
"Astaghfirullah! Tajudiiinnnn!!" Teriak tareni yang melihat tajudin mencekik tengkuk alika dengan wajah seperti kesetanan.
Bhug! Bhug! Bhug!
Wardiyo menghajar tajudin hingga tersungkur ke lantai.
Alika yang sudah hampir kehilangan nyawanya terus menghirup udara dengan rakus nya dan terjatuh dengan posisi bersandar di dinding. Tareni terus mengusap punggung alika agar menghangat. Tareni membantu alika bangkit dari duduk nya di lantai dan membawanya keluar kamar. Dariyah dan darun akhirnya juga ikut terbangun karena kegaduhan yang terjadi dirumah nya jam sebelas malam.
"Ada apa ini tarenii?" Pekik dariyah yang terbangun menghampiri mereka.
"Tajudin bu! Tajudin mencekik alika seperti orang kesurupan!" Jelas tareni memeluk bahu alika dan menenangkan nya.
"Astaghfirullah. Lalu gimana alika? Kamu baik-baik saja?" Tanya dariyah khawatir pada alika.
Alika hanya menganggukan kepalanya saja masih tidak mampu untuk menjawab nya. Tareni masih mengusap punggung alika agar terasa hangat dan bisa bernafas dengan lega. Darun sang ayah yang masih berdiri terpaku melihat kegaduhan dirumah nya malah membela tajudin dan menyalahkan alika.
"Ini juga karena ulah kamu sendiri! Kamu yang tidak pernah mau menurut kemauan tajudin. Jadi dia selalu menyiksamu! Jika tidak ingin dia marah dan menyiksamu maka kamu harus nurut perintah suami!" Pekik darun menyalahkan alika.
Alika, dariyah dan tareni tak ada yang mau menjawab takut ayah mertua nya semakin marah. Wardiyo terus menghajar tajudin tanpa ampun hingga ancaman terus keluar dari mulut wardiyo.
"Kamu itu pria pengecut! Berani nya sama perempuan! Alika itu anak orang yang harus dijaga bukan disiksa!" Oceh wardiyo terus menghajar wajah tajudin.
Darun akhirnya melerai mereka berdua dengan tenang nya tanpa rasa khawatir karena bagi darun sudah biasa melihat mereka berkelahi seperti itu.
"Sudah! Sudah jangan teruskan! Wardiyo cukup!" Pekik darun pada mereka berdua.
Wardiyo akhirnya menuruti perintah sang ayah dan bangkit dari atas tubuh tajudin. Tajudin yang mendapat pukulan terus meringis menahan sakit dengan wajah yang sudah babak belur. Wardiyo menghampiri alika ingin menanyakan keadaan nya.
"Gimana alika? Kamu sudah tidak apa-apa kan?" Tanya wardiyo dengan nafas yang tak beraturan.
"Aku tidak apa-apa kak!" Sahut alika dengan suara serak nya yang masih menangis.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai dia kalap seperti itu alika?" Tanya lagi wardiyo berada di hadapan alika.
"Aku hanya ijin ingin pulang kerumahku kak! Aku ingin melahirkan disana sama mamaku! Tapi dia menyuruhku untuk selamanya disini tak usah kembali lagi kerumahku! Jadi aku memaksanya karena aku sudah ijin dari sejak aku masih hamil empat bulan tapi dia malah mencekik aku!" Jelas alika sesenggukan dengan tangis nya.
"Kamu ingin pulang? Pulang lah! Jika terus disini kamu bisa mati berdiri karena suamimu!" Tegas wardiyo memberi keputusan secara sepihak dengan posisi berdiri dihadapan alika.
Alika tak menjawab ucapan wardiyo. Dia hanya menganggukan kepalanya dan mengusap air mata nya yang terus mengalir. Tareni dan dariyah duduk disamping kiri dan kanan alika. Wardiyo yang masih berdiri dihadapan alika tak memperdulikan keadaan tajudin. Darun membawa tajudin ke dapur untuk mengompres wajahnya yang penuh lebam.
Kini semua keadaan sudah tenang namun alika tak ingin kembali tidur dikamar bersama suaminya. Alika hanya ingin tidur di ruang keluarga tanpa ditemani tajudin. Akhirnya wardiyo menyuruh tareni untuk menemani alika tidur bersama diruang tv agar alika bisa tenang dengan tidur nya dan akhirnya semua telah terlelap dengan damai.
Tak terasa hari telah berganti pagi. Suasana dirumah tajudin seperti suasana yang sepi sunyi seperti kuburan. Alika duduk diteras depan rumah ditemani tareni dan kedua anaknya untuk menghibur. Sedangkan dariyah seperti biasanya pergi ke kebun untuk mencari kayu bakar. Begitu juga dengan yang lain melakukan aktifitas seperti biasanya. Alika menelfon ema ditemani reni diteras depan bersama wardiyo untuk menguatkan.
