
Saat alika terbangun ema masih tidur di kamar nya. Alika terbangun karena bayi nya yang menangis dan akhirnya alika terpaksa bangun dengan kepala yang pusing dan sedikit bengkak dimatanya karena menangis semalaman. Saat alika keluar dari kamar nya dia sudah disambut kedatangan rodiyah dan pasukan nya termasuk fahri. Alika bukan nya menyambut kedatangan mereka yang sudah duduk diruang tamu malah mendiamkan nya dan masuk ke dalam untuk memandikan bayi nya. Mereka datang tanpa mengetuk pintu rumah dan masuk begitu saja karena pintu tidak dikunci. Alika semakin kesini semakin membenci mereka karena masuk rumah orang sembarangan dan tidak punya sopan santun. Entah kenapa alika semakin membenci fahri, alika sendiri juga tidak tau.
Alika memandikan anaknya dengan penuh kasih sayang dan telaten sesekali mengajaknya bicara dan bercanda. Alika bagaikan mempunyai boneka hidup yang selalu bisa di ajak bicara setiap saat. Alika mengalami baby blues sehingga terkadang dia marah-marah kepada bayi nya dan terkadang dia juga lembut pada anaknya. Entah apa yang ia alami saat ini mungkin karena terlalu banyak masalah atau karena orang orang yang ia sayangi dan ia harapkan sudah pergi perlahan dari kehidupan alika.
"Anak cantik.. Anak nya siapa sih ini? Anak mama yaa?" Alika berbicara sendiri mengajak anaknya bicara sembari membalurkan minyak telon ditubuh anaknya dan memakaikan bajunya.
Alika bermain dengan anaknya membuat nya sedikit menghilangkan emosinya pada mereka yang sudah tak mau peduli pada alika.
***
Tak terasa sudah 40 hari alika melahirkan anaknya dan rencananya alika ingin mengadakan syukuran tapi alika tidak mempunyai biaya. Akhirnya ema yang akan membantu alika untuk mengadakan syukuran memberi nama untuk anaknya.
"Alika! Kamu ingin acara syukuran nya seperti apa? Biar nanti mama yang urus semuanya!" Ucap ema yang sudah berada dikamar alika.
"Tidak usah! Urus saja orang pengajian mama. Nggak usah ngurusin aku! Aku akan memberinya nama tanpa harus ada syukuran!" Ketus alika masih menggendong anaknya.
"Kok gitu kamu? Mama mengadakan ini semua termasuk pengajian itu demi kamu alika!" Ujar ema lagi terpancing emosi dengan ucapan alika yang sudah berubah mendiamkan mama nya selama kedatangan fahri.
"Mama selalu ladenin mereka tanpa memikirkan kondisi alika! Berarti mama mengadakan itu semua demi diri mama sendiri. Untuk menghibur hati mama yang kesepian. Termasuk hubungan mama dengan fahri! Mama pikir alika anak bodoh yang tidak tau hubungan apa yang mama jalani dengan fahri hah?! Alika tau mah! Udah deh mama nggak usah lagi sok perhatian sama alika! Perhatiin aja tuh brondong kesayangan mama!" Pekik alika sudah tidak tahan menahan emosinya karena alika selalu ditinggal sendiri setiap hari.
"Kamu ini kenapa sih! Kamu tidak suka jika mama menjalin hubungan dengan fahri?! Dia anak yang baik alika! Wajar dong mama menyambut hati nya yang mencintai mama!" Sahut ema yang sudah mulai kesal dengan ucapan alika.
"Apa mama tidak malu mempunyai kekasih yang usianya lebih muda dari alika? Dimana otak mama selama ini? Mama menjalin hubungan dengan pria yang seharusnya dia menjadi anak mama. Bukan kekasih mama!" Kesal alika terus mengajak ema berdebat.
"Stop alika! Kamu tidak berhak mengatur apa yang harus mama jalani dengan nya!" Pekik ema menunjuk tangan nya di depan wajah alika.
"Kalau gitu nggak usah peduli lagi apa yang harus alika lakukan terhadap mama! Alika malu, alika kecewa sama mama!" Tambah alika lagi dan memunggungi ema yang masih berdiri dihadapan nya.
__ADS_1
Ema yang kesal keluar dari kamar alika dan kembali mengontrol nafasnya yang tak beraturan lalu kembali menemui rombongan pengajian nya dengan senyum lebar nya seakan tak ada masalah yang sedang di alami nya sekarang. Alika tidak pernah keluar rumah semenjak mempunyai bayi. Alika sedikit jenuh dan bosan karena selalu berada dikamar nya tanpa berinteraksi dengan siapapun. Mereka yang datang menemui alika dikamar nya pun tak disambut hangat oleh alika justru mendapatkan sikap jutek alika yang akhirnya mereka yang masuk ke kamar alika kembali keluar dari kamar nya.
"Mbak! Alika kenapa? Kenapa akhir akhir ini dia begitu jutek nya! Dan saat aku mengajak nya bicara dia diam saja seakan tak mendengar ada orang bicara dengan nya!" Ucap rodiyah yang ingin menengok anak alika karena rodiyah yang mendampingi alika selama melahirkan dirumah sakit.
"Aku juga nggak tau dia kenapa! Dia juga mendiamkan aku tanpa memberitau apa masalahnya! Aku juga bingung menghadapi sikap nya sekarang!" Jawab ema dengan wajah yang berubah sedih.
"Sabar mbak! Mungkin alika sedang stres karena keadaan nya yang mempunyai anak tanpa kehadiran suaminya!" Ucap rodiyah lagi mengusap punggung ema dengan lembut.
Ema dan alika kini terus berseteru karena alika yang sedang mengalami baby blues terkadang marah terkadang juga lembut. Alika mempunyai gejala depresi semenjak menikah dengan tajudin namun alika tidak menyadarinya dan tidak mengontrol dirinya di rumah sakit karena faktor biaya yang akhirnya sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Kini hari sudah berganti malam. Ema terus berusaha membujuk alika agar mau menggelar syukuran untuk memberi nama pada anaknya. Ema menghampiri alika dikamarnya ingin menyampaikan maksudnya.
"Alika!" Panggil ema sembari membuka pintu kamar alika.
Alika tidak menjawabnya hanya melirik nya dan kembali menidurkan anaknya.
"Alika.. Bagaimana apa kamu sudah berubah pikiran nak?" Tanya ema mengusap kepala alika yang duduk di lantai dipinggir ranjang nya menidurkan anaknya dan menyanyikan nya.
"Kamu kenapa sayang? Jujur sama mama, apa kesalahan mama sampai membuatmu seperti ini?" Tanya ema dengan nada lembutnya mengusap bahu alika.
"Aku nggak pa pa! Aku sedang ingin sendiri! Jangan ganggu aku mah!" jawab alika dingin dan datar tanpa menoleh pada ema.
"Yaa sudah. Pokoknya mama tetap akan mengadakan syukuran nya besok! Mau tidak mau kamu harus mau!" Ucap ema dengan penuh penekanan.
Lagi lagi alika tidak menjawab ucapan ema sampai ema keluar dari kamar alika. Ema tidak tau letak kesalahan nya. Dan alika entah kenapa membenci mama nya yang sekarang karena lebih mementingkan tamu dan rombongan nya ketimbang alika yang lebih membutuhkan nya. Alika sudah lelah dengan semua nya hingga memilih untuk diam tak ingin mengatakan apapun pada siapapun yang ingin bicara dengan nya.
***
__ADS_1
Keesokan harinya ema menggelar syukuran dan membuat bubur untuk dibagikan pada tetangga dan rombongan nya untuk memberi nama cucunya. Ema kembali masuk ke kamar alika menanyakan apa alika sudah menyiapkan nama untuk anaknya atau belum.
"Alika! Apa kamu sudah menyiapkan nama yang bagus untuk anakmu nak?" Tanya ema berusaha tetap lembut pada alika.
"Sudah!" Jawab alika datar tanpa menoleh pada ema sang ibu.
"Kamu akan memberi namanya siapa? Boleh mama tau?" Tanya ema membujuk alika dengan lembut karena ema tau alika sedang tidak baik baik saja.
"Syifa Ashilla Rahma!" Jawab alika masih dengan wajah datarnya tanpa menoleh pada ema.
"Namanya cantik sekali? Apa kamu tau arti dari nama anakmu itu?" Tanya ema masih terus berusaha mengajak alika mengobrol.
"Tau!" Sahut alika lagi.
"Yaa sudah mama cetak dulu nama anakmu yaa? Agar bisa dibagikan pada tetangga dan saudara! Mama keluar dulu ingin melanjutkan membuat bubur nya!" Ujar ema lagi berusaha menahan kesalnya.
Alika masih dingin tak menghiraukan ema mau bicara apa padanya. Alika masih kecewa dengan mama nya yang terkesan menduakan nya. Alika juga tidak tau kenapa dirinya jadi berubah seperti ini. Alika memberi nama anaknya sesuai dengan yang alika alami saat ini. Alika tau arti dari nama anaknya.
***
*Shifa yang artinya Obat penawar
*Ashilla yang artinya Lemah lembut
*Rahma yang artinya Keberkahan dan kesetiaan
Jika disatukan secara keseluruhan maka artinya: Anak yang lemah lembut dengan penuh berkah dan kesetiaan sebagai obat penawar bagi orang tua yang melahirkan nya.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG