NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
36.AKU HANYA SEORANG ISTRI


__ADS_3

Setelah melakukan aktifitas nya diatas kasur mereka berdua tidur terlelap terutama tajudin yang merasa lelah. Jam dua dini hari tajudin terbangun untuk pergi ke toilet dan membersihkan bagian bawah nya agar nyaman. Setelah selesai tajudin kembali ke kamar nya dan melihat alika terbangun sedang memakai pakaian nya satu persatu. Tajudin menelan saliva nya yang terasa berat begitu melihat punggung alika yang hanya memakai pakaian dalam nya saja. Tajudin melangkah perlahan menghampiri alika dan memeluknya dari belakang dengan mencium tengkuk alika begitu lembut. Tajudin memulai aksinya kembali namun alika hanya bisa mendengkus kesal karena suaminya akan meminta nya kembali. Alika tak bisa menolaknya dia pun hanya diam saja membiarkan tajudin yang melakukan nya namun dirinya hanya pasrah tanpa melakukan apapun. Mereka berdua akhirnya melakukan kembali pergulatan panas nya hingga satu jam lama nya.


***


Kini hari telah berganti pagi namun pasangan muda masih terlelap dengan tidurnya hingga jam menunjukan jam enam pagi. Tajudin merasa sangat bahagia karena hasrat nya sudah bisa ia salurkan pada istrinya. Namun tidak bagi alika, dia justru merasa biasa saja tak merasakan kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan. Rasa sakit dari awal pernikahan hingga lima bulan lama nya yang diberikan oleh tajudin masih menyisakan rasa kecewa yang teramat dalam di hati alika. Hingga saat ini alika masih belum bisa membuka hatinya untuk suami yang sudah menikahinya. Kini mereka berdua mandi wajib bersama dikamar mandi yang tanpa dinding. Setelah selesai melakukan ritual mandinya alika kembali melakukan aktivitas nya memasak untuk sarapan agar perutnya yang begitu lapar bisa terasa kenyang.


"Masak apa sayang?" Tanya tajudin berjongkok di samping alika yang sedang sibuk memasak nasinya menggunakan panci.


"Masak nasi!" Jawab alika dengan ekspresi datar nya tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Mau masak apa hari ini?" Tanya lagi tajudin berusaha mengambil hati alika yang susah untuk diluluhkan.


"Aku nggak tahu di warung ada sayur apa saja! Yang pasti aku memasak yang menurut lidahku enak untuk dimakan!" Sahut alika masih fokus dengan api yang dia nyalakan menggunakan kayu bakar.


"Mmm yaa sudah. Hari ini aku makan dirumah saja. Masak yang enak yaa? Walaupun hanya tahu tempe kalau kamu yang masak pasti enak!" Ujar tajudin masih terus merayu alika agar bisa tersenyum walau sedikit saja.


"Iyaa!" Singkat alika masih fokus dengan apinya tanpa melihat suaminya.


"CUP" Tajudin mencium puncuk kepala alika dan pergi untuk ke kebun kelapa miliknya untuk membuat gula merah.


Sepanjang jalan tajudin selalu mengumbar senyumnya dan semua orang yang dia kenal berpapasan dengan nya dia sapa dengan begitu bahagianya. Namun alika masih banyak diam dengan wajah jutek nya yang selalu dia ekspresikan setiap hari. Sejak meninggalnya sang kakek alika kini menjadi wanita yang pendiam dan jutek. Jika tidak di ajak bicara maka dia akan selalu diam. Merasa kehilangan sosok yang dia cintai membuat dirinya sakit hingga relung jiwa nya. Kekecewaan dalam hidup yang selalu alika dapatkan membuat dirinya enggan hidup mati pun tak mau. Begitulah kira-kira kata pepatahnya.

__ADS_1


Setelah selesai dengan kesibukan masak nya, nasi yang alika masak sudah matang dan kini melangkah pergi ke warung yang menjual sayuran. Alika melihat ada tahu, tempe, bakso, dan kecambah membuat dirinya berfikir ingin masak tumis balado yang sedikit pedas manis asin. Alika membeli semuanya dengan serba dua ribu rupiah agar uang sepuluh ribu bisa ia dapatkan semuanya. Murah meriah bukan?


Alika berkutat menyiapkan bumbu setelah pulang dari warung sayur dan memasaknya dengan lihai ala chef profesional. Kini masakan alika sudah selesai dan dia hidangkan di atas piring dan memakan nya dengan lahap bahkan hampir tiga piring nasi ia habiskan.


"Hay sayang.. Kamu sedang makan?" Sapa tajudin yang baru saja sampai dari kebun kelapa nya.


"Sudah. Kamu mau makan?" Tanya alika datar. Tapi jangan pakai nasi yang aku masak yaa? Pakailah nasi yang ibumu masak. Sisa nasi yang aku masak untuk makan malamku nanti!" Ujar alika yang tak rela nasinya dihabiskan.


"Iyaa deehh! Apa sih yang nggak buat kamu!" Sahut tajudin masih dengan nada merayu nya.


Tajudin mengambil nasi dan mengambil lauk yang sudah alika masak dengan lezat. Tajudin makan dengan lahapnya seperti orang yang tidak makan selama satu minggu. Namun disaat sedang menemani suaminya makan darun sang ayah mertua sudah pulang dari sawah nya. Hari ini darun pulang siang karena merasa sedang tidak enak badan. Darun mengistirahatkan dirinya dikamar belakang dekat dengan dapur membuat alika sedikit canggung karena ada nya sang ayah mertua.


"Aku duduk diluar dulu kak!" Ujar alika kemudian melangkah pergi duduk diteras rumah.


Dengan langkah perlahan perut yang membuncit memakai dress di atas lutut lengan panjang dipadukan dengan celana leging panjang dan hijab instan nya membuat lekuk tubuhnya sedikit terlihat karena perutnya yang sudah mulai besar membuat pakaian alika banyak yang tidak muat lagi. Alika duduk melamun melihat kebun di sebelah kirinya dan beberapa tetangga disamping kanan nya yang sedang ngerumpi berkumpul bersantai ria. Namun dihadapan nya adalah sebuah gubuk kecil untuk membuat gula merah dengan kuwali yang super besar diatas pawon kayu yang lubang api nya cukup besar pula. Alika selalu bersembunyi di gubuk kecil itu jika dariyah mencari masalah memerintah alika mengerjakan semuanya dirumah itu.


"Alika! Aja ngelamun bae.. Bocah wadon lagi ngandung mah pamali ari ngelamun. Mbok kesambet!" Ucap salah satu tetangga yang melewati teras rumah tajudin berhenti menasehati alika yang melamun.(Alika! Jangan melamun terus. Anak perempuan yang sedang hamil tidak boleh banyak melamun. Takut nanti kesambet makhluk halus).


"Nggak bu. Saya nggak melamun. Cuma sedang memikirkan sesuatu!" Sahut alika dengan senyum simpul nya.


"Eehh mbok ayu arep aring ngendi kui?" Sapa tajudin yang sudah disamping pintu rumah nya menyapa tetangga yang mengajak alika bicara.(Ehh ibu cantik mau kemana itu?)

__ADS_1


"Eehh iyaa ini mau ke warung beli kopi buat pak suami baru pulang dari sawah!" Jawab tetangga itu sembari melangkah menuju warung sembako.


Tajudin kemudian duduk dikursi teras menemani alika dengan mengajak nya ngobrol agar tidak melamun. Alika melihat kesana kemari seakan tak melihat ada tajudin disamping nya. Setelah menikah alika menjadi pribadi yang suka menyendiri tanpa mengajak bicara pada siapapun yang berada di sekitar nya.


"Sedang memikirkan apa?" Tanya tajudin yang duduk di samping alika namun tubuhnya menghadap alika.


"Tidak! Sedang tidak memikirkan apapun!" Sahut alika singkat sesekali melirik ke arah tajudin di samping kirinya.


"Mmm apakah nanti malam aku boleh meminta nya lagi?" Tanya tajudin takut alika menolaknya jika tanpa ijin lebih dulu.


"Insyaallah. Badanku capek dan pegal. Jika nanti malam masih terasa lelah, maaf lain kali saja!" Sahut alika menundukan wajahnya dengan memainkan jari nya.


"Apa kamu tidak puas semalam?" Tanya tajudin yang melihat wajah alika dengan rasa kecewa.


"Aku tidak tahu aku puas atau tidak. Yang pasti aku hanya seorang istri cukup melayani suaminya di atas ranjang dengan baik." Sahut alika tak mau membahas masalah ranjang nya lebih dalam dengan tajudin.


Alika tidak ingin suaminya tahu titik lemah alika disalah satu bagian tubuhnya. Alika tidak ingin tajudin terus mengambil kesempatan di area kelemahan nya yang sensitif.


***


Pada dasarnya alika sudah memaafkan suaminya. Namun rasa kecewa yang sudah banyak ia dapatkan membuat dirinya enggan untuk berinteraksi banyak dengan tajudin dan keluarganya. Alika hanya menahan diri takut salah bicara dan membuat tajudin kembali marah dan menyiksanya seperti dulu. Bisa dikatakan alika mengalami trauma yang begitu besar dan sangat dalam.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG


__ADS_2