
"Assalamualaikum.." Ucap salam dari luar dan langsung masuk ke dalam rumah.
Alika dan wardiyo sudah sampai dirumah. Wardiyo membantu alika untuk duduk dikursi ruang tamu yang sudah tersedia. Tajudin yang mendengar alika pulang langsung menghampirinya dan bersimpuh dilantai menghadap alika yang sudah duduk disofa. Alika terkejut melihat sikap tajudin yang seperti memohon ampunan pada rajanya.
"Alika! Maafin aku. Aku sudah salah padamu sampai membuatmu seperti ini." Ucap tajudin pada alika dengan wajah memelasnya.
"Aku sudah memaafkan kakak. Tapi aku mohon, jangan memaksakan kehendak kakak lagi jika aku belum siap!" Jawab alika dengan bijaksana berusaha tegar dengan apa yang sudah ia terima.
"Aku janji, aku tidak akan memaksamu lagi!" Ujar tajudin menggenggam tangan alika dengan erat.
Wardiyo dan dariyah yang melihat tajudin akhirnya tersenyum simpul merasa lega. Karena semenjak alika dirumah sakit tajudin tidak pernah mau makan dan minum hanya mengurung dirinya di dalam kamar. Tajudin bahkan sudah mengganti kasurnya yang baru, karena kasur nya yang lama sudah penuh dengan darah dan membuangnya di depot sampah karena sudah tidak layak pakai. Setelah bermaaf-maafan akhirnya wardiyo angkat bicara mengenai keadaan alika yang sebenarnya agar tajudin sedikit menahan akan kondisi alika.
"Din! Aku ingin bicara. Ini penting menyangkut alika kedepan nya." Ucap wardiyo dan memeluk bahu tajudin menggiringnya keluar agar alika tidak mendengarnya.
"Mau bicara apa kak?" Jawab tajudin yang sudah duduk berada diteras rumah nya.
"Begini.. Dokter mengatakan bahwa alika terinfeksi di bagian dalam kelamin nya. Itu disebabkan oleh kamu yang sudah kotor karena sebelum menikah kamu sudah bergonta ganti pasangan. Apa benar begitu?" Jelas wardiyo dan menekan kan pada tajudin agar jujur.
"Maaf kak. Aku memang dulu seperti itu. Tapi setelah aku menikah aku sudah tidak seperti itu lagi! Bahkan selama alika menolak aku berusaha menahan nya!" Jawab tajudin dengan wajah serius nya.
"Iyaa aku tahu! Tapi karena ulah kamu itu yang membuat alika seperti ini! Bahkan kamu melakukan nya hingga membuat nya sampai pendarahan!" Kesal wardiyo dengan tingkah adiknya.
"Yaa.. Sekarang kan aku sudah minta maaf, dan aku juga sudah berjanji untuk tidak memaksa nya lagi!" Jawab tajudin dengan wajah frustasi.
__ADS_1
"Baiklah. Dan ini adalah hal penting yang harus kamu patuhi!" Ujar wardiyo menatap tajudin dengan intens."Dokter mewanti-wanti agar kamu tidak menyentuhnya dulu hingga enam bulan lama nya. Karena alika harus bersih dulu dari infeksi nya! Paham!" Jelas wardiyo memberi peringatan pada adiknya.
"Apaahh!! Enam bulan?" Jawab tajudin terkejut mendengar penjelasan kakaknya."Apa harus selama itu aku harus menahan nya?" Ujar tajudin tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya dia selama enam bulan menahan diri.
"Itu semua karena ulahmu sendiri yang membuat istrimu seperti itu! Jangan salahkan dokter. Dan selama satu minggu sekali alika harus kontrol tepat waktu tidak boleh telat walau satu hari!" Jelas wardiyo lagi memberi penegasan pada tajudin.
Tajudin akhirnya lesu mendengar perkataan wardiyo. Dirinya tak bisa membayangkan harus menahan diri selama enam bulan tidak berhubungan intim dengan istrinya.
***
Hari demi hari telah berlalu. Alika yang masih harus betres dirinya merasa kesal dengan suaminya yang hanya berjanji untuk berubah namun hanya berubah untuk beberapa hari saja. Setelah berlalu dirinya kembali ke sikap yang sama seperti awal menikah dengan alika. Wardiyo sudah berangkat merantau ke jakarta untuk memenuhi kebutuhan istrinya agar hubungan nya membaik seperti sedia kala. Alika sudah diserahkan pada tajudin sebagai suaminya agar lebih tanggung jawab. Namun tanggung jawab yang harus ia emban kembali di abaikan oleh tajudin.
Baju-baju kotor yang sudah menumpuk tak dicuci nya dan bahan makanan yang harus disediakan tak di penuhi oleh tajudin. Alika kuwalahan menghadapi sikap tajudin yang semakin kesini semakin menjadi tak ada perubahan. Alika yang belum boleh banyak beraktifitas akhirnya terpaksa mengerjakan semuanya sendiri tanpa meminta bantuan dari suaminya. Alika terus berusaha mencari cara agar dirinya kembali sembuh mencari obat tradisional melalui google. Alika kemudian mencuci pakaian nya yang sudah satu ember dan mengupas singkong untuk dimasak sebagai isi perutnya agar tidak kelaparan. Semakin hari alika semakin terbiasa dengan kehidupan nya di desa meskipun dia jarang makan nasi buatan mertuanya yang hampir mendekati seperti bubur. Alika merasa mual melihat nasi yang seperti bubur karena alika tidak suka dengan bubur yang dibuat dari nasi. Alika lebih suka bubur sumsum yang jelas lembut.
"Huek! Huek!"
Alika memuntahkan semua isi perutnya dikebun belakang rumah mertuanya. Rasanya perut alika seperti diremas dan dikocok dengan begitu hebatnya. Entah apa yang membuat alika muntah-muntah.
"Aduh! Kenapa perutku sakit sekali? Apa karena aku tidak pernah makan nasi? Apa karena aku hanya makan singkong setiap hari, hingga membuat perutku seperti ini?" Tanya alika pada diri sendiri sambil menekan perutnya yang terasa sakit.
"Alika! Sedang apa kamu disitu?" Tanya tajudin yang baru datang membawa air bunga kelapa yang akan direbus nya agar menjadi gula merah.
"Aku.. Aku mual dan perutku sakit sekali! Mungkin masuk angin." Sahut alika menoleh ke arah tajudin.
__ADS_1
"Apa kamu sudah makan?" Tanya tajudin yang sedang menghampiri alika.
"Aku sudah makan singkong rebus tadi." Jawab alika yang memang tidak suka dengan nasi yang dimasak mertuanya.
"Hmmm.. Setiap hari kamu hanya makan singkong apa kamu tidak bosan?" Tanya tajudin yang merasa heran dengan istrinya.
"Aku sudah bilang berulang kali sama kamu. Aku tidak suka nasi yang hampir seperti bubur. Melihatnya saja perutku sudah mual apalagi sampai memakan nya?" Kesal alika yang tak pernah diperhatikan oleh tajudin.
"Yaa sudah terserah kamu saja. Yang penting aku sudah menyuruhmu makan nasi! Jangan salahkan aku jika kamu jatuh sakit!" Ujar tajudin yang memang tak mau dibuat repot oleh istrinya.
"Hmm punya suami kayak punya pajangan! Nggak ada pedulinya sama istri. Hanya mementingkan ego sendiri saja! Rasanya ingin aku iris burung nya menjadi pisang goreng!" Gumam alika merasa kesal dengan sikap suaminya.
Alika akhirnya mencoba untuk istirahat sejenak agar tubuhnya lebih rileks. Saat sedang tidur dirinya kembali dikejutkan dengan sikap tajudin yang selalu kasar jika bergerak diseluruh rumahnya.
"Astaghfirullahal'adzim. Bisa pelan tidak jika buka dan tutup pintu! Tidak lihat apa ada orang sedang istirahat!" Kesal alika dengan wajah emosinya.
"Jika kamu ingin istirahat dengan tenang? Tidurlah dikuburan sana! Jangan dirumah ini!" Jawab tajudin yang tak mau disalahkan oleh istrinya.
"Hmmm dasar suami nggak berguna! Kerja tiap hari dari subuh hingga magrib tapi tak pernah memberi uang sepeserpun selama tiga bulan! Memang nya dia anggap istrinya itu apa? Punya suami tapi kayak hidup sebatang kara!" Gumam alika namun masih didengar untuk dirinya sendiri.
Selama tiga bulan alika tidak pernah diberi nafkah oleh tajudin. Karena bagi tajudin istri hanya membutuhkan makan saja tak lebih dari itu.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG