
"Astaghfirullahal'adzim! Beraninya dia menyiksa batin anakku." Sahut ema dengan wajah merah padam menahan emosinya."Tapi tadi kamu bilang dia sibuk dengan pekerjaan nya? Berarti dia kan bekerja? Lalu kenapa dia tak pernah memberimu makan?" Tanya ema yang merasa heran.
"Yaa dia memang bekerja dari pagi hingga malam. Tapi semua uangnya dia serahkan pada ibu nya. Dan ibunya yang memberiku uang dua puluh ribu untuk satu minggu! Apa tidak gila pikiran mereka semua?" Kesal alika menumpahkan segala isi hatinya pada sang ibu dengan tangisan yang semakin menjadi.
"Yaa Allah..Maafkan mama alika! Mama kira kamu pergi tanpa ada masalah disana!" Sahut ema memeluk dan menenangkan alika."Sudah kamu yang tenang yaa?" Ucap ema mengusap punggung alika."Eh tadi kamu bilang apa? Kamu sedang hamil?" Tanya ema yang teringat akan ucapan alika.
"Iya mah! Alika sekarang sedang hamil empat bulan. Tapi alika belum pernah memeriksakan kandungan alika pada dokter karena tajudin tak pernah memberiku uang untuk ke dokter. Jadi alika hanya mengira-ngira dan menghitung nya sendiri semenjak periksa pada tabib disana!" Jelas alika panjang lebar sambil mengusap air matanya berulang kali.
"Waaah mama mau punya cucu lagi? Coba lihat perut mu?" Sahut ema antusias akan kehamilan anaknya."Yaa Allah semoga kau berikan keturunan yang sholeh dan sholekhah pada anakku!" Ucap ema sembari mengusap perut alika dengan tetesan airmata."Nanti kita periksa puskesmas ya? Sudah jangan banyak pikiran. Tenangkan hatimu, besok pagi kita akan bersama memeriksakan kandunganmu. Jangan kau pikirkan suamimu yang gila itu. Setelah melahirkan nanti mama bantu untuk mengajukan gugatan di pengadilan!" Jelas ema panjang lebar menenangkan alika.
Alika sudah kembali tenang dipangkuan ema dan tidur terlelap tanpa beban. Alika memang membutuhkan istirahat yang cukup agar kandungan nya tidak terganggu. Ema yang melihat alika tidur dengan pulas dipangkuan nya mengusap kepala alika dengan lembut hingga air mata nya terus mengalir karena tak sanggup melihat keadaan yang di alami alika. Ema merasa sangat berdosa saat dirinya menjadi ibu saat alika kecil selalu membedakan nya dengan nindia. Namun siapa sangka sekarang alika lah yang selalu ada untuk ema dan bukan anak kesayangan nya yaitu anindia.
***
DIRUMAH TAJUDIN
"Alika! Alikaaa!" Kemanaa itu anak. Bukan nya mengerjakan pekerjaan nya dirumah malah keluyuran nggak jelas! Huuff Alikaaa!" Teriak tajudin terus memanggil alika yang hilang entah kemana.
Saat tajudin berteriak memanggil istrinya hingga ke jalan akhirnya doni keluar dari rumahnya karena mendengar suara tajudin teriak memanggil alika.
__ADS_1
"Woy din! Cari siapa?" Panggil doni masih didepan pintu rumahnya.
"Aku mencari alika! Apa kamu melihatnya?" Tanya tajudin merasa sudah sangat lelah mencari istrinya.
"Bukan nya dia sudah pulang ke kota nya?" Sahut doni masih berdiri di depan pintu."Tadi dia kemari meminta tolong padaku untuk mengantarkan nya ke halte bus untuk pulang! Tapi dia bilang katanya sudah berpamitan padamu, karena kamu tidak bisa mengantarnya!" Jelas doni panjang lebar pada tajudin yang berada dihalaman rumah nya.
"Apah? Dia pulang kerumah nya? Kapan tadi kamu mengantar nya?" Tanya tajudin merasa heran karena tadi saat dia pulang alika baik-baik saja tidak mengatakan apapun.
"Tadi jam sebelas siang! Mungkin sekarang sudah sampai dirumahnya. Ini sudah jam empat sore!" Sahut doni mengatakan yang sejujurnya.
"Oooh.. Ya sudah terimakasih sudah memberitahu. Aku pamit ya? Baru pulang dari kebun!" Ujar tajudin berusaha menahan emosinya yang sudah mulai memuncak.
"Kamu ini! Setiap hari kerjaan nya beranteem terus sama istrimu. Setiap hari ibu selalu saja disambut dengan wajah kusut mu yang jelek itu! Sudah jelek jadi semakin tambah jelek!" Ujar dariyah masih membereskan kayu yang dia bawa dari kebun.
"Alika kabur! Dia pulang tanpa pamit padaku!" Jawab tajudin datar sambil menyandarkan kepalanya ditangan kanan nya dengan posisi duduk dikursi meja makan.
"Apah? Kabur pulang kerumah nya maksud kamu?" Tanya dariyah terkejut mendengar menantunya pergi.
"Iyaa! Semua pakaian nya dia bawa tanpa sisa. Hanya beberapa baju saja yang dia tinggal." Ujar tajudin masih dengan posisi yang seperti tadi.
__ADS_1
"Dasar istri tidak tahu terimakasih! Pekerjaan nya selalu mencari masalah saja setiap hari! Kita masih mau menampung nya disini saja sudah alhamdulillah! Ceraikan saja istri mu itu! Dia memang tidak berguna!" Jawab dariyah menghasut pikiran tajudin.
Tajudin tak menjawab ucapan ibunya. Tajudin hanya diam dengan pikiran yang terus melayang memikirkan alika yang masih dicintai nya tapi selalu menyiksanya. Entah apa mau tajudin selama ini terhadap alika. Tajudin kini menjalani hari-hari nya tanpa alika. Wajahnya selalu kusut menjadi pendiam tak seperti biasanya. Dirinya bingung untuk menghubungi alika melalui handphone namun handphone nya rusak tak layak pakai lagi. Ingin membeli handphone tapi uang nya dia simpan pada ibunya hingga entah kemana uang yang dia simpan ibunya menjawab uangnya sudah habis. Begitulah kehidupan keluarga tajudin jika menyangkut dengan uang rasanya tak rela jika dikeluarkan untuk hal yang tidak perlu dibeli. Bahkan kalau bisa mereka akan memakan kotoran mereka sendiri hanya karena tidak ingin mengeluarkan uang untuk membeli makanan yang menyehatkan.
***
Alika kini sudah mulai damai dengan hati dan pikiran nya. Ema selalu menguatkan alika yang sedang dalam ujian beratnya. Ema selalu mengajak alika untuk bersilaturahmi kerumah saudara nya hingga sejenak melupakan masalah nya. Dengan modal menjual gelang alika mempunyai sedikit uang untuk pegangan jika saat dirinya sedang merasakan ngidam menginginkan sesuatu.
"Mah! Aku ingin makan Cumi. Tapi mama yang masak yaa?" Ujar alika ingin membeli semua makanan yang dia inginkan selama ini.
"Iyaa. Nanti kita masak cumi. Tunggu tukang sayur keliling yaa?" Jawab ema yang duduk diruang tamu bersama alika ditemani teh dan cemilan.
"Mmm mah! Ada kayu untuk mengambil mangga muda nggak? Alika lihat mangga bergelantungan rasanya ingin makan itu dengan sambel garam kayaknya enak!" Ujar alika menatap mangga di halaman nya dengan penuh rasa ingin yang luar biasa.
"Ada. Nanti biar mama minta tolong tetangga untuk mengambilkan nya yaa?" Sahut ema beranjak keluar mencari seseorang untuk membantu mengambilkan mangga yang terlalu tinggi.
Alika bahagia kini segala keinginan nya tercapai. Bahkan dari mulai makan bakso, mie ayam, wedang jahe, ikan, ayam dan sebagainya. Ema selalu memanjakan lidah alika yang masih ngidam dengan segala keinginan nya. Selama satu minggu berada dirumahnya kini alika sudah lebih rileks dari sebelum nya. Wajahnya kembali berseri karena selalu ada senyuman diwajah nya. Kulitnya kembali ia rawat menggunakan sabun dan handbody yang ia beli. Namun tajudin masih dengan wajah kusut nya yang selalu merindukan alika tak berada disamping nya. Namun jika dekat ia selalu menyiksanya. Entah bagaimana sebenarnya sifat tajudin sedikit tak bisa dimengerti.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG