NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
8. AKU TAKUT


__ADS_3

Sampai saat ini alika masih saja takut jika tajudin meminta haknya pada alika. Tajudin sudah sangat sabar terhadap sikap alika yang seperti anak kecil. Saat malam di jam sebelas malam suasana dirumah tajudin sudah seperti makam tanpa suara. Didesa semua penduduk rata-rata sudah tidur di jam delapan malam. Karena mereka bangun di jam tiga pagi untuk menyiapkan makanan saat akan pergi ke sawah. Alika bangun dari tidurnya di jam sebelas malam dan perutnya sangat lapar sekali. Dia berinisiatif untuk pergi kedapur mencari makanan yang membuat perutnya kenyang. Setelah sampai didapur dia tidak menemukan makanan apapun selain singkong mentah yang berceceran ditanah karena baru panen. Alika melihat ada singkong mentah dan ingin memasaknya namun tidak tahu dengan cara seperti apa untuk membuatnya.


"Bagaimana cara mengupasnya yah?" Alika berfikir sambil mencari alat untuk memotong singkong nya.


Alika duduk di kursi pendek yang seakan dirinya sedang berjongkok. Dia terus mencari alat agar bisa membuat singkong itu matang. Namun tajudin yang berbalik badan menghadap ketempat alika biasa tidur tidak melihat istrinya disampingnya. Tajudin yang panik langsung beranjak mencari istrinya ke belakang rumahnya. Tajudin tahu betul alika belum berani pergi ke kamar mandi sendirian tengah malam. Tajudin keluar dengan langkah lebar mencari alika. Namun dirinya lega saat melihat alika sedang memilih singkong dihadapan nya.


"Alika. Sedang apa kamu disitu?" Tanya tajudin yang melihat alika hanya membolak balikan singkong ditangan nya.


"Aku sangat lapar. Aku ingin memasaknya hingga matang. Tapi aku tidak tahu cara mengupasnya!" Jawab alika dengan nada sendu menahan lapar.


"Hmm kenapa tidak membangunkan aku?" Tanya tajudin yang sudah berjongkok di samping alika.


"Aku tidak mau membuatmu marah-marah tengah malam!" Sahut alika jujur karena tajudin selalu marah jika dirinya minta tolong.


"Sini biar aku saja yang mengupasnya!" Ujar tajudin yang tidak tega melihat alika menahan lapar.


Tajudin akhirnya mengambil pisau untuk mengupas singkong dihadapan alika. Alika melihat cara tajudin mengupas singkong dengan mudahnya hanya satu kali kupas singkong sudah terbebas dari kulitnya. Alika terus memperhatikan cara tajudin mengupas singkong agar jika dirinya lapar alika bisa melakukan nya sendiri.


"Ingin dimasak seperti apa yang kamu mau?" Tanya tajudin yang tidak tahu selera alika.


"Mau aku rebus dengan garam lalu aku goreng hingga matang!" Jawab alika yang menurutnya singkong itu akan enak jika dimasak seperti itu.


"Hmm yaa tunggu. Diam saja disitu jangan kemana-mana!" Titah tajudin agar alika tidak membuatnya repot.


Tajudin beranjak mencuci singkong itu dan memotong dadu lalu kembali ke dapur. Tajudin mencari bahan kayu bakar untuk dinyalakan. Alika yang melihat tajudin mondar mandir kesana kemari agar bisa menyalakan tungkunya seakan tidak sabar.

__ADS_1


"Kenapa tidak pakai kompor saja? Tinggal ceklek lalu menyala apinya!" Ujar alika yang tidak sabar melihat tajudin memasak singkong nya.


"Sudah kamu diam saja! Jangan banyak bicara!" Jawab tajudin kesal mendengar alika yang banyak bicara.


"Hmm bisa tidak sih. Jika diajak bicara tuh gak pakai emosi?" pekik alika yang kesal pada suaminya yang selalu marah.


Tajudin tidak menjawab ucapan alika. Dia hanya diam saja sibuk menyalakan api dan mengisi air untuk merebus singkong nya. Setelah bergelut dengan yang dilakukan oleh mereka berdua akhirnya singkong pun matang. Karena sudah terlalu lapar alika langsung saja menyerobot singkong itu saat masih panas.


"Aauuww panas!" Ucap alika sambil melepaskan singkong ditangan nya yang terasa sangat panas.


"Hmm sabar. Singkong nya baru saja matang!" Ujar tajudin yang ingin tertawa namun ditahan nya takut ada yang terbangun.


Alika tidak mendengarkan ucapan tajudin karena sudah sangat malam. Alika akhirnya mengambil garpu agar bisa menusuk singkongnya dengan mudah agar dirinya bisa cepat makan. Tajudin membawanya ke ruang keluarga dan menyalakan televisi agar alika memakan singkong dengan santai. Alika memakan singkong dengan lahapnya meskipun masih dalam keadaan panas. Tajudin terkejut saat melihat singkong itu sudah ludes tak tersisa saat akan kembali memakan nya.


"Alika. Singkong nya kemana?" Tanya tajudin sambil mengangkat piring nya dan clingukan mencari singkong.


Tajudin menggelengkan kepalanya. Tak percaya istrinya bisa serakus itu jika lapar. Alika hanya makan satu hari sekali jika semuanya sudah pergi ke sawah dan hanya dirinya saja dirumah sendirian. Alika yang tak pernah melihat ada lauk dimeja makan dirinya selalu mencuri telor ayam yang dipojok belakang pintu samping rumah tajudin. Banyak ayam yang bertelur dirumah tajudin. Terkadang alika mengambil telur itu untuk dimasak agar bisa makan nasi setiap pagi. Alika tidak pernah menceritakan masalah rumah tangga nya pada ema. Alika tidak ingin melihat ibunya sedih jika mendengar dirinya tak diperlakukan baik oleh keluarga suaminya. Alika yang sudah kenyang akhirnya menguap tanpa malu didepan tajudin.


"Sudah ah aku mau tidur lagi!" Ujar alika yang tidak peduli dengan tajudin yang sudah menemaninya makan.


"Kamu tidak memperdulikan aku yang sudah membuatkan makanan untukmu?" Kesal tajudin yang melihat alika langsung berdiri dan akan melangkah ke kamarnya.


"Hmm lalu aku harus bagaimana? Menggendongmu sampai kamar begitu maksud kamu?" Sahut alika yang tidak tahu harus melakukan apa.


Tajudin yang gemas akhirnya menggendong alika ke kamar dan membuat alika teriak ditengah malam. Dariyah yang kamarnya disamping tajudin terkejut saat mendengar suara teriakan dirumahnya.

__ADS_1


"Turunkan aku! Jangan seperti ini!" Pekik alika yang risih ketika tajudin melakukan itu.


Tajudin langsung membanting alika diatas kasur hingga alika terlentang. Tajudin sudah terlalu sabar menahan hasratnya hingga dua minggu ini. Tajudin langsung saja menindih tubuh alika diatasnya. Alika yang mendapat perlakuan seperti itu menutup dadanya dengan kedua tangan nya. Karena takut tajudin akan menarik paksa bajunya seperti waktu malam itu.


"Ka-kamu mau apa?" Tanya alika dengan nada bergetar menahan takut.


"Aku sudah tidak tahan alika. Aku mohon jangan menolak jika tidak ingin aku menamparmu!" Ujar tajudin dengan suara berat dan serak yang sudah tidak tahan apa yang dirasakan nya.


"Ak..Emp.." Alika sudah tak bisa bicara karena bibirnya lebih dulu dibungkam oleh tajudin yang menciumnya dengan rakus.


Alika tidak bisa berbuat apa-apa saat tajudin mengunci tangan nya dibawah tubuh alika. Alika pasrah tak bisa menolak apa yang dilakukan suaminya itu. Tajudin melepas pagutan bibirnya dengan alika karena melihat alika kesulitan bernafas.


"Jangan seperti ini. Aku mohon!" Ujar alika dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa kamu selalu menolak alika?" Tanya tajudin dengan mata sayu dan suara yang berat.


"Aku takut!" Sahut alika yang memang masih takut untuk melakukan nya.


"Apa yang kamu takuti?" Ucap tajudin yang masih dengan posisi menindih alika.


"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa takut sekali!" Ungkap alika dengan nada memelas.


Tajudin akhirnya berbalik merebahkan dirinya disamping alika. Tajudin tidak ingin memaksa kondisi alika yang masih belum siap. Alika tidak tega melihat tajudin yang sudah terlalu sabar menahan nya. Namun alika tidak bisa menahan rasa takutnya yang lebih besar.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2