminya hanya bisa berusaha sabar agar tak di siksa kembali oleh suaminya. Alika perlahan mulai melepaskan selang nya dengan hati-hati lalu mencoba mengangkat nya sampai ke warung. Dengan kondisi hamil tujuh bulan harus mengangkat tabung gas sendiri sedangkan suami hanya duduk menunggu api kayu bakar agar tidak mati yang melihat nya sungguh sangat miris dengan keadaan alika saat ini.
"Bu beli gas yang tiga kilo!" Ucap alika setelah sampai di warung.
"Loh! Kenapa kamu yang angkat sendiri alika? Suami mu kemana? Kamu kan sedang hamil besar, tidak boleh angkat yang berat-berat!" Ujar ibu dartem yang mempunyai warung.
"Nggak apa-apa bu! Mandiri lebih baik dari pada harus minta tolong!" Jawab alika yang menutupi keburukan suaminya dengan senyum simpulnya.
"Kamu yaa.. Terbuat dari apa sih hati kamu itu? Tidak usah menutupi keburukan suami mu! Semua orang sudah tahu siapa tajudin!" Ujar ibu dartem yang sudah paham kelakuan tajudin dari kecil."Ini alika gas nya. Eh sebentar biar aku suruh adi untuk membawa nya kerumah mu!" Tawar ibu dartem tak tega pada alika.
"Tidak usah bu! Biar aku sendiri saja! Makasih." Sahut alika menolak tawaran ibu dartem dan langsung melangkah pergi dengan membawa gas yang lumayan berat.
Dengan langkah gontai membawa tabung gas yang sudah berisi di tambah perut alika yang hamil besar membuat keringat bercucuran di seluruh tubuhnya di bawah terik matahari. Karena lelah alika beberapa kali menghentikan langkah nya untuk mengatur nafas agar tidak lelah. Akhirnya alika sampai dihalaman rumah tajudin dan tajudin melihat alika yang sedang kelelahan membawa tabung gas namun dia hanya diam saja melihat alika yang membawa tabung gas itu. Alika berhasil sampai di depan kompor dan memasang selang nya sendiri namun tidak bisa hingga akhirnya tareni datang. Tareni baru saja pulang dari rumah saudara tajudin untuk silaturahmi karena dia baru datang minggu lalu.
__ADS_1
"Alika! Kamu sedang apa?" Tanya tareni melihat alika berjongkok kesusahan memasang selang.
"Hadeehhh.. Yaa Allah capek sekali! Tapi selang nya susah sekali di pasang nya!" Sahut alika mengusap keringat di dahinya yang bercucuran.
"Yaa ampun..kenapa tidak minta tolong judin?" Ujar tareni tak tega melihat wajah alika yang sudah pucat.
"Aku sudah minta tolong pada nya! Tapi yaa begitulah. Kakak sudah tahu sendiri jawaban nya!" Sahut alika dengan raut wajah kecewa yang sangat dalam.
"Kamu yang sabar yaa alika. Tajudin memang seperti itu dari dulu! Jika bukan karena menginginkan sesuatu yaa dia tak mau peduli orang lain!" Ujar tareni memberi pengertian pada alika sembari memasang selang gas.
Kini selang sudah terpasang dengan benar dan alika meneruskan masaknya hingga matang. Alika menyuguhkan di atas piring dan makan bersama tareni karena meminta nasi dari tareni.
Semakin hari semakin kemari alika dan tajudin semakin tidak harmonis. Sifat tajudin yang egois dan kasar membuat alika semakin tidak sabar menghadapinya. Pada suatu malam saat semuanya sudah terlelap hanya alika dan tajudin yang masih berdebat di atas ranjang nya.
"Aku mau pulang!" Ucap alika dengan posisi duduk membelakangi tajudin.
"Perut aku sudah semakin besar. Sekarang usia kandunganku hampir memasuki bulan ke delapan. Aku kan sudah ijin waktu itu untuk melahirkan di kotaku!" Ucap alika lagi tanpa memperdulikan kemarahan tajudin.
"Bisa diam tidak! Aku bilang tidak usah pulang yaa tidak usah!" Pekik tajudin mulai tersulut emosi dan bangkit dari tidurnya.
"Aku tidak mau tahu! Intinya aku hanya mau melahirkan dirumahku bersama mama!" Ucap alika kekeh dengan keputusan nya masih dengan posisi membelakangi tajudin duduk ditepi ranjang.
"Kurangajar! Dasar perempuan keras kepala! Bisa nya selalu membantah perintahku!" Teriak tajudin mencengkram tengkuk alika dan dipepet nya wajah alika ke dinding hingga alika hampir kehilangan nafas nya.
"Aaaaa! Aaaaa! To-l-ong!" Alika tak bisa mengeluarkan kata-kata nya karena tajudin terus menekan tengkuk alika di dinding.
Alika terus berusaha bisa melepas diri dari tangan tajudin dengan menggedor pintu yang di samping nya. Tajudin kalap karena alika terus berkata pada prinsip nya. Wardiyo mendengar ada suara pintu di gedor akhirnya terbangun dan mencari ke sumber suara.
__ADS_1
"Ada apa di kamar tajudin? Apa dia kembali menyiksa alika lagi? Gawat jika memang seperti itu. Dia lagi hamil besar!" Gumam wardiyo yang bingung harus bagaimana.
Wardiyo akhirnya membangunkan tareni untuk membantunya mendobrak pintu kamar tajudin.
"Sayang! Heh yang bangun! Tolongin alika! Sepertinya tajudin kembali menyiksa alika!" Bisik wardiyo karena tidak ingin semua nya ikut terbangun.
"Hah! Alika sedang hamil besar mas. Kasihan dia! Ayo kita tolongin!" Bisik tareni dan bangkit menuju kamar alika mengikuti langkah suaminya.
Saat wardiyo dan tareni sudah didepan kamar alika dia sedikit berteriak.
"Alika! Apa kamu baik-baik saja?" Ujar wardiyo menempelkan kepalanya dipintu kamar tajudin.
Brak! Brak! Brak! Brak!
"Yaa Allah alika kenapa mas?" Ucap tareni mulai khawatir.
Akhirnya tanpa pikir panjang wardiyo mendobrak pintu kamar tajudin dengan satu tendangan sudah membuat pintu kamar terbuka. Namun yang terjadi.
"Astaghfirullah! Tajudiiinnnn!!" Teriak tareni yang melihat tajudin mencekik tengkuk alika dengan wajah seperti kesetanan.
Bhug! Bhug! Bhug!
Wardiyo menghajar tajudin hingga tersungkur ke lantai.
Alika yang sudah hampir kehilangan nyawanya terus menghirup udara dengan rakus nya dan terjatuh dengan posisi bersandar di dinding. Tareni terus mengusap punggung alika agar menghangat. Tareni membantu alika bangkit dari duduk nya di lantai dan membawanya keluar kamar. Dariyah dan darun akhirnya juga ikut terbangun karena kegaduhan yang terjadi dirumah nya jam sebelas malam.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG