
"Apa kamu masih bertengkar dengan suami mu?" Tanya ema penasaran yang melihat wajah alika sedikit suram.
"Nggak mah! Dia sudah minta maaf pada alika. Sikapnya juga lembut, tidak seperti semalam saat dirinya berteriak!" Jelas alika menutupi keburukan suaminya demi kebaikan hubungan nya dengan tajudin tanpa campur tangan ibunya.
Setelah selesai membersihkan halaman rumahnya ema mengajak alika masuk kedalam untuk mengobrol. kemudian ema membersihkan diri setelah berkutat bermain tanah membersihkan tanaman nya. Ema melangkah menghampiri alika yang sedang duduk diruang keluarga. Ema ingin bicara dari hati kehati.
"Alika! Boleh mama bicara dan bertanya sama kamu?" Tanya ema yang sudah duduk disamping alika dengan ekspresi ramahnya.
"Boleh mah! Memangnya mama mau tanya apa? Kok serius sekali?" Sahut alika dan menanyakan apa maksud ema yang sebenarnya.
"Kenapa kamu tidak mau memberikan hak nya pada tajudin sebagai suamimu?" Tanya ema dengan tatapan intens.
"Aku nggak tahu mah! Rasanya aku sangat takut sekali! Memangnya hak sebagai istri yang sebenarnya itu bagaimana sih mah?" Sahut alika dan menanyakan maksud dirinya yang tidak mengerti tentang hal seperti itu.
"Apa kamu tidak tahu bahwa seorang istri harus menyerahkan kehormatan nya pada suami yang sudah sah?" Tanya ema dengan nada serius.
"Aku nggak tahu mah! Makanya aku tanya. Bagaimana yang sebenarnya?" Tanya alika pada ibunya yang memang benar-benar tidak tahu apa yang ema maksud.
"Hubungan suami istri itu bukan hanya melayani secara lahiriah saja alika! Melayani batiniah nya juga wajib kita layani." Ujar ema dengan ramah agar alika paham.
"Batiniah dan lahiriah itu yang bagaimana contohnya mah?" Tanya alika dengan ekspresi yang bingung.
"Mama kasih sedikit pengetahuan untuk kamu yaa?" Sahut ema sambil menghela nafasnya panjang."Jadi melayani suami secara lahiriah itu seperti melayaninya saat suami akan makan siang atau malam. Mencucikan bajunya dan merapikan rumahnya. Namun melayani suami secara batiniah itu diatas ranjang dengan cara memuaskan suami." Jelas ema panjang lebar pada alika memberi sedikit wawasan agar alika memahami apa yang harus dia lakukan.
"Melayani suami diatas ranjang dengan cara memuaskan itu maksudnya gimana mah? Alika nggak paham!" Jawab alika yang masih tidak mengerti apa maksud mamanya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Hmm. Kamu masih belum mengerti juga yang mama jelaskan alika?" Tanya ema lagi memastikan pada alika.
__ADS_1
"Nggak mah!" Jawab alika sambil menggelengkan kepalanya.
"Coba deh kamu cari di google maksud dari berhubungan intim!" Ujar ema yang sedikit risih memberi penjelasan secara lengkap pada anaknya karena malu.
"Memang nya ada mah?" Tanya alika sembari mengutak ngatik handphone nya.
"Ada! Coba lihat!" Sahut ema yang melirik ke arah handphone alika.
"Yaa Allah yaa robbi! Astaghfirullahal'adzim! Apakah alika harus seperti yang di video ini mah?" Terkejut alika setelah melihat apa yang dilihatnya di handphone miliknya dengan rasa tak percaya.
Ema tidak menjawab ucapan alika. Dia hanya tersenyum melihat ekspresi alika yang terkejut. Alika kategori gadis yang lugu dan tak tahu menahu apa itu hubungan suami istri diatas kasur. Alika tak percaya ternyata hubungan suami istri itu mengharuskan dirinya seperti yang berada di vidio yang dilihatnya. Alika menutup mulutnya dengan tangan kirinya dan menggelengkan kepalanya tak percaya. Otak alika trafeling kemana-mana membayangkan dirinya harus diperlakukan seperti itu oleh tajudin. Alika gadis yang mempunyai banyak pengalaman tentang pekerjaan namun dia tak mempunyai pengalaman melakukan hal seperti itu. Dipikiran alika selama ini bahwa hubungan suami istri itu hanya berciuman dan mencumbu seluruh tubuhnya tanpa disentuh dibagian inti nya. Benar-benar lugu dan polos nya bukan?
"Alika! Memang seperti itulah yang namanya hubungan suami istri! Mama juga seperti itu saat dulu bersama abimu." Ujar ema memberi penjelasan karena melihat ekspresi alika yang sangat ketakutan setelah melihat vidio yang dilihatnya.
"Tapi alika takut mah! Alika nggak mau!" Jawab alika menangis dipelukan ibunya.
"Apa rasanya sakit sekali mah? Sehingga sampai mengeluarkan darah seperti yang dividio tadi?" Tanya alika dengan mendongakan kepalanya menghadap ema.
"Awalnya memang sakit. Tapi hanya sekali itu saja! Selanjutnya tidak akan pernah merasakan sakit lagi!" Sahut ema menjelaskan pada alika agar tidak terlalu takut.
"Lalu alika harus bagaimana mah?" Tanya alika yang pikiran nya masih trafeling kemana-mana.
"Alika harus rileks saat suamimu memulainya lebih dulu. Jangan tegang dan panik. Harus rileks dan santai!" Jawab ema menenangkan alika dengan mengusap kepala alika yang masih bersandar di dadanya.
Alika terdiam membayangkan apa yang akan ia lakukan saat tajudin meminta haknya. Namun saat mereka berdua bicara tajudin tak sengaja mendengar obrolan mereka dibalik dinding dan tak terlihat oleh mereka. Tajudin mengulas senyum nya berkali-kali saat mendengar ucapan alika yang benar-benar tidak mengetahui apa itu hubungan suami istri. Tajudin kembali masuk ke kamarnya karena takut mengganggu obrolan mereka berdua. Tajudin memberi sedikit ruang untuk ibu dan anak itu diruang keluarga. Alika yang sudah sedikit tenang perutnya terasa lapar karena belum sarapan sejak pagi. Tak terasa obrolan mereka berdua memakan waktu hingga dua jam lamanya sampai waktu menunjukan jam sebelas siang. Alika bangkit dari pelukan ema dan menyentuh perutnya yang perih karena menahan lapar.
"Kamu kenapa alika? Perutmu sakit?" Tanya ema panik melihat wajah alika yang menahan sakit.
__ADS_1
"Perut aku perih mah. Aku lapar sekali!" Sahut alika dengan meringis kesakitan.
"Yaa ampun! Tadi kan kamu ingin sarapan! Kenapa malah mama ajak ngobrol disini! Yaa sudah tunggu sebentar! Mama panaskan lagi tempenya agar bisa untuk lauk makan siang hari ini!" Sahut ema langsung bergegas menuju dapur dengan berlari kecil.
Ema yang seorang janda dan tak bekerja dia hanya mengandalkan belas kasih dari saudara yang masih mengingatnya. Ema mendapatkan beras sepuluh kilo setiap bulan nya dari saudara yang perhatian pada ema. Ema juga juga mendapat jatah bulanan dari saudara sepupuan sebesar tiga ratus ribu rupiah untuk sekedar pegangan selama dirinya masih menjanda. Setelah alika menikah dia tak bisa membantu banyak pada ema sang ibu. Alika hanya bisa memberikan uang harian nya sedikit pada ema saat dulu dirinya bekerja. Kini dirinya hanya mengandalkan tajudin untuk memberi nafkah lahir yang belum dia terima selama menjadi istrinya. Setelah berkutat didapur akhirnya ema selesai membuat makanan untuk dimakan siang ini. Ema menata semuanya diruang keluarga dengan rapi dan dibantu oleh alika yang sudah tidak sabar melihat nasi.
"Alika! Panggil suamimu! Suruh dia makan!" Titah ema dengan wajah tanpa ekspresi.
"Iya mah!" Sahut alika bergegas melangkah menuju kamarnya.
"Alika membuka pintu kamarnya tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Alika sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya didalam kamar."
"Aaaa!" Teriak alika langsung menutupi seluruh wajahnya melihat tajudin tanpa busana hanya memakai pakaian dalam saja.
" Ada apa alika?" Tanya ema panik berlari menghampiri alika.
"Itu mah! Mm itu tajudin!" Jawab alika gugup tanpa membuka matanya membalikan badan nya menghadap ema yang masih menutupi wajahnya.
"Tajudin kenapa? Apa yang dia lakukan?" Sahut ema sembari membuka pintu kamarnya perlahan.
"Maaf bu. tadi aku sedang mengganti pakaian ku!" Ujar tajudin yang sudah dihadapan ema dan dibelakang alika.
"Oooh mama kira kamu kenapa alika!" Ujar ema menepuk bahu alika sambil cengengesan melihat tingkah anaknya itu.
...****************...
BERSAMBUNG
__ADS_1