NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
7. AKU INGIN BEKERJA


__ADS_3

Hari ini adalah satu minggu alika berada dirumah tajudin. Alika semakin bingung dengan uang nya yang sudah menipis. Sedangkan alika wanita yang tidak bisa berdiam diri dirumah menerima uang begitu saja. Sejak dulu alika adalah tipe wanita yang gila kerja. Sedangkan dirinya menikah dengan pria yang tidak terlalu menggebu untuk bekerja. Selama masih ada makanan tajudin tidak akan berfikir untuk bekerja. Entah suami seperti apa yang menikahi alika. Dirinya benar-benar seperti jatuh tersandung dan tertimpa pohon kelapa setelah menerima tajudin sebagai suaminya.


"Aku ingin bekerja kembali di kotaku!" Ujar alika yang sudah sangat bosan dan jenuh dirumah mertuanya.


"Aku tidak mengijinkanmu bekerja. Duduklah yang tenang dirumah ini tidak usah banyak permintaan!" Jawab tajudin dingin dan datar.


"Tapi aku sudah tidak punya uang untuk memenuhi kebutuhanku sendiri!" Kesal alika yang serba dilarang untuk melakukan segala keinginan nya.


"Bisa mendengarkan perintah suami atau tidak!" Bentak tajudin hingga membuat alika menaikkan bahunya karena terkejut.


Alika yang dibentak tak berani mengajak suaminya berdebat lagi. Alika langsung terduduk dengan tubuh yang gemetar dan jantung berdetak kencang. Hidup alika seperti burung dalam sangkar,yang ditangkap saat terbang bebas kemudian dikurung tanpa diijinkan untuk keluar selangkahpun. Sejak tajudin berada dirumahnya semakin menunjukan sifat aslinya yang tempramental. Tajudin kategori pria yang jika marah dengan mudah nya merusak semua barang yang ada disekitarnya. Setelah perdebatan diantara mereka berdua akhirnya tajudin pergi dari kamarnya entah kemana. Tajudin sangat jenuh mendengar alika yang sangat ingin dirinya bekerja untuk mendapatkan uang. Sedangkan alika yang gila kerja selalu mencari celah agar dirinya bisa bekerja lagi seperti dulu. Rasanya hidup mereka seperti dunia terbalik. Kini matahari sudah membenamkan dirinya. Hari sudah berganti gelap. Suara binatang disawah dan kebun selalu mengeluarkan suaranya dengan merdu yang saling bersahutan. Alika selalu diam didalam kamarnya jika sang bapak mertua sudah berada dirumah. Wardiyo kini ditinggal sureni sang istri pulang ke kampung nya. Tajudin yang entah kemana tak kunjung pulang. Wardiyo yang melihat alika belum keluar dari sejak siang hari sangat khawatir dan berinisiatif untuk menyampaikan nya pada sang ibu.


"Bu. Alika kenapa belum keluar dari siang? Apa dia sakit?" Tanya wardiyo yang dari pagi pergi memancing disungai.


"Ibu tidak tahu. Ibu kan sedang disawah sejak pagi. Jadi ibu tidak tahu keadaan rumah!" Jawab sang ibu dengan wajah yang penasaran.


"Apa alika bertengkar dengan tajudin?" Gumam wardiyo yang masih didengar ibunya.


"Nanti coba ibu periksa dulu. Siapa tahu dia diajak pergi oleh tajudin." Ujar dariyah langsung beranjak melangkah menuju kamar alika.


"Tok! Tok! Tok!"


"Alika. Alikaa! Apa kamu ada didalam?" Teriak dariyah dari luar pintu kamar alika.

__ADS_1


"Iyaa bu sebentar!" Sahut alika kemudian berlari kecil membuka pintunya.


"Ceklek"


"Kamu sejak kapan berada didalam kamar?" Tanya dariyah heran yang selalu melihat alika didalam kamar dari pagi hingga sore hari.


"Aku tidak ngapa-ngapain bu!" Jawab alika yang seakan berada dirumahnya sendiri.


"Yaa ampuuun! Dari pagi hingga sekarang kamu hanya berdiam diri didalam kamar? Tidak mengerjakan pekerjaan rumah! Apalagi mencuci piring! Wanita macam apa yang dinikahi oleh anakku yang hanya bisa diam saja seakan seperti ratu saja di dalam rumah!" Pekik dariyah yang merasa kesal melihat alika selalu bersantai ria tanpa melakukan apapun.


"Tapikan ibu yang menyuruhku untuk berdiam diri di dalam kamar. Jika ingin makan aku boleh keluar dan kembali lagi ke kamar jika tidak ada tajudin bu!" Jawab alika yang mengikuti perintah mertuanya dengan baik.


"Tapikan tidak begini juga tingkahmu alika! Apa ibumu tidak mengajarimu cara hidup berumahtangga yang baik?" Kesal dariyah yang merasa menantunya hanya enak-enakan saja.


"Adduuuh tajudiiin! Kamu sebenarnya menikahi anak siapaa? Ya Allah yaa robbiii. Dia sungguh bodoh sekali tajudin!" Teriak dariyah histeris sambil melangkahkan kakinya kembali ke dapur.


Dengan nafas naik turun dariyah sangat emosi karena lelah seharian dari pagi bergulat memanen padi disawahnya. Darun yang melihat istrinya emosi hanya tertawa dengan enteng nya. Wardiyo yang melihat alika disalahkan oleh ibunya merasa sangat iba pada alika. Wardiyo tahu alika itu gadis lugu dan polos meski usianya sudah dewasa. Wardiyo berfikir tajudin sangat beruntung mendapatkan istri yang lugu dan polos seperti alika. Sedangkan tajudin berfikir dirinya sudah salah menikahi wanita yang bodoh tidak bisa melakukan apapun. Wardiyo sempat berfikir jika dirinya mendapatkan wanita seperti alika maka dirinya akan selalu memanjakan alika dan tidak akan pernah diijinkan untuk melakukan apapun. Dimata wardiyo yang sudah banyak mengenal para wanita dijakarta bahwa alika adalah gadis yang spesial dan istimewa. Rugi besar jika tajudin menyia-nyiakan hidup alika. Namun penilaian wardiyo selalu dijadikan salah faham oleh semuanya. Mereka berfikir bahwa wardiyo menyukai alika.


"Alika. Maafkan ibu ya? Dia hanya sedang lelah karena baru pulang dari sawah dari pagi!" Ujar wardiyo mendekati alika yang masih berdiri didepan kamarnya.


"Iya kak tidak apa-apa. Aku permisi dulu masuk ke kamar!" Alika membalikan tubuhnya dan ingin masuk kembali ke kamarnya. Namun dicegah oleh wardiyo.


"Alika. Apa kamu lapar?" Tanya wardiyo yang merasa iba pada alika.

__ADS_1


"Yaa aku lapar sejak pagi. Tapi tidak ada satupun lauk yang aku suka. Semuanya terasa aneh dilidahku. Aku juga sudah tidak punya uang untuk membeli mie instan. Jadi aku hanya minum air hangat saja agar perutku tidak terlalu lapar!" Ujar alika menjelaskan apa yang dia rasakan.


"Kamu ingin makan apa? Biar aku buatkan?" Tanya wardiyo yang memahami perasaan alika.


"Tidak usah kak trimakasih. Jika ibu dan bapak tahu aku bisa kena sasaran lagi!" Sahut alika yang langsung masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan wardiyo.


"Kasihan alika. Punya suami ga pernah perhatian. Punya mertua keras kepala semua. Hmm sedangkan istriku orangnya cemburuan. Jika saja aku yang menjadi suami alika pasti dia selalu tersenyum karena selalu aku beri rayuan maut yang tidak ada bandingan nya!" Gumam wardiyo dan membalikan tubuhnya untuk kembali menuju dapur.


Wardiyo tidak tega melihat alika yang selalu disalahkan oleh keluarganya. Wardiyo ingin sekali menasehati tajudin agar bisa lebih lembut bersikap dengan istrinya. Saat wardiyo sudah berada didapur tanpa sengaja melihat ibunya sedang makan dengan nikmatnya tanpa menoleh ke samping kanan dan kirinya.


"Bu. Apa ibu dengan tega nya membiarkan menantu ibu kelaparan,sedangkan ibu makan dengan nikmatnya seperti itu tanpa berdosa?" Ujar wardiyo menasehati ibunya sambil mendudukan dirinya dikursi meja makan.


"Jika kamu merasa kasihan. Urus saja dia seperti anakmu itu!" Kesal dariyah pada wardiyo yang selalu saja memberi perhatian pada alika.


"Bukan seperti itu bu. Dia anak orang. Dia diijinkan menikah dengan tajudin karena ibunya percaya bahwa tajudin akan membahagiakan nya. Bukan menyiksa nya seperti hewan peliharaan yang dikurung dan tidak diberi makan. Ibu saja mencarikan rumput untuk kambing ibu agar bisa makan. Lalu kenapa ibu memperlakukan menantu ibu seperti ini?" Nasehat wardiyo pada orangtuanya yang seakan meraka tidak peduli alika mau bagaimana.


"Sudahlah yo. Kamu urus saja rumah tanggamu bersama istrimu. Jangan peduli urusan rumah tangga adikmu. Biarkan saja mereka menyelesaikan sendiri!" Sahut darun sang ayah yang membela ibunya.


"Pak! Bu. Diyo bukan nya ikut campur dengan rumah tangga mereka. Selama tajudin bersikap acuh pada istrinya,sebaiknya ibu dan bapak menjadi tumpuan alika saat ini. Bukan malah membiarkan dia kelaparan seperti ini. Jika memang tajudin sudah tidak menganggapnya kembalikan dia pada orangtua nya denga baik. Bukan mengurungnya seperti kucing peliharaan!" Ujar wardiyo panjang lebar namun masih tak digubris oleh kedua orangtuanya.


Wardiyo bingung harus bagaimana lagi menasehati keluarganya agar tidak bersikap kasar terhadap alika. Wardiyo memang berbeda dari kakak tajudin yang lain. Karena hanya wardiyo yang mempunyai sifat supel mudah bergaul dan royal. Sedangkan yang lain mempunyai sifat seperti ayahnya yang tempramental dan acuh jika sudah membenci seseorang.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2