NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
28.KUATKAN AKU


__ADS_3

Tak terasa hari-hari semakin berlalu. Usia kandungan alika sudah memasuki dua bulan. Alika merasakan ngidam yang luar biasa sehingga dia tidak ingin makan nasi dan tidak ingin makan apapun. Karena diberi makananpun akan keluar lagi dari perut nya. Alika memasuki tahap ngidam nya sendirian tanpa di dampingi suaminya. Alika tidak mau makan nasi, saat melihat nasi membuat dirinya merasa mual. Alika hanya ingin makan mie instan dan sayuran yang berkuah. Tapi apa daya keinginan nya itu terhalang oleh keuangan nya yang tak pernah ia dapatkan. Sehingga alika memberanikan diri untuk berhutang di warung sembako sebelah rumah nya demi bisa mengisi perut nya. Karena hutang sudah menumpuk alika tidak berani berhutang lagi hingga yang punya warung menagihnya pada dariyah sang ibu mertua.


"Alikaa! Alikaaa!" Teriak tajudin dari arah luar menghampiri alika di kamar nya.


"Gubraakk!"


Tajudin membuka pintu kamarnya dengan kasar hingga membuat pintunya membentur dinding. Alika terjingkut saking kagetnya karena ulah tajudin.


"Bangun kamu! Sini!" Bentak tajudin menarik tangan alika dengan kasar hingga alika akan terhuyung ke depan.


"Ada apa sih kamu marah-marah? Aku sedang hamil!" Pekik alika dengan tubuh gemetarnya mencoba memberanikan diri.


"Sekarang aku tanya sama kamu! Kenapa kamu berhutang di warung ibu dartem sampai tujuh puluh lima ribu! Kamu punya suami alika! Jangan bikin malu suami kamu!" Teriak tajudin dengan wajah merah padam menatap alika tajam.


"Apah! Kamu bilang bikin malu? Apa kamu tidak punya otak? Aku ngidam tidak mau makan nasi! Jika makan nasi semua isi perutku kembali keluar! Aku ingin makan sayuran yang berkuah! Ini kemauan bayimu. Bukan keinginanku yang seenaknya sendiri! Sadar tidak kamu tidak pernah memberiku uang sepeserpun. Semua uang yang kamu cari kamu serahkan untuk ibumu! Dengar baik-baik ya? Ibumu itu sudah masih mempunyai suami yang masih bisa memenuhi kebutuhan nya! Lalu kamu anggap aku apa? Hah!" Teriak alika terisak mengeluarkan semua isi hatinya.


"Ibu kan sudah memberi mu uang setiap minggu nya! Kenapa kamu masih berhutang segitu banyak nya?" Tegas tajudin dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Yaa memang ibumu memberiku uang setiap minggunya. Uang yang dia berikan hanya dua puluh ribu untuk satu minggu! Dan menyuruhku untuk berhemat! Memangnya aku anak TK uang satu minggu segitu harus cukup? Jika kamu tak sanggup memberiku uang? Kenapa kau menikahiku? Pulangkan aku kerumah orangtua ku sekarang!" Teriak alika histeris,dia seakan merasa gila lama-lama dirumah suaminya.


Mereka berdua terus berdebat hingga ayah tajudin ikut bicara membuat alika semakin emosi. Alika frustasi merasa tertekan berada dirumah suaminya. Dirinya terus di tekan tak boleh melakukan apa yang mereka larang dan harus menuruti apa yang mereka suruh. Seakan alika sudah menjadi budak suaminya seperti dikehidupan kerajaan.


***


Hari hari alika selalu dipenuhi air mata tanpa ada kebahagiaan satu haripun. Seakan nasib sedang mempermainkan nya. Usia kandungan alika sudah memasuki tiga bulan. Alika masih berusaha untuk tetap kuat dan sabar demi bayi yang ada di kandungan nya. Alika setiap hari melakukan aktifitasnya bak seorang pembantu tanpa istirahat. Karena suaminya tak mengijinkan alika untuk istirahat di siang hari.


"Iyaa kita mengupas kopinya dirumahku saja. Biar lebih nyaman!" Ujar dariyah pada biyung amin sang ibu dari dariyah.


"Kasian menantu kamu. Nanti dia kecapekan membersihkan rumah mu!" Sahut biyung amin tak tega melihat alika yang sudah lelah.


"PRAAAKKHH"


Dariyah menyebar kopi yang ia panen di lantai yang masih basah karena baru saja di pel oleh alika sesuai keinginan mertuanya. Saat alika masuk setelah membersihkan alat pel nya di kamar mandi dirinya dikejutkan dengan tiga orang ibu-ibu yang sudah membuat lantai nya kotor lagi seperti lumpur terkena hujan. Bahkan ada anak kecil yang bermain lari-larian membuat bercak kaki nya menempel dilantai dimana-mana. Alika rasanya ingin teriak dan menjambak rambut mertuanya dan memutarnya hingga dibenturkan ke dinding. Hati nya sakit bagai di tusuk belati panas yang habis dibakar. Ibu mertua yang seharusnya di hormati membuat alika membencinya dan selalu mengusap perutnya sambil menitikan air matanya.


"Yaa Allah ya robbi.. Kuatkan aku menghadapi ibu mertua yang seperti itu." Gumam alika dengan meneteskan air mata nya tanpa ia sadari. "Nak! Jika sudah lahir nanti jangan sampai kau mempunyai sifat seperti nenekmu yang satu ini yaa?" Gumam alika menunduk mengusap perutnya yang masih di dengar oleh diri sendiri.

__ADS_1


Alika yang sudah lelah seharian melakukan aktivitas tanpa henti akhirnya tubuhnya runtuh di atas kasur dan membanjirinya dengan air mata. Alika terus terisak mengingat tingkah ibu mertuanya yang tak pernah menghargainya sebagai menantu. Di saat alika sedang menangis dikamar dia dikejutkan dengan kedatangan tajudin yang membuka pintunya dengan kasar.


"Alika! Ngapain kamu tiduran dikamar? Lihat itu. Lantai sudah kotor begitu kenapa tidak kamu pel? Malah asik-asikan tiduran di kamar! Sini kamu! Cepat pel lantainya sekarang! Dasar istri pemalas. Kerjaan nya hanya tiduran saja!" Teriak tajudin menyeret alika agar keluar.


"Aku sudah mengepelnya! Tapi ibu mu yang membawa kopi untuk dikupas tanpa alas yang akhirnya membuat lantai nya jadi kotor lagi! Jangan salahkan aku dong! Salahkan ibu mu yang harus membersihkan nya!" Pekik alika memberanikan diri untuk membela dirinya sendiri.


"Mana ibu? Dia sedang di kebun mencari kayu bakar! Aku tadi bertemu dengan nya di jalan. Jangan mengadu domba antara aku dan ibu yaa?" Ucap tajudin dengan nada tinggi nya.


"Yaa Allah yaa robbi. Suami seperti apa yang kau berikan padaku ya Allah? Bahkan dirinya menganggap aku seperti robot yang seakan tubuhnya tak pernah lelah! Aku sudah tidak sanggup dengan semua ini ya robbi!" Gumam alika dalam hati menatap tajam tajudin yang masih memarahinya.


Tubuh alika runtuh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya tanpa mendengarkan ocehan tajudin yang memekikan telinga. Alika tak tahu bagaimana lagi menghadapi suami nya saat ini.


"Sudah jangan drama sampai menangis seperti itu! Aku tahu kamu hanya tiduran saja seharian karena malas mengerjakan ini semua! Nih pel sekarang! Aku tunggu di depan sampai kamu selesai membersihkan nya!" Titah tajudin dengan kasar pada alika yang seakan menjadi budaknya.


Alika berdiri dan mengepel lantai sampai pinggang nya terasa sakit dan ngilu. Tubuh alika gemetar karena dia tidak makan nasi. Dia hanya makan singkong rebus hingga terasa kenyang. Alika mengepel sambil meneteskan air matanya. Seakan dirinya ingin sekali membunuh suaminya yang sudah memperlakukan nya seperti pembantu yang tidak ada harganya.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2