
"Doni! Tolong bantu aku membawa alika kerumah sakit sekarang. Cepat!" mohon wardiyo yang sudah berada dirumah teman nya dan meminta tolong pada teman nya yang mempunyai mobil.
"Yaa masuklah ke dalam mobil!" Sahut doni sembari membukakan pintu mobilnya dan membantu wardiyo masuk ke dalam mobil nya."
Doni masuk ke dalam mobilnya di kursi stirnya. Doni melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena takut terjadi apa-apa dengan istri tajudin sahabatnya sejak kecil. Doni yang penasaran akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya pada wardiyo.
"Maaf. Kalau boleh tahu istri tajudin kenapa yo?" Tanya doni dengan sesekali menoleh kearah wardiyo dibelakang nya.
"Maaf aku tidak bisa menceritakan masalah ini! Karena ini privasi keluarga. Yang pasti alika sedang tidak baik-baik saja!" Sahut wardiyo menutupi aib sang adik agar tidak heboh dikampung.
"Jika alika tidak baik-baik saja kenapa kamu yang membawa alika kerumah sakit? Apa tajudin sedang tidak ada dirumah?" Tanya doni yang semakin penasaran dengan sikap wardiyo.
"Sudah jangan banyak tanya! Lajukan saja mobilnya dengan benar!" Pekik wardiyo dengan mata membulat membuat doni terbungkam.
Doni terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Karena lokasinya sedikit jauh memerlukan waktu yang tidak sedikit. Setelah perjalanan panjang nya akhirnya mobil yang membawa alika sudah sampai dirumah sakit. Doni langsung memanggil para perawat untuk membantu membawa alika. Doni kemudian berlari kembali ke mobilnya dan membantu wardiyo keluar dari mobilnya yang masih menggendong alika. Semua para suster berlari membawa alika menuju ruang darurat. Wardiyo yang sudah melihat alika dibawa masuk ke ruang rawat sedikit lega karena alika akan mendapatkan perawatan. Wardiyo terus mondar mandir di depan ruang rawat menengadahkan tangan dipinggangnya. Sudah satu jam namun dokter yang menangani alika belum juga keluar. Wardiyo semakin panik dan gelisah. Doni yang melihat wardiyo semakin panik berusaha membuatnya tenang. Tak berselang lama kini dokter sudah keluar dan wardiyo langsung menghampirinya.
"Bagaimana keadaan adik saya dok?" Tanya wardiyo dengan panik.
"Anda kakak nya?" Tanya dokter dengan tatapan intens.
"Iyaa saya kakak nya!" Sahut wardiyo penasaran akan keadaan alika.
"Apakah Pasien sudah menikah?" Tanya dokter berbelit-belit.
"Sudah! Dia menikah dengan adik lelaki ku!" Sahut wardiyo dengan jujur.
"Apa dia ada disini?" Ucap dokter yang seakan berat menyampaikan keadaan alika.
__ADS_1
"Tidak! Dia dirumah sedang sakit!" Sahut wardiyo bohong.
"Baiklah! Ikut keruanganku sekarang!" Titah sang dokter wanita mengajak wardiyo untuk keruangan nya.
"Baik dok!" Sahut wardiyo kemudian membalika badan nya ke arah doni."Aku titip alika sebentar. Kamu jangan kemana-mana!" Ujar wardiyo pada doni dan meninggalkan ruang darurat menuju ruang dokter.
Kini wardiyo berjalan menyusuri lorong rumah sakit dibelakang sang dokter. Wardiyo mempunyai firasat yang tidak enak dengan kondisi alika. Pikiran nya terus melayang memikirkan keadaan alika saat ini hingga akhirnya sampailah wardiyo diruangan sang dokter yang menangani alika.
"Silahkan duduk!" Titah dokter menyuruh wardiyo duduk dikursi depan mejanya.
"Bagaimana kondisi adik saya dok?" Tanya wardiyo yang sudah lemas memikirkan kondisi alika.
"Begini pak. Pasien sangat membutuhkan banyak darah! Pasien telah kehilangan banyak darah. Apakah suami pasien seorang hippersex? Sehingga pasien sampai mengalami pendarahan hebat seperti itu? Bahkan bagian kelamin nya sampai bengkak membiru." Ujar dokter merasa miris akan keadaan alika karena baru pertama kalinya menangani pasien seperti alika.
"Lalu apakah alika masih baik-baik saja?" Tanya wardiyo ingin mendengar keadaan alika yang sebenarnya.
"Apa darah nya dok? Siapa tahu aku juga mempunyai darah yang sama dengan nya." Jawab wardiyo antusias ingin mendonorkan sebagian darahnya untuk alika.
"Darahnya sulit untuk dicari. Karena darah pasien adalah O rhesus negatif. Darah itu sangat sulit didapatkan, jika ada maka sangat berharga sekali." Ucap dokter dengan wajah cemas akan kondisi alika.
"Lalu saya harus bagaimana dok?" Tanya wardiyo semakin panik mendengar penjelasan dokter.
"Kami sudah menghubungi seluruh rumah sakit dikota ini untuk sedikit membantu agar pasien segera mendapatkan pendonor darah tersebut." Jelas dokter membuat wardiyo sedikit lega.
"Alhamdulillah." Ucap wardiyo merasa lega sembari mengusap dadanya.
"Hanya itu yang akan saya sampaikan. Dan tolong sampaikan pada suami pasien agar tidak menyentuh nya lebih dulu selama enam bulan! Karena keadaan kelamin pasien sudah sangat parah!" Pekik sang dokter memberi peringatan pada wardiyo.
__ADS_1
"Baik dok! Mungkin setelah alika membaik saya sendiri yang akan mengantarnya pulang dulu kerumah ibunya di kota X." Sahut wardiyo meyakinkan sang dokter.
"Bagus kalau begitu!" Ucap sang dokter menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu untuk mengabari keluarga agar tidak panik!" Permisi wardiyo untuk kembali keruang darurat.
"Silahkan!" Sahut dokter dengan menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran nya.
Wardiyo akhirnya beranjak melangkah pergi dari ruangan sang dokter dan kembali keruang darurat dimana alika dirawat. Wardiyo selalu menghela nafas nya jika mengingat alika yang seperti itu karena ulah adiknya sendiri. Meskipun wardiyo seorang pria yang selalu menggoda wanita tapi dia tidak sebejat adiknya yang tempramental dan tak memikirkan kondisi orang lain. Wardiyo masih sangat geram pada tajudin yang seperti kesetanan melahap alika dengan rakusnya. Kini wardiyo sudah kembali duduk didepan ruang darurat. Doni yang sedari tadi menunggunya akhirnya bertanya pada wardiyo akan keadaan alika.
"Bagaimana keadaan alika bro!" Tanya doni sembari menepuk bahu wardiyo disampingnya.
"Alika kritis. Dia membutuhkan banyak darah O rhesus negatif sebanyak lima kantong. Dan dirumah sakit ini baru ada darah tersebut hanya dua kantong. Masih harus membutuhkan tiga kantong lagi. Untuk persediaan kewaspadaan membutuhkan dua kantong. Jadi harus ada lima kantong lagi untuk alika malam ini." Sahut wardiyo menjelaskan pada doni panjang lebar.
"O rhesus negatif? Ucap doni yang dengan mengingat-ingat."Ah bro! Kakak ku mempunyai darah yang sama dengan alika. Kakak ku juga O rhesus negatif!" Ucap doni antusias memberitahu wardiyo.
"Serius? Jangan bercanda kamu!" Sahut wardiyo takut kecewa jika darah mereka berbeda.
"Benar sumpah aku tidak bohong! Kakak ku pernah melahirkan dan pendarahan. Dia membutuhkan pendonor darah tersebut. Bahkan aku yang mencarinya saat itu!" Ucap doni bersemangat ingin menolong alika.
"Kalau begitu bawa kakak mu kemari sekarang juga! Akan aku belikan buah satu tangki agar dirinya kembali stabil!" Sahut wardiyo yang juga bersemangat karena doni mau menolong nya.
"Baiklah. Aku pulang dulu lalu aku akan kemari lagi membawa kakak ku! Kamu tunggu disini jangan kemana-mana!" Ujar doni sembari melangkah dan memberi peringatan pada sahabatnya dengan berlari kecil.
Wardiyo yang mendengar alika mendapatkan pendonor merasa lega. Karena dirinya tak sanggup berkata pada keluarga alika jika nantinya akan terjadi apa-apa pada alika. Senyum wardiyo selalu melebar menunggu doni dan kakak nya datang dengan terus melihat ke arah depan rumah sakit. Wardiyo menunggunya dengan setia sampai akhirnya ketiduran dikursi tunggu di depan ruang darurat.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG