
Tak terasa sudah satu minggu tajudin bekerja dengan fajri sang adik ipar. Fajri sengaja menyuruh tajudin bekerja agar alika bisa mendapatkan penghasilan dari uang nafkah suaminya. Tajudin bekerja dengan tekun tanpa libur karena dirinya bekerja dengan keluarga alika. Tapi bukan nya menjaga nama baik dirinya sendiri justru tajudin malah memperlihatkan keburukan nya di keluarga alika. Alika yang sudah tidak peduli suaminya mau bagaimana hanya diam saja tak banyak komentar. Namun sikap tajudin membuat yang lain geram dengan kelakuan nya. Anindia selama menjaga stand es nya selalu laris dan bahkan satu hari bisa mendapatkan omset 500 ribu perhari. Setelah dijaga oleh tajudin jangankan 500 ribu, 200 ribu saja tidak ada. Nindia curiga pada tajudin jika tajudin tidak jujur dalam bekerja. Anindia berinisiatif menanyakan nya pada alika sang istri siapa tau mendapatkan jawaban nya dengan menelfon alika.
"Triing! Triing! Triing!"
"Yaa Hallo!" Sahut alika yang sudah menerima telfon nya.
"Hallo kak! Mmm apa suamimu berangkat kerja hari ini?" Tanya nindia di seberang telfon nya.
"Iyaa.. Kenapa? Apa ada masalah?" Jawab alika dan menanyakan masalahnya.
"Apa kakak diberi uang oleh dia setiap hari?" Tanya nindia karena takut yang difikirkan adalah nyata.
"Tidak! Memang nya kamu memberi gaji setiap hari untuk dia?" Jawab alika dan kemudian bertanya tentang suaminya dengan wajah yang sudah mulai kesal.
"Yaa.. Aku memberinya gaji 50 ribu perhari. Dan uang makan nya 20 ribu. Apa dia tidak memberikan nya untukmu?" Tanya nindia yang sudah mulai curiga.
"Jangankan 50 ribu. Lima ribu saja dia nggak kasih uang buat aku!" Sahut alika agar nindia tau yang sebenarnya.
"Baiklah kalau gitu! Aku hanya butuh informasi saja agar tidak salah sangka! Mungkin nanti fajri akan menghentikan dia bekerja untuk sementara waktu. Karena sekarang sedang turun omset!" Ujar nindia dengan nada lembutnya takut alika marah dan salah faham.
"Pecat saja jika itu mau kamu! Pria seperti dia nggak akan mengakui kesalahan nya. Aku tidak masalah jika kamu memecatnya. Toh selama dia bekerja juga tidak pernah kasih uang buat aku! Pria seperti dia yang nggak punya tanggung jawab meski berusaha berubah hasilnya akan tetap sama! Emang dasar dari sana nya udah nggak ada niat mempunyai tanggung jawab pada istri dan anaknya!" Jelas alika yang sudah mulai emosi karena tajudin sudah berulah dan membuat malu alika.
"Yaa sudah. Maaf yaa kak jika aku memecatnya. Karena memang saat ini omset benar benar turun!" Ucap lagi nindia diseberang telfon nya merasa tidak enak hati pada sang kakak.
"Nggak masalah. Santai ajah nin! Aku juga sudah tidak mengharapkan apapun dari suami seperti dia!" Sahut alika tak ingin nindia merasa sungkan.
"Baiklah kalau gitu aku tutup telfon nya yaa? Maaf jika aku dan fajri ada salah!" Ucap nindia meminta maaf takut alika tersinggung.
"Iyaa.. Maafin aku juga karena suamiku sudah berbuat memalukan!" Sahut alika dengan bijaksana.
__ADS_1
"Iyaa kak! Assalamualaikum." Ucap salam nindia dan menutup telfon nya.
"Waalaikumsalam..!" Gumam alika menjawab salam nindia karena telfon sudah dimatikan lebih dulu.
Alika yang mendengar kabar dari adiknya merasa geram dengan sifat suaminya yang bikin malu. Alika terus ngedumel sambil mengurus anaknya yang ia panggil dengan sebutan LALA. Alika menjuluki anaknya dengan nama tengah anaknya dari nama Shifa Ashilla Rahma dan mengambil nama tengah nya dari Ashilla yang nama ujung diakhir LA dibaca dobel jadi LALA. Selama seharian alika menunggu kedatangan tajudin karena hanya ingin tau apakah suaminya itu akan menyerahkan uang gajinya selama ini untuk alika atau masih tetap diam tak memberikan nafkah untuk alika sedangkan dirinya tidak malu numpang makan dengan mertuanya tanpa memberi biaya meski hanya sekedar membelikan beras.
Saat hari sudah berganti malam akhirnya yang ditunggu pun datang dengan wajah sumringah tanpa mempunyai rasa bersalah sedikitpun yang membuat alika semakin membenci suaminya sendiri. Alika sengaja diam tak menanyakan apapun karena alika ingin tau seberapa tanggung jawabnya tajudin sebagai suami pada istrinya.
"Assalamualaikum!" Ucap tajudin masuk ke kamar alika.
"Waalaikumsalam!" Jawab alika ketus yang fokus dengan anaknya tanpa menoleh ke arah tajudin.
"Nih.. Buat kamu!" Ucap tajudin menyerahkan sesuatu pada alika.
Alika terkejut karena tajudin tidak memberikan nafkah nya justru dia membeli handphone android dari gajinya selama ini untuk alika. Entah apa yang ada dipikiran tajudin sampai membeli ponsel yang sama sekali tidak dibutuhkan oleh alika.
"Handphone! Ini untukmu!" Ucap tajudin tanpa rasa bersalah.
"Dimana kamu menaruh otakmu? Aku sudah punya Hp! Untuk apa kamu beliin aku hp murahan seperti itu? Aku butuh nya duit bukan Hp! Kamu tau duit kan?" Jelas alika dengan mata melotot di depan wajah tajudin dengan nada tingginya.
"Aku ingin membelikan sesuatu untuk kamu! Jadi aku beli hp ini dari gajiku! Bukan menghargai pemberian suami. Kamu malah menghinaku! Sebenarnya apa sih mau mu?" Ujar tajudin yang entah otak nya ditaruh dimana.
"Hahahahahaha.. Aku baru tau kalau selama ini tuh suamiku goblok nya luar biasa! Kamu kan sudah tau aku punya Hp? Kenapa kamu malah beliin aku hp lagi? Memangnya kamu ingin aku punya berapa Hp?" Ucap alika yang tak tau letak kewarasan suaminya.
"Haahh sudah lah! Hidup sama kamu aku selalu saja salah dimata kamu!" Kesal tajudin dan pergi dari kamar alika lalu pergi keluar entah kemana.
Alika yang merasa heran dengan sikap suaminya hanya geleng geleng kepala. Entah suami seperti apa yang menikahi alika saat ini. Alika selalu dibuat marah dan kecewa dengan sikap suaminya yang bodoh nya melebihi anak kecil. Setiap hari alika selalu saja berada dikamarnya tanpa berkomunikasi dengan orang luar. Alika selalu berfikir berinteraksi dengan orang luar hanya membuat dirinya sakit hati saja. Jadi alika selalu memutuskan untuk selalu berdiam diri dikamarnya karena malas bertemu dengan pria pria yang hanya ingin menggodanya saja tanpa memikirkan perasaan alika.
Keesokan harinya alika melakukan aktivitas seperti biasanya memandikan anaknya dan setelah itu menyusuinya lalu dirinya pergi mandi agar lebih segar. Alika memutuskan ingin keluar dari rumahnya hari ini karena ingin menghirup udara segar diluar rumah nya. Selama melahirkan alika tidak pernah sekalipun keluar dari rumahnya sampai anaknya berusia 3 bulan. Setelah berganti siang tajudin lagi lagi membuat masalah hingga membuat alika jadi naik darah. Nasi yang baru dimasak di rice cooker sudah tinggal dua piring karena tajudin yang menghabiskan nya. Ema yang melihat rice cooker nya berubah jadi kosong begitu sangat terkejut karena hanya tinggal itu saja beras yang bisa dimasak hari ini.
__ADS_1
"Alikaaa..Alikaa..!" Teriak ema setelah melihat rice cooker nya hampir tidak ada nasi.
"Ada apa mah? Jangan teriak anakku baru saja tidur!" Kesal alika pada ema karena alika sudah lelah menggendong anaknya yang rewel sedari tadi.
"Apa kamu sudah makan?" Tanya ema dengan nada sedikit tinggi.
Alika mengerutkan kening nya mendengar pertanyaan ema. "Belum! Kenapa?"
"Kenapa nasi di rice cooker sudah habis? Padahal mama belum makan dan baru masak nasi nya tadi jam 9! Masa iya tikus atau kucing yang makan kan nggak mungkin?" Tanya ema dengan wajah heran nya.
Alika menghampiri rice cooker yang ada dimeja makan dan melihatnya. Dan benar saja nasi nya hanya tinggal dua porsi untuk dua orang. Alika merasa bingung karena belum ada yang makan siang ini lalu kenapa nasinya hilang begitu saja? Saat sedang kebingungan alika dikejutkan kedatangan tajudin yang membawa piring beserta sisa lauknya dari luar masuk menghampiri alika dan ema yang masih di depan meja makan.
"Ada apa? Kok ibu sama alika ada disini?" Tanya tajudin tanpa tau letak kesalahan nya.
Ema dan alika saling menatap dan kembali menoleh ke arah tajudin.
"Kamu yang sudah menghabiskan nasi di rice cooker tajudin?" Tanya ema dengan wajah kesalnya.
"Oooh iya mah! Tadi aku masak tumis pepaya muda terus aku makan. Laper banget mah dari semalam belum makan!" Sahut tajudin melebarkan senyumnya sampai melihatkan giginya.
Tanpa menjawab alika langsung mengambil piring bekas makan tajudin dari tangan nya dan..
"Prraaaang..!"
Alika memecahkan piring dan membalikan mangkuk yang berisi lauk yang dimasak oleh tajudin dengan kasar nya. Alika marah dengan wajah merah padam membulatkan matanya menatap tajudin dihadapan nya. Alika sudah tidak sabar lagi menghadapi suaminya yang tidak tau malu selama berada dirumah nya.
...****************...
BERSAMBUNG
__ADS_1