
Keesokan hari nya di hari sabtu alika belum juga melahirkan. Alika masih saja melenguh kesakitan tanpa ada tanda tanda pembukaan 10. Alika terus menangis dengan apa yang dia rasakan saat ini. Ema yang menghubungi tajudin tak pernah digubris oleh tajudin disana. Seakan tajudin sudah tidak mau peduli lagi pada istrinya yang sedang berjuang mengeluarkan anaknya dari dalam perutnya. Ema terus berusaha menelfon tajudin namun hasilnya tetap nihil.
"Ini sudah pagi mbak ema pulang saja! Alika biar saya yang jaga. Mbak ema juga harus istirahat biar bisa mengurus alika setelah melahirkan nanti. Tenang saja! Serahkan semua urusan alika disini sama saya!" Ujar rodiyah yang tak tega melihat ema sudah merasa lelah semalam tidak bisa tidur.
"Aku pulang istirahat sebentar dan akan kemari lagi membawa rumput fatimah agar alika bisa cepat melahirkan!" Sahut ema baru terfikirkan apa yang harus dia lakukan.
"Yaa sudah mbak hati hati! Minta antar sama furqon saja. Dia kebetulan berjaga diluar bersama yang lain!" Ucap rodiyah lagi agar ema tidak menggunakan becak untuk pulang.
"Iyaa trimakasih! Aku titip alika yaa? Kabari segera jika ada apa apa!" Ucap ema kemudian melangkah pergi untuk pulang kerumah.
Alika terus saja melenguh tidak bisa makan sejak kemarin masih kontraksi karena bayi belum mau keluar. Bidan yang berjaga terus memeriksa keadaan alika setiap 30 menit.
"Saya periksa dulu yaa mba alika!" Ujar bidan sembari merentangkan kedua paha alika dan memasukan jari nya untuk pemeriksaan."Bismillah.." Ucap bidan saat memasukan dua jari di goa alika.
"Aaaa Sakit!" Teriak alika dan menendang bidan yang memeriksanya.
"Astaghfirullah! Mbak alika tenang jangan seperti ini! Bagaimana kami bisa memeriksanya jika mba alika tidak bekerja sama dengan baik!" Kesal bidan karena lengan nya ditendang oleh alika yang kesakitan.
"Saya tau! Tapi bisa pelan tidak! Sakit tau! Aduuhh..Hiks hiks hiks.. Mamaaa..!" Rintih alika yang memang benar benar merasa kesakitan.
"Hmmm.. Baiklah nanti kami akan memeriksanya lagi!" Ucap bidan dan berlalu pergi meninggalkan ruangan alika.
Alika terus menangis kesakitan dan terus beristighfar agar merasa lebih tenang. Rodiyah terus mendampingi alika dan mengusap punggung nya. Rodiyah juga tidak berani banyak bicara takut alika menjadi emosi akan semakin sulit untuk cepat melahirkan. Alika terus kepikiran suaminya yang tak kunjung datang menemuinya.
"Kejam sekali kamu tajudin! Disaat aku berjuang melahirkan anakmu tapi kamu tak sedikitpun merasa iba padaku! Aku berjanji. Setelah anak ini lahir takkan pernah aku akan memaafkan mu seumur hidupku!" Gumam alika dalam hati dengan air mata yang terus mengalir begitu deras nya.
Tak terasa sudah tiga hari alika berada dirumah sakit namun belum juga bisa melahirkan anaknya. Ema bingung dan meminta bantuan nindia untuk bergantian menjaga alika dirumah sakit. Kondisi alika semakin lemah karena tidak makan selama tiga hari hanya minum saja yang ia masukan ke dalam tubuhnya. Dokter dan bidan bekerja sama memeriksa alika secara bersamaan dan alika kini di dampingi oleh nindia karena yang lain memilih istirahat lebih dulu untuk menyegarkan badan nya. Dokter dan bidan sudah memasuki ruangan alika dan akan memeriksanya.
"Permisi.. Kami periksa dulu yaa?" Ucap dokter akan memeriksa alika. "Apa ibu keluarganya?" Tanya dokter Deswita pada nindia yang menjaga alika.
"Iyaa.. Saya adik nya!" Sahut nindia pada sang dokter.
"Maaf ibu bisa tunggu diluar dulu sebentar? Saya akan memeriksa keadaan pasien dulu!" Titah sang dokter menyuruh nindia menunggu diluar ruangan.
"Baik dok!" Sahut nindia dan berpamitan pada alika. "Kak aku diluar dulu yaa?" Pamit nindia dan keluar dari ruangan.
__ADS_1
Dokter dan bidan memeriksa secara keseluruhan dengan usg, cek darah hingga memeriksa pembukaan jalan lahir sang bayi. Dokter membawa darah dan foto usg keruangan nya bersama bidan yang mendampinginya dan pergi melangkah ke ruang laboratorium. Dokter memeriksa secara keseluruhan dan akhirnya sudah mendapatkan keputusan apa tindakan yang harus dilakukan dengan kondisi alika. Nindia terus mendampingi alika sampai ema akan datang kembali menemani alika. Dokter dan bidan kembali lagi keruangan alika karena akan menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan.
"Permisi! Maaf ibu ini ada sedikit tindakan yang harus kita lakukan. Menyangkut pemeriksaan yang tadi sudah saya cek di laboratorium tentang keadaan pasien!" Ucap dokter Deswita dengan memegang beberapa berkas ditangan nya. "Begini bu. Siapa yang bertanggung jawab atas diri pasien?" Tanya dokter deswita sesekali melihat berkas ditangan nya.
"Mama saya dok! Tapi belum datang karena istirahat dirumah sebentar!" Jawab nindia tegang karena melihat ekspresi sang dokter.
"Baik! Nanti tolong hubungi orang tua pasien segera ya bu!" Ujar dokter sedikit berat menyampaikan kondisi alika yang sebenarnya. "Jadi pasien sekarang dalam keadaan lemah dan berbahaya jika melakukan persalinan normal. Maka dari itu pasien harus melakukan persalinan secara secar. Karena jika pasien melakukan persalinan secara normal maka kami tidak bisa memprediksi keduanya akan selamat. Mungkin kamu akan menyelematkan salah satunya. Jika bayi yang dilahirkan selamat maka ibunya tidak akan bisa diselamatkan begitu juga sebaliknya. Jadi setelah pemeriksaan berlanjut kami sarankan pasien harus segera melakukan operasi secar bu!" Jelas dokter Deswita panjang kali lebar sama dengan luas pada anindia.
"Oooh baik dok nanti akan saya sampaikan pada mama. untuk keputusan nya ada ditangan mama!" Jawab nindia tak kuasa memberikan keputusan.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu! Keputusan nya kami tunggu segera ya bu?" Ucap lagi dokter deswita.
"Iyaa dok!" Sahut nindia sembari mengusap punggung alika.
Nindia mengambil ponselnya dan segera menghubungi ema yang berada dirumah. Ema mendengar ponselnya berdering akhirnya bangkit dari tidurnya dan menerima panggilan dari nindia.
"Yaa Hallo nin?" Ujar ema yang sudah menerima panggilan dari nindia.
"Mah! Keadaan alika gawat sekarang mah! Mama bisa kerumah sakit sekarang?" Panik nindia membuat ema membulatkan matanya.
"Alika masih hidup tapi keadaan nya benar-benar gawat! Cepat kesini maahh!" Kata nindia dengan nada paniknya.
"Iya iya mama segera kesana! Mama membersihkan diri dulu!" Sahut ema menutup telfon nya secara sepihak dan langsung berlari kecil menuju kamar mandi.
Ema kalut panik dan khawatir dengan keadaan alika dirumah sakit karena sudah tiga hari tak juga melahirkan dengan segera. Nindia yang panik mencoba menyembunyikan kekhawatiran nya dihadapan alika agar alika juga tidak banyak pikiran. Tak berselang lama ema kini sudah sampai dirumah sakit di dampingi oleh rodiyah dan rombongan lain nya. Ema berlari kecil terus menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang bersalin. Dan akhirnya ema sudah sampai diruangan alika dengan wajah paniknya menghampiri alika dan anindia langsung bergeser memberikan ruang untuk ema mendampingi alika.
"Alika! Apa yang kamu rasain sayang?" Tanya ema mengusap kepala alika dengan lembut.
"Mamaaa...hiks hiks hiks! Sakit mah!" Lenguh alika yang sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan.
"Iyaa sayang sebentar yaa? Mama nemuin dokter dulu! Nanti mama kesini lagi!" Ucap ema mengecup kening alika dengan lembut nya dan memberi kode pada nindia untuk keluar dari ruangan alika.
"Bagaimana yang sebenarnya terjadi?" Tanya ema panik.
"Tadi dokter memeriksa keadaan alika mah! Dokter bilang dia nggak bisa melahirkan secara normal! Kalau normal salah satu dari mereka tidak bisa diselamatkan!" Jelas nindia membuat ema semakin panik.
__ADS_1
"Terus kita harus gimana nin?" Tanya ema khawatir terjadi apa apa pada alika.
"Kita keruangan dokter yang memeriksa alika tadi mah!" Titah nindia menggandeng tangan ema menuju ruangan dokter deswita.
Ema dan nindia melangkah cepat demi keselamatan alika. Ema terus berjalan hingga berhenti didepan ruangan dokter deswita dan mengetuk pintunya dengan tangan gemetar berkeringat dingin masih kepikiran keselamatan alika.
"Tok! Tok! Tok!"
"Yaa masuk!" Ucap dokter deswita mempersilahkan masuk.
"Permisi dok! Maaf mengganggu! Saya orang tua pasien yang bernama alika yang akan melahirkan!" Ucap ema masih berdiri diruangan dokter.
"Baik. Silahkan duduk bu!" Titah dokter mempersilahkan ema duduk di depan meja kerjanya dengan menengadahkan tangan nya di atas meja.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya ema panik.
"Jadi begini bu! Keadaan pasien sangat lemah dan mempunyai gejala serangan panik depresi. Jika pasien melahirkan secara normal maka salah satu nya tidak bisa kami selamatkan! Jadi pasien harus melahirkan secara secar. Menyangkut dengan keadaan pasien ini jalan satu satunya yang terbaik bu!" Jelas dokter deswita membuat ema menitikan air matanya.
"Kenapa anak saya mempunyai gejala serangan panik depresi dok? Apa penyebabnya?" Tanya ema terkejut mendengar kondisi alika.
"Penyebabnya karena pasien terlalu banyak penekanan dan pikiran yang seharusnya ia keluarkan namun dia pendam tak berani mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Apa pasien mengalami banyak tekanan batin selama ini bu?" Tanya dokter ingin lebih tau yang sesungguhnya.
"Iyaa dok! Alika mempunyai suami yang tempramental dan selalu menyiksa alika lahir dan batin nya!" Sahut ema menjelaskan pada sang dokter.
"Baik! Jadi ini fixs harus melakukan persalinan secara secar ya bu! Karena jika melahirkan normal meskipun pasien selamat namun kami tidak menjamin pasien akan sehat mental!" Jelas dokter sudah pasti mengambil keputusan.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dok!" Ucap ema memohon dengan derai air matanya.
"Silahkan tanda tangani berkas ini bu. Berkas menyatakan bahwa ibu menyetujui pasien untuk melakukan persalinan secar!" Kata dokter lagi menyerahkan berkas dan pulpen nya pada ema.
Ema akhirnya menandatangani berkas bahwa dirinya dengan sadar menandatangani surat untuk alika yang akan melakukan persalinan secara secar. Ema tak memikirkan masalah biaya yang harus ia keluarkan. Yang terpenting bagi ema sekarang adalah alika selamat sehat dan tanpa ada cacat apapun setelah ini.
...****************...
BERSAMBUNG
__ADS_1