
Kini sudah dua minggu alika berada dirumah nya sendiri. Namun tajudin tak kunjung datang untuk memperjelas hubungan nya dengan alika. Alika berharap ada niat baik dari keluarga tajudin untuk memperbaiki kesalahan mereka. Tapi kenyataan nya mereka tak pernah datang untuk menunjukan kebaikan nya. Alika selalu melamun sendirian di depan rumah nya menatap kendaraan yang berlalu lalang di depan rumah nya.
"Alika! Jangan melamun sayang!" Ujar ema mengagetkan alika.
"Eh mama! Alika nggak melamun mah. Alika cuma memikirkan tentang hubungan alika dengan tajudin kedepan nya." Jawab alika kembali menatap jalan raya.
"Jangan terlalu banyak pikiran nak. Nanti bayimu jadi terganggu." Ujar ema berusaha menenangkan anak gadisnya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi dia dan keluarganya." Jawab alika menatap ema sekilas."Mah. Kenapa dari dulu alika selalu mendapatkan sikap keras dan siksaan dari orang lain? Bahkan dari keluarga alika sendiri! Sebenarnya apa salah alika mah? Kenapa alika selalu mendapatkan sikap seperti itu?" Ucap alika yang sudah merasa lelah dengan kehidupan nya yang selalu mendapatkan kekerasan sejak kecil.
"Alika..!" Sahut ema kemudian memeluk erat kepala alika di dadanya.
Dengan derai air mata ema tak bisa berkata lagi. Ema merasa bersalah dan berdosa pada alika yang selalu tulus jika berhadapan dengan siapapun. Nasib dan Takdirnya tak secantik wajah nya. Alika terus berusaha kuat menerima benturan demi benturan cobaan dan ujian nya.
***
Tak terasa sudah tiga minggu alika masih setia berada di kampung halaman nya. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tajudin datang kerumah alika sendirian tanpa di dampingi keluarga nya. Tajudin akan menerima cacian dan hinaan dari mertua nya.
"Assalamualaikum!" Ucap tajudin masih di ambang pintu karena belum di persilahkan masuk.
"Waalaikumsalam! Eeh kamu tajudin. Masuk lah!" Titah ema menyuruh menantunya masuk dengan wajah datar berusaha mengontrol emosi nya.
"Iyaa bu!" Sahut tajudin lalu melangkah masuk ke dalam rumah mertuanya dan duduk diruang tamu.
Ema yang sudah sampai diruang keluarga tak melihat tajudin saat menoleh ke belakang. Ema mencari keberadaan menantunya dengan mata yang memutar.
"Tajudiin! Teriak ema dari ruang keluarga."Sini masuklah! Jangan diluar!" Pekik ema dengan sedikit nada tinggi nya.
Tajudin tak menyahut karena langsung beranjak melangkah masuk dengan langkah lebar. Tajudin sudah tahu dirinya akan mendapatkan sidang dari mertuanya. Tajudin sudah siap dan pasrah dengan segala caican dan makian yang akan keluar dari mulut mertuanya. Tak ada rasa takut dari sorot matanya. Hanya ada rasa dendam di benak nya pada sosok alika. Entah bagaimana sifat tajudin yang sebenarnya.
__ADS_1
"Duduk lah! Kamu mau minum teh atau kopi?" Tanya ema setelah tajudin duduk di karpet permadani.
"Seadanya saja bu. Jangan terlalu dipaksakan!" Jawab tajudin sedikit sungkan.
Ema akhirnya bergegas melangkah ke dapur membuatkan teh untuk tajudin. Alika sedari tadi hanya terdiam tak dapat bicara. Bibirnya seakan terkunci, lidahnya seakan alot dan terasa kaku. Alika hanya terus menatap wajah suaminya dengan tajam penuh amarah.
"Bagaimana kabarmu dek?" Tanya tajudin basa-basi.
"Baik!" Jawab alika singkat tanpa menatap suaminya.
"Kenapa kamu pulang tidak berpamitan? Jika berpamitan lebih dulu aku akan mengantarmu!" Ujar tajudin menghilangkan rasa gugupnya.
"Apah? Kamu akan mengantarku? Apa aku tidak salah dengar? Aku meminta uang padamu tiga puluh ribu untuk memeriksakan kandunganku di bidan terdekat saja kamu jawab tidak punya uang! Bahkan kamu bilang kandunganku akan sehat-sehat saja walau tanpa di periksa! Lalu kamu bilang akan mengantarku saat aku minta pulang? Hahahaha rasanya kambing saja akan tertawa jika mendengar kamu bicara seperti itu!" Kesal alika yang sudah malas mendengar suaminya basa basi.
Tajudin tak menyahut ucapan alika. Dia hanya tersenyum kecut seakan merasa direndahkan oleh istrinya. Alika juga selalu berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. Tak berselang lama ema datang sembari membawa teh tiga cangkir untuk tajudin, alika dan diri nya sendiri.
"Iyaa bu terimakasih!" Jawab tajudin sambil mengambil teh nya.
Setelah ema bergabung suasana menjadi hening tanpa ada yang bicara. Tajudin sibuk mengusap-ngusap kakinya. Dan alika masih fokus menonton tv yang masih menyala. Akhirnya ema memulai pembicaraan.
"Bagaimana keadaan keluarga disana tajudin?" Tanya ema dengan ekspresi datarnya tanpa senyuman.
"Semuanya baik alhamdulillah bu!" Sahut tajudin masih dengan mengusap kakinya.
"Tajudin! Mama ingin bertanya padamu!" Ujar ema sudah mulai meremang karena emosinya.
"Iya bu!" Sahut tajudin sudab mulai gugup.
"Kenapa alika pulang dalam keadaan kurus kering seperti ini? Saat dia dibawa pergi dia cantik mulus dan berisi! Kenapa sekarang keadaan nya seperti ini seperti orang cacingan?" Tanya ema dengan nada mengintimidasi.
__ADS_1
"Alika susah bu! Aku sudah suruh dia makan tapi dia tidak mau makan! Malah minta jajan ini dan itu. Melihat anak-anak makan jajan dia kepengin. Bagiku itu boros bu! Lebih baik makan yang kenyang jadi tidak ingin jajan ini itu!" Sahut tajudin dengan percaya dirinya menyalahkan alika yang seakan kehidupan nya boros karena banyak keinginan.
"Jajan apa sih yang kamu inginkan alika?" Tanya ema pada alika agar tak balik disalahkan oleh menantunya.
"Jajan itu loh mah yang di warung. Kayak chiki sama jajan makaroni asin yang harga nya lima ratus rupiah saja!" Jelas alika dengan penuh keyakinan.
"Apah? Jajan hanya lima ratus rupiah saja kamu bilang boros tajudin? Lalu jajan seperti apa yang tidak boros bagimu?" Tanya ema masih berusaha menahan emosinya."Kecuali, alika setiap hari selalu ingin makan bakso, mie ayam, capcay, baru kamu boleh bilang anak mama boros. Ini cuma sekedar chiki yang dijual diwarung kamu bisa bilang boros? Hem! Dimana kamu menaruh pikiran mu? Aku tidak habis pikir dengan pria seperti mu!" Ketus ema pada menantunya yang terlalu pelit pada istrinya sendiri.
Tajudin tak menyahut ucapan ema. Dia hanya menanggapinya dengan tersenyum kecut telah mendapatkan ocehan dari mertuanya. Alika hanya diam saja tak banyak bicara. Karena dirinya sudah sangat kecewa dengan sikap suaminya terlalu pelit yang berlebihan.
"Apa kamu tidak bekerja sehingga tak pernah memberi uang pada istrimu?" Tanya ema dengan nada tingginya.
"Aku bekerja mah! Aku membuat gula merah setiap hari dan dijual dipasar setiap minggu." Sahut tajudin dengan penuh percaya diri.
"Lalu? Berapa setiap minggunya kamu mendapatkan uang dari hasil jualanmu?" Tanya ema penasaran pada menantunya yang bahkan setiap hari tak pernah memberi nafkah pada anaknya.
"Satu minggu saya mendapatkan delapan ratus ribu dengan menjual gula merah dipasar." Sahut tajudin dengan jujur.
"Lalu kemana uang yang kamu dapatkan selama ini?" Tanya ema karena mendengar dari alika beberapa minggu yang lalu.
"Aku serahkan sama ibuku! Dan kebutuhan alika sudah terpenuhi dibantu oleh ibu!" Jawab tajudin tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kamu menikah dengan alika atau dengan ibumu?" Tanya ema yang mulai tersulut emosi."Bahkan ibumu setiap hari menyiksa alika dengan masak nasi yang seperti bubur. Dan menyiksa alika dengan berbagai kelakuan nya? Bahkan alika sudah berulang kali memberitahu bahwa dia tidak suka dengan nasi yang hampir mendekati bubur sampai dia makan singkon dan sayuran setiap hari tanpa nasi! Saat alika yang akan memasak nasinya dilarang oleh ibumu karena takut alika tidak bersih mencuci berasnya! Memangnya alika itu anak keturunan pengemis apah! Sampai keluargamu memperlakukan alika seperti itu? Bahkan alika menyentuh makanan kalian saja kalian merasa jijik! Memangnya alika anak pemulung? Apa alika anak pengemis? Atau bahkan alika anak orang gila yang dipungut dipinggir jalan? Alika anakku yang seperti berlian dimata semua pria yang menyukainya. Namun hanya terhalang bukan jodoh jadi alika mau menerima kamu! Bagi mama. Kamu yang dari keturunan pemulung sehingga mempunyai banyak harta sedikit saja tak rela mengeluarkan nya. Bila perlu kotoran kamu sendiri yang kamu makan demi mempunyai harta melimpah!" Oceh ema panjang kali lebar sama dengan tinggi dengan nada yang cukup tinggi meluapkan segala emosinya pada tajudin yang tak pernah menghormati anaknya sebagai istri.
Tajudin yang mendengar ucapan ema hanya menunduk tak bisa mengeluarkan kata-kata nya. Tajudin tak menyangka kedatangan nya ingin menyalahkan alika dengan berbagai keluhan dan mencaci maki di depan ibunya justru berbalik pada dirinya sendiri yang telah dicaci maki oleh mertuanya. Alika hanya bisa diam tanpa kata. Alika tak ingin banyak bicara karena semua sudah di wakilkan oleh ibunya yang sudah mengeluarkan segala ucapan nya.
...****************...
BERSAMBUNG
__ADS_1