"Assalamualaikum maah!" Ucap alika yang sudah tersambung dengan telfon ema.
"Waalaikumsalam sayang! Tumben anak mama telfon? Gimana keadaan kamu disana alika?" Sahut ema diseberang telfon.
"Alika sehat mah! Mama gimana kabarnya?" Tanya alika dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis nya.
"Mama sehat sayang! Bagaimana nak? Ada apa telfon mama?" Tanya ema diseberang telfon karena baru pertama kali menelfon mamanya selama berada dirumah tajudin.
"Kamu kenapa menangis? Apa tajudin kembali membuat masalah denganmu?" Sahut ema dengan nada khawatir mendengar suara alika yang menangis.
"Mama bisa kan jemput alika kesini? Alika sudah tidak tahan disini mah! Hiks..hiks..hiks.." Ucap alika memohon pada ibunya untuk menjemputnya.
"Baiklah nanti mama jemput yaa? Mama minta tolong sama adikmu agar bisa mengantar mama menggunakan mobilnya! Jangan menangis sayang! Secepatnya mama memberi kabar kapan menjemputmu yaa?" Sahut ema menenangkan alika yang masih sesenggukan.
"Iyaa mah! Jangan lama-lama yaa mah! Alika sudah ingin pulang!" Ujar alika mengusap air matanya.
"Iyaa sayang! Mama tutup telfon nya yaa.. Mama telfon nindia dulu untuk memastikan kapan dia bisa mengantar mama menjemput kamu!" Jawab ema dengan tegas.
"Iyaa mah! Assalamualaikum!" Ucap alika sudah lebih tenang karena mendengar ema akan menjemputnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam!" Sahut ema memutuskan telfon nya.
Alika menatap handphone nya dan menatap wardiyo juga tareni yang berada disamping nya mendampingi alika.
"Gimana alika? Mama kamu bisa jemput?" Tanya wardiyo memastikan.
"Mama akan telfon adikku dulu yang mempunyai mobil untuk mengantar mama kesini!" Jawab alika sesekali menoleh kearah wardiyo.
"Yaa sudah kita tunggu jawaban mama kamu yaa? Jika mama kamu tidak bisa menjemputmu biar aku yang akan mengantarmu pulang!" Ucap wardiyo berusaha menguatkan alika.
"Tidak usah kak! Jika mama tidak bisa aku pulang sendiri saja!" Sahut alika merasa tidak enak dengan tareni karena takut kembali salah faham.
"Nggak apa-apa alika! Aku percaya sama kamu dan suamiku tidak mungkin berbuat macam-macam di belakangku!" Ucap tareni dengan mengusap bahu alika dengan senyum simpulnya.
"Terimakasih kak! Semoga kebaikan kalian dibalas lebih besar dari Allah! Amin." Jawab alika memeluk terani.
Tareni dan wardiyo terus mendampingi alika bagai bodyguart alika yang selalu menjaga alika dua puluh empat jam. Kini hari sudah semakin siang membuat alika gelisah karena sampai jam sebelas siang ema belum mengabari pada alika kapan akan menjemput alika. Alika ingin dirinya pulang hari ini juga karena sudah tidak tahan dan sudah tidak ingin malam ini tidur bersama suaminya. Namun handphone alika yang berbunyi membuyarkan lamunan nya. Ema kembali telfon alika sesuai ucapan nya.
"Triing! Triing! Triing!"
"Hallo mah!" Ucap alika menjawab telfon ema.
"Iyaa alika! Alika nindia bisa mengantar mama hari ini juga nak! Mama sudah menjelaskan masalahmu padanya. Jadi dia memahami keadaanmu sekarang! Sebentar lagi adikmu menjemput mama dirumah lalu langsung pergi menjemputmu kesana! Kamu siapkan semua nya yang akan dibawa pulang yaa? Tunggu mama yaa nak!" Ucap ema panjang lebar dengan nada khawatir karena mendengar alika mempunyai masalah.
"Iya mah! Alika akan menyiapkan semuanya! Mama hati-hati yaa. Alika tunggu!" Sahut alika dengan antusias.
"Yaa sudah. Assalamualaikum!" Ucap ema tegas.
"Waalaikumsalam!" Sahut alika memutuskan telfon nya.
Alika langsung beranjak melangkah menuju kamarnya dan mengambil koper dan menyiapkan seluruh pakaian nya untuk dibawa pulang. Tareni yang mendengar alika akan dijemput hari ini juga membantu alika mengemasi barang nya dan wardiyo selalu berjaga jika tajudin tak terima melihat alika akan pulang dijemput sang mama.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG