
"Heh! Berhenti bicara kasar dengan ibu! Apa kau tidak malu jika ada yang melihat bahwa kamu berani melawan ibumu? Ingat kita punya tetangga! Jangan membuat masalah terus-menerus!" Pekik wardiyo dihadapan tajudin agar dia berhenti meneriaki ibu yang sudah melahirkan nya.
"Aku tidak akan marah jika tidak ada yang meneriakiku seeanknya!" Teriak tajudin membalikan badan nya dan kembali masuk ke kamarnya.
"Brukh!"
Tajudin menutup pintu membantingnya dengan keras. Dariyah dan wardiyo yang didepan pintu kamar tajudin sampai dibuat kaget hingga bahunya terangkat. Namun alika masih saja menutup matanya seakan telinganya tertutup rapat hingga tak mendengarkan apapun disekitarnya. Tajudin dengan nafas yang memburu melihat alika masih menutup matanya langsung menghampirinya dan memeriksa keadaan alika yang masih terbaring lemah karena ulahnya semalam.
"Alika! Hey alika bangun!" Bisik tajudin sambil menepuk-nepuk pipi alika berkali-kali."Alika! Apa kamu baik-baik saja?" Bisik tajudin panik melihat alika yang tak merespon."Aduh gimana ini? Apa aku harus membawanya kerumah sakit?" Gumam tajudin panik dengan mondar-mandir melangkah kesana kemari dengan memijat pelipisnya."Alika! Alika bangun alika!" Bisik tajudin terus berusaha agar alika bangun dari tidur panjangnya namun alika tak merespon apapun.
Tajudin berfikir keras bagaimana caranya agar alika terbangun dari pingsan nya. Tajudin akhirnya memilih untuk mandi lebih dulu agar lebih rileks dan segar. Setelah selesai mandi alika masih terbaring lemah dengan posisi yang sama. hari sudah menunjukan jam sepuluh pagi alika belum juga bangun. Tajudin yang baru selesai sarapan dirinya bingung harus melakukan apa. Akhirnya dia memberanikan diri bercerita dengan kakak nya wardiyo.
"Kak! Aku ingin bicara sebentar bisa?" Tanya tajudin dengan wajah paniknya pada wardiyo.
"Kamu mau bicara apa? Serius sekali wajahmu!" Sahut wardiyo melihat tingkah tajudin tak seperti biasanya.
"Kita bicara diluar sana jangan disini takut ada yang mendengar!" Titah tajudin memeluk bahu sang kakak membawanya keluar.
"Kau ini! Ada apa? Kau mau bicara apa sampai ditempat seperti ini?" Tanya wardiyo yang semakin penasaran oleh tingkah adiknya.
"Begini! Tapi kakak janji jangan bilang pada siapapun. Hanya kita berdua saja!" Ucap tajudin menoleh kesana kemari melihat situasi.
"Yaa! Ada apa? Cepat katakan!" Jawab wardiyo semakin kesal.
"Waktu kakak malam pertama dengan mbak reni apa dia pingsan?" Tanya tajudin berbisik dengan wajah panik nya.
__ADS_1
"Tidak! Memang nya kenapa kamu tanya begitu?" Sahut wardiyo dan menanyakan maksud tajudin.
"Semalam aku melakukan malam pertama dengan alika. Yaa memang sih aku memaksakan keinginanku tadi malam. Tapi semenjak malam itu dia belum juga bangun dari tidur nya dan aku tidak tahu itu kenapa." Ujar tajudin panjang lebar menjelaskan masalah nya pada wardiyo.
"Hah! Kamu baru melakukan nya tadi malam semenjak menikah bulan lalu?" Terkejut wardiyo mendengar penjelasan tajudin.
"Iyaa. Karena alika selalu menolak hanya karena takut! Semalam aku melakukan nya disaat aku emosi tanpa memikirkan ketakutan alika." Ujar tajudin semakin panik.
"Berapa kali kamu melakukan nya semalam?" Tanya wardiyo mengintimidasi takut adiknya berbuat buruk pada alika.
"Aku melakukan nya sekitar enam sampai tujuh kali." Sahut tajudin jujur tanpa rasa bersalah.
"Appaah! Kamu gila atau maniak *** tajudin! Dia masih perawan. Dan jelas dia takut karena yang kamu nikahi itu gadis lugu! Bukan gadis nakal yang tidak pernah takut melihat burung lelaki! Lalu bagaimana keadaan alika sekarang?" Emosi wardiyo dengan nada tingginya.
"Dia masih pingsan." Jawab tajudin dengan wajah bingung nya.
"Iya kak!" Sahut tajudin melangkah menuju kamarnya.
Wardiyo emosi dan mengacak-ngacak rambut belakangnya sembari mondar mandir di depan rumahnya menunggu kabar tajudin tentang keadaan alika. Sedangkan tajudin membuka kamarnya perlahan dan menghampiri alika yang masih berbalut selimut. Tajudin membuka selimutnya perlahan dan melihat bagian bawah milik alika sesuai perintah kakaknya. Setelah tajudin melihatnya dan ternyata.
"Ya Allah alika! Kenapa bisa sampai seperti ini? Aduh aku harus bagaimana ini?" Ucap tajudin pada dirinya sendiri setelah melihat keadaan alika yang sebenarnya.
Tajudin melangkah cepat menuju pintu kamarnya dan memanggil wardiyo dengan wajah yang sangat panik melihat kondisi alika yang mengenaskan.
"Kaak! Kakak! Kemarilah!" Teriak tajudin memanggil wardiyo dari depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istrimu? Apa dia baik-baik saja?" Tanya wardiyo panik melihat ekspresi tajudin.
"Kakak lihat sendiri keadaan nya. Aku tak sanggup mengatakan nya." Ujar tajudin semakin panik bersandar di dinding dan menyeret punggungnya dari dinding untuk duduk dilantai.
"Alika kenapa? Masa iya aku harus melihat tubuh istrimu? Itu tidak mungkin tajudin. Kamu jangan gila!" Pekik wardiyo yang ikut berjongkok disamping tajudin.
Tajudin tak bisa menjawab lagi. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan menunjuk ke kamar agar wardiyo tetap melihat keadaan alika dengan matanya sendiri. Akhirnya wardiyo menuruti perintah tajudin dan masuk ke kamar tajudin dengan langkah perlahan dan gemetar menuju tempat alika berbaring dikasurnya. Wardiyo perlahan membuka selimutnya sedikit demi sedikit.
"Yaa Allah cobaan apa lagi ini! Istriku pulang kerumah orangtua nya karena cemburu dengan alika. Sekarang malah aku harus melihat tubuh alika yang mulus ini tanpa ada istriku disampingku. Yaa allah kuatkan imanku agar tidak goyah setelah melihat tubuhnya." Ucap wardiyo pada dirinya sendiri sembari membuka selimut alika hingga terlihat bagian bawah milik alika."Astagfirullahal'adzim! Allahu akbar!" Ucap wardiyo gemetar tak mampu berdiri dan menjatuhkan dirinya dilantai.
Setelah melihat keadaan alika kaki wardiyo seakan lemas tanpa tulang. Wardiyo merasa teriris hatinya melihat alika dengan keadaan seperti itu. Wardiyo menangis sejadi-jadi nya setelah melihat sendiri keadaan alika. Wardiyo yang tak terima tajudin memperlakukan alika sampai seperti itu membuatnya murka dan berlari menghampiri tajudin.
"Bugh! bugh! bugh!"
Wardiyo menghajar tajudin tanpa ampun. Wardiyo terus menghajar wajah tajudin tanpa henti sampai tajudin jatuh terkapar tak berdaya.
"Kurangajar kamu ya! Maniak ***! Suami biadab!" Teriak wardiyo terus memukuli tajudin tanpa ampun.
"Aaaa.." Teriak tajudin karena pedang milik nya di injak oleh wardiyo dengan kerasnya.
Wardiyo kembali masuk ke kamar tajudin dan menggulung tubuh alika menggunakan selimutnya dan menggendongnya membawa alika kerumah sakit tanpa menghiraukan tajudin yang merintih kesakitan dan ngilu. Wardiyo berlari meminta tolong pada tetangga yang mempunyai mobil agar bisa membawa alika kerumah sakit. Semua warga berkerumun melihat wardiyo panik menggendong alika. Semuanya bertanya-tanya kenapa istri tajudin dibawa pergi oleh wardiyo?
"Doni! Tolong bantu aku membawa alika kerumah sakit sekarang. Cepat!" mohon wardiyo yang sudah berada dirumah teman nya dan meminta tolong pada teman nya yang mempunyai mobil.
"Yaa masuklah ke dalam mobil!" Sahut doni sembari membukakan pintu mobilnya dan membantu wardiyo masuk ke dalam mobil nya."
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG