
"Kamu itu yah,Dasar lelaki mata keranjang!" Teriak sureni yang duduk di belakang mencari kesempatan melihat alika sedang mandi.
"Apa-apaan sih kamu ini! Aku sedang merokok setelah makan. Jaga sikapmu sebagai seorang istri! Jangan berlebihan! Memangnya hanya kamu saja yang bisa marah? Aku juga bisa marah padamu!" Emosi wardiyo yang melihat istrinya selalu marah-marah tidak jelas setelah kehadiran alika.
"Jika kamu sedang merokok. Kenapa matamu selalu memandang kamar mandi?" Tanya sureni sambil mendongakkan dagunya.
"Jika kamu tidak ingin aku melirik wanita lain? Jaga sikapmu sebagai seorang istri. Bersikaplah lemah lembut selayaknya seorang wanita!" Ujar wardiyo yang sudah terlalu kesal dengan sikap istrinya.
Alika tidak sengaja mendengar pertengkaran kakak iparnya itu dikamar mandi. Alika merasa bersalah jika pertengkaran kakak iparnya itu karena dirinya. Alika yang sudah selesai mandi bergegas menuju ke kamarnya. Hari sudah sore namun alika masih belum makan sedari siang karena tertidur. Tak ada yang menyuruhnya makan sampai alika terbangun dari tidurnya. Ingin pergi kedapur untuk mengambil makanan seakan sangat malu. Akhirnya alika tetap berdiam diri dikamar setelah mengganti pakaian nya. Tak berselang lama tajudin akhirnya masuk ke kamarnya tanpa menegur alika. Dia masuk hanya ingin mengambil handphone nya lalu kembali keluar dari kamarnya. Alika yang melihat sikap tajudin seperti itu tidak merasa bersalah sedikitpun. Alika ingin mempunyai waktu untuk sendiri. Namun tiba-tiba ada sebuah pertengkaran diluar kamar alika.
"Jika kamu masih saja terus seperti itu,kembalikan aku pada orangtuaku!" Teriak sureni pada suaminya yang akhir-akhir ini selalu mencari masalah.
"Heehh! Ini ada apa? Jangan teriak-teriak seperti itu reni. Malu jika ada tetangga yang mendengarnya!" Nasehat dariyah sang ibu mertua untuk menantunya.
"Aku kesal bu! Lihatlah anak ibu itu. Dia selalu saja menggoda wanita lain yang lewat dihadapanku. Jika dia sudah tidak menyukaiku lagi lalu kembalikan saja aku pada orangtuaku!" Pekik sureni yang sudah sangat kesal meihat tingkah suaminya.
"Reni. Jangan seperti ini. Berusahalah tetap tenang menghadapi masalah!" Nasehat dariyah yang setiap hari selalu saja melihat pertengkaran mereka.
Alika akhirnya bergegas keluar ingin berusaha menenangkan iparnya itu. Namun keputusan alika untuk berusaha baik dianggap salah oleh mereka.
"Maaf kak reni. Bukan aku ingin ikut campur tapi.." Ujar alika ingin sekedar menenangkan iparnya.
"Diam kamu! Dasar wanita penggoda! Tidak tahu diri. Sok cantik kamu yah! Sejak kedatangan kamu suamiku menjadi acuh padaku! Aku beri pilihan padamu. Aku atau kamu yang pergi dari rumah ini?!" Teriak sureni yang mengeluarkan isi hatinya yang sudah beberapa hari ini ditahan.
Alika yang terkejut dibentak dan diusir dirinya langsung masuk ke kamarnya menjatuhkan dirinya diatas kasur dan menangis sejadi jadinya. Alika tidak tahu kenapa setiap yang dia lakukan selalu salah dimata keluarga suaminya. Alika ingin pergi dari rumah tajudin. Namun dia ingat nasehat ema yang selalu terngiang ditelinganya.
"Alika. Ingat pesan mama! Jika suamimu sedang emosi dengarkan saja apa ucapan nya. Jika sampai dia mengucapkan kata cerai saat emosi jangan dengarkan dan tetap diam mendengarkan nya. Jika sampai dia mengusirmu dalam keadaan emosi tetaplah diam jangan pergi kemana-mana. Jika selain suamimu yang mengusirmu yang ada dirumah itu tanpa ada suamimu pergilah ke kamarmu dan kunci pintunya. Jangan pernah keluar sampai suamimu pulang! Kamu mengerti apa yang mama jelaskan kan alika?" Nasehat ema pada alika saat malam sebelum alika pergi kerumah suaminya esok pagi.
Alika yang mengingat nasehat mama nya menjadi semakin terisak tanpa bisa dihentikan. Saat sedang menumpahkan segala air matanya tiba-tiba pintu kamar nya ada yang mengetuknya.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Alikaa! Buka pintunya!" Teriak tajudin yang baru saja pulang entah dari mana.
Alika yang mendengar pintu kamarnya diketuk langsung beranjak mengusap wajahnya yang masih basah karena air mata."Yaa tunggu sebentar!" Teriak alika dan kemudian berlari kecil untuk membuka pintu kamarnya.
"Kenapa lama sekali membuka pintunya? Sedang apa kamu didalam?" Tanya tajudin yang melihat wajah alika seperti habis menangis.
"Aku tidak apa-apa." Sahut alika yang langsung kembali duduk ditepi ranjang.
"Kamu habis menangis?" Tanya tajudin lembut tidak tega mendiamkan alika lebih lama lagi.
"Alika tidak menjawab pertanyaan tajudin. Alika hanya menunduk dan memainkan jarinya."
"Apa kamu sudah makan?" Tanya lagi tajudin sambil mengusap kepala alika.
"Belum!" Jawab alika sembari menggelengkan kepalanya.
Alika yang sudah tidak melihat kakak iparnya menjadi clingukan mencari keberadaan mereka berdua yang tadi sedang bertengkar diluar kamarnya. Sampai alika di dapur pun tidak melihat siapapun disana. Alika duduk di kursi meja makan lalu mengambil nasi sesuai dengan porsinya. Saat melihat lauknya dia tidak tahu itu apa. Karena dia tidak pernah memakan nya selama dikota. Alika yang penasaran akhirnya menanyakan nya pada tajudin.
"Ini lauk atau bukan?" Tanya alika yang merasa aneh dengan bentuk makanan nya yang seperti makanan mentah lalu disajikan.
"Itu Jantung pisang dan kecombrang ditumis menjadi satu." Sahut tajudin yang menjelaskan lauk yang sudah dimasak oleh ibu mertua alika.
"Lauk apa itu? Aku tidak pernah mendengarnya?" Tanya alika yang merasa aneh dengan masakan mertuanya.
"Cicipi saja dulu baru berkomentar!" Sahut tajudin kesal mendengar alika yang bawel.
Sebelum mencicipi lauknya alika mencicipinya se ujung sendok. Setelah mencoba nya alika memuntahkan nya lagi. Alika tidak terbiasa memakan masakan pedesaan yang tinggal mengambil dikebun lalu menjadi lauk. Alika merasa aneh dengan rasanya. Akhirnya alika menumpahkan nasi nya kembali ke tempat nasi dan duduk disebelah suaminya. Tajudin yang melihat reaksi alika akhirnya bertanya.
__ADS_1
"Kamu tidak suka masakan nya?" Tanya tajudin yang menghadap alika.
"Tidak. Masakan nya terasa aneh. Yaa sudahlah aku mau tidur saja." Jawab alika dan langsung beranjak ke kamarnya.
Tajudin yang melihat alika pergi meninggalkan nya hanya membiarkan alika pergi. Tajudin tidak mempunyai inisiatif membelikan makanan yang alika suka. Saat tajudin termenung sendirian didapur dirinya dikagetkan dengan kedatangan ayahnya yang baru saja pulang dari sawah jam enam sore.
"Kenapa din? Jangan melamun diwaktu maghrib. Nanti kesambet!" Tanya darun sang ayah yang melihat anaknya terasa lesu.
"Aku tidak apa-apa. Aku mau ke kamar dulu." Ujar tajudin dan langsung beranjak ke kamarnya.
Setelah tajudin masuk kamar dia melihat alika yang berbaring dikasur dengan posisi miring membelakangi dirinya. Tajudin duduk dibawah kasurnya dengan wajah frustasi. Alika yang melihat tajudin sedang duduk ditepi akhirnya beranjak menghampiri tajudin.
"Mm boleh aku bicara?" Tanya alika yang sudah berada disamping tajudin.
"Mau bicara apa?" sahut tajudin kembali menanyakan pertanyaan alika.
"Kapan kita kembali ke semarang untuk bekerja lagi disana?" Tanya alika yang sudah tidak betah berada dirumah suaminya.
"Aku sudah dipecat dari pabrik. Dan sudah tidak bisa bekerja lagi disana!" Jawab tajudin dengan wajahnya yang murung.
"Kalau begitu kita ke jakarta saja. Aku punya kenalan bos besar disana. Dan pasti akan mendapatkan uang banyak. Karena sebelumnya aku pernah kerja di perusahaan itu!" Ujar alika yang bersemangat menjelaskan pada suaminya agar tajudin ikut bersemangat.
"Aku hanya ingin bekerja disini. Dikampungku sendiri. Sudah tidak ingin kemana-mana!" Sahut tajudin yang sudah merasa malas mencari uang.
"Tapi kan kita harus tetap bekerja untuk kebutuhan kita sendiri!" Ujar alika yang sudah sangat ingin bekerja dan mendapatkan uang agar bisa makan sesuai keinginan nya.
"Aku suamimu. Segala kebutuhan Kamu adalah tanggung jawabku. Jika aku tidak bekerja berarti kamu juga tanggung jawab orangtuaku!" Kesal tajudin jika berdebat dengan alika yang selalu memaksa.
Setelah jawaban itu alika sudah tidak bisa berdebat lagi karena jawaban tajudin sudah skakmat. Alika yang tabungan nya semakin menipis menjadi gelisah tak karuan. Dia berfikir bagaimana nanti setelah uang tabungan nya habis. Jika meminta pada tajudin dirinya merasa risih. Karena sejak dulu alika selalu belajar mandiri dan memenuhi kebutuhan nya sendiri.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG