NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
16. AKU JANJI


__ADS_3

"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya tajudin dengan tangan yang menepuk kasurnya memberi tanda alika agar duduk disebelahnya.


"Hum! Eem yaa tunggu sebentar! Aku belum selesai membereskan baju!" Sahut alika kembali membalikan badan nya menghadap ke lemari dengan pikiran yang trafeling kemana-mana."Apakah dia akan meminta hak nya malam ini juga? Atau hanya sekedar bicara? Tapi dia mau bicara apa?" Gumam alika dengan banyak pertanyaan di otaknya tanpa ekspresi.


Tajudin terus menatap punggung alika yang tak kunjung selesai membereskan bajunya. Tajudin mengerti yang seakan-akan alika sengaja menyibukan dirinya agar tak kembali dipanggil olehnya. Tajudin yang sudah tidak sabar akhirnya memilih menghampiri alika dengan langkah santainya memeluk alika dari belakang. Alika yang tiba-tiba dipeluk dirinya sangat terkejut dan melepaskan tangan tajudin dengan cepat yang melingkar di pinggang nya.


"Astaghfirullahal'adzim!" Ucap alika terkejut dan langsung melepas tangan tajudin dengan cepat.


"alika kamu kenapa?" Tanya tajudin yang bingung melihat tingkah istrinya yang sangat ketakutan.


"Aku tidak apa-apa! Maaf tadi kamu mau bicara apa?" Tanya alika dengan suara yang bergetar menahan takutnya.


"Kita bicara sambil duduk disana! Tidak enak jika bicara sambil berdiri!" Titah tajudin menyuruh alika duduk di tepi ranjangnya.


Dengan langkah ragu alika berjalan perlahan menuju kasur nya yang dekat namun dimata alika rasanya sangat jauh. Alika sudah didepan kasurnya tapi ia ragu untuk duduk disebelah tajudin yang sudah duduk lebih dulu.


"Duduklah alika!" Titah tajudin sembari menggenggam tangan alika yang masih berdiri kaku seperti patung.


"Ka-kamu mau bicara apa?" Tanya alika gugup tak berani menatap suaminya yang sudah duduk disebelahnya.


"Alika! Kamu sudah diberi sedikit wawasan oleh mama mu kan?" Tanya tajudin lembut sambil memeluk bahu alika.


"Emm. Wa-wawasan apa maksud kakak?" Tanya alika yang tak mengerti maksud suaminya.

__ADS_1


"Tentang hubungan suami istri!" Ujar tajudin masih dengan nada lembutnya dengan wajah yang sudah sangat dekat berjarak satu senti ditelinga alika.


Alika yang terkejut dengan pertanyaan tajudin langsung berdiri kaku seakan disebelahnya adalah seekor buaya yang akan menerkamnya habis tanpa sisa. Alika gugup dengan tubuh yang bergetar memainkan jarinya yang penuh dengan keringat dingin tak berani menjawab pertanyaan tajudin. Alika terus menunuduk masih bergetar ingin menangis namun tak bisa. Nafasnya seakan terasa sesak menahan rasa takutnya. Tajudin yang melihat tingkah alika sedikit memahaminya. Dan dia akan dengan lembut membujuk dan memberi pengertian pada alika agar tidak perlu takut memberikan hak nya.


"Alika! Jangan takut. Awalnya memang sakit. Tapi lama-lama rasanya akan terbiasa dan terasa nikmat." Ujar tajudin menghampiri alika yang berdiri dan menangkup wajah alika dengan lembut.


"Ta-tapi aku..!" Sahut alika gugup tak mampu meneruskan ucapan nya dengan menunduk meneteskan air matanya.


"Tidak apa-apa.. Aku akan bersabar sampai kamu benar-benar siap!" Ujar tajudin memeluk alika dan menenggelamkan wajah alika di dadanya dengan lembut.


Alika terus terisak di dada bidang suaminya. Alika menumpahkan rasa takut nya dipelukan tajudin. Alika juga memeluk pinggang tajudin agar dirinya mau mengerti perasaan nya saat ini. Tajudin sudah mulai mengerti keadaan alika sejak satu minggu tinggal dirumah ema. Tajudin terus mengusap kepala alika dengan lembut dan mebawanya duduk ditepi ranjang dengan memangku alika di atas pahanya. Tajudin mengusap air mata alika dengan tangan kirinya dan memeluk pinggang alika dengan tangan kanan nya. Alika yang berada dipangkuan tajudin merasa risih dan ingin bangkit berpindah duduk diatas kasur. Namun saat akan bangkit dari pangkuan tajudin dengan cepat tajudin menahan nya agar alika tetap berada diatas pangkuan nya.


"Jangan pindah. Biarkan tetap seperti ini. Aku hanya ingin memelukmu!" Ujar tajudin memeluk pinggang alika dan menenggelamkan wajahnya di dada alika.


Alika yang diperlakukan seperti itu terdiam kaku seperti patung tak bergerak. Alika merasakan hembusan nafas tajudin dibelahan dadanya yang kancingnya sedikit terbuka. Alika merasa gelisah karena tubuhnya seakan seperti mendapatkan setruman yang dibuat oleh tajudin. Alika yang mulai gelisah menyingkirkan kepala tajudin perlahan dan melirik suaminya sedikit kemudian menunduk malu.


"Apa kamu tidak menginginkan nya?" Tanya tajudin dengan suara beratnya menahan hasratnya.


"Menginginkan apa maksud kakak?" Tanya alika dengan ekspresi penuh tanda tanya.


"Menginginkan yang pernah kamu lihat di vidio kemarin dengan mama kamu!" Sahut tajudin dengan wajah yang sangat dekat dengan wajah alika hanya berjarak satu senti.


"A-akuu.. Aku takut kak!" Ucap alika menundukan wajahnya.

__ADS_1


Tajudin yang melihat alika sudah mulai lembut akhirnya mengangkat dagunya agar wajahnya dan wajah alika berhadapan. Dengan perlahan tajudin mencium bibir alika ********** dengan lembut sesaat. Tajudin memberi sedikit rangsangan agar alika tidak lagi menolaknya malam ini.


"Alika! Aku ingin mencobanya malam ini. Jika kamu tidak kuat dan merasa sakit akan aku hentikan dan akan mencoba nya lagi besok! Mau kan?" Ucap tajudin dengan kata-kata lembutnya agar alika tidak berontak.


"Ta-tapi kakak janji jangan memaksakan yaa?" Sahut alika gugup dan masih memainkan tangan nya.


"Iyaa! Aku janji akan mencobanya pelan-pelan!" Ujar tajudin dan menggenggam tangan alika sebagai tanda menguatkan.


"Hu'um..!" Jawab alika sembari menganggukan kepalanya.


Tajudin yang mendapatkan welcome dari alika merasa bahagia. Tajudin langsung beranjak dari duduk nya mengajak alika untuk membersihkan dirinya dulu agar nanti saat melakukan nya lebih leluasa dan tidak risih. Mereka berdua bergegas melangkah ke kamar mandi. Alika mengikuti langkah tajudin dari belakang dan menunduk karena malas melihat wajah ayah mertuanya yang selalu cemberut saat melihat alika. Tak berselang lama mereka berdua akhirnya kembali ke kamarnya. Tajudin mengganti celananya dengan sarung andalan nya dan bertelanjang dada. Alika yang melihat tajudin tanpa baju tubuhnya semakin bergetar. Kemudian tajudin melangkahkan kakinya menuju tempat alika berdiri menatapnya. Alika hanya diam berdiri seperti patung berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdekup kencang tak beraturan. Tajudin menatap alika yang masih berdiri menunduk kebawah.


"Bismillahirohmanirrohim! Bismillahil''aliyyil' 'azhim." Ucap tajudin membaca doa sebelum melakukan hubungan dengan alika sambil menaruh telapak tangan nya diatas kepala alika dan mencium puncuk kepala alika." Bismilah siap yaa?" Tanya tajudin pada alika dengan senyum simpul di wajah nya.


"Hu'um..!" Sahut alika menunduk sambil menganggukan kepalanya.


"Santai dan rileks. Jangan panik dan takut agar semuanya bisa mengalir dengan sendirinya." Ujar tajudin menggenggam kedua tangan alika dan menciumnya lembut.


Alika hanya diam menunduk tak berani menatap tajudin dihadapan nya. Tajudin mengangkat dagu alika agar berhadapan dengan nya. Tajudin mencium bibir alika perlahan dan ********** dengan lembut. Alika yang takut hanya diam saja. Tajudin yang melihat alika hanya diam saja menggigit bibirnya agar terbuka dan tajudin memagut nya lebih dalam agar alika terangsang. Tajudin mulai meraba tangan alika hingga lengan dan lehernya kemudian turun ke dada. Alika yang mendapatkan perlakuan dari tajudin meremas pinggang tajudin dengan kencang. Tajudin yang mendapat reaksi dari alika semakin dalam membuat alika semakin terangsang. kemudian tajudin menunduk mencium leher alika agar semakin panas. Alika yang merasakan setrum ditubuh nya semakin melenguh dan meremas lengan tajudin keras.


"Aah..! Kak!" Lenguh alika sambil memanggil nya.


"Apa kamu merasakan sensasi nya?" Tanya tajudin menangkup pipi alika dengan lembut setelah melepaskan aksinya sesaat.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG


__ADS_2