NASIB Dan TAKDIR

NASIB Dan TAKDIR
27.AKU HAMIL


__ADS_3

"Kau pergilah ke pertigaan di sebelah sana. Lalu lurus saja sebelah kanan jalan ada satu rumah gubuk. Itulah rumahnya. Jika dia bertanya kamu siapa? Jawab saja istrinya tajudin. Agar tidak dimintai uang sebagai bayaran nya." Jelas biyung amin pada alika dengan detail.


"Baiklah! Aku akan kesana sekarang! Terimakasih biyung. Aku permisi assalamualaikum!" Jawab alika antusias dan langsung bergegas pergi kerumah biyung silem.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikim..!" Ucap alika setelah sampai dirumah biyung silem.


"Waalaikumsalam. Siapa yaa?" Teriak biyung silem dari dalam rumah nya.


"Aku alika biyung, istri nya tajudin!" Teriak alika dari luar ruamh biyung silem.


Tak ada jawaban alika hanya celingukan di depan pintu rumah biyung silem yang ada hutan di belakang rumah nya. Setelah lama menunggu akhirnya pintu rumah terbuka dengan lebar dan keluarlah biyung silem menemui alika dan menyuruh nya masuk.


"Masuklah! Ada apa datang kemari? Siapa yang menyuruhmu?" Tanya biyung silem dengan wajah yang sedikit menyeramkan bagi alika yang baru melihatnya.


"Aku diberitahu biyung amin disuruh kesini." Jawab alika dengan gugup.


"Kenapa dia menyuruhmu kesini? Kenapa tidak datang sendiri?" Tanya biyung silem sambil berjalan untuk duduk di kursi goyang nya.


"Mm itu karena.. emm karena aku sakit tapi tidak punya uang untuk pergi ke dokter." Jawab alika yang masih berdiri dengan tubuh gemetarnya.


"Apa yang kamu rasakan?" Tanya biyung silem sambil memainkan kinang di mulutnya.


"Aku sudah beberapa hari ini selalu mual dan muntah-muntah. Aku tidak tahu aku sakit apa. Apa karena aku selalu makan singkong setiap hari dan tidak pernah makan nasi, jadi aku terkena lambung?" Jelas alika mengajukan beberapa pertanyaan.


"Berbaringlah di kasur situ. Aku akan memeriksamu!" Titah biyung silem dan beranjak menuju tempat alika berbaring.

__ADS_1


Dengan panas dingin tubuh alika gemetar tak karuan. Biyung silem mengambil beberapa bahan yang akan digunakan untuk memeriksa alika seperti minyak kayu putih, minyak sayur dan bunga mawar untuk di oleskan diperutnya. Biyung silem memeriksa perut alika dengan memutar-mutarkan tangan nya di perut alika dengan sedikit menekan nya. Dan biyung silem sudah menebak penyakit alika.


"Tanggal berapa kamu terakhir menstruasi?" Tanya biyung silem menyudahi pemeriksaan nya.


"Tanggal berapa ya? Aku lupa!" Jawab alika masih mengingat-ingat kapan terakhir datang bulan.


"Periksalah ke dokter kandungan! Setelah aku periksa kau sedang hamil dua minggu." Jelas biyung silem sembari membereskan peralatan nya.


"Apah? Aku hamil?" Tanya alika memastikan pendengaran nya.


"Yaa. Katakanlah pada suami mu untuk mengantar mu ke dokter kandungan segera! Jika dibiarkan kondisimu akan semakin lemah!" Ujar biyung silem dengan nada tegasnya.


"Terimakasih biyung. Maaf aku tidak bisa memberi apa-apa karena tajudin tidak pernah memberiku uang!" Ucap alika dengan jujur tanpa ada yang ditutupi.


"Yaa tidak apa-apa! Pergilah aku mau istirahat!" Usir biyung silem namun tidak kasar.


"Ya yaa.. Saya tunggu!" Sahut biyung silem dan memejamkan matanya.


Alika yang melihat biyung silem tak menghiraukan nya lagi akhirnya beranjak pergi dan menutup pintu rumah biyung silem dengan rapat. Alika berjalan menyusuri jalanan kecil dan berliuk untuk kembali pulang. Dengan pikiran yang melayang-layang alika mengingat ucapan biyung silem bahwa dirinya sedang hamil dua minggu. Bukan nya merasa senang namun alika merasa sedih. Karena alika sudah sangat bosan hidup dengan pria arogan seperti tajudin. Alika lelah karena dirinya tak pernah diberi nafkah sekalipun oleh suaminya. Bahkan ia diberi nafkah pertama oleh sang ibu mertua hanya dua puluh ribu itupun untuk satu minggu lama nya. Alika berfikir ingin meninggalkan tajudin dan menceraikan nya jika sampai dirinya benar-benar sembuh dari infeksinya. Tak sadar dengan langkah nya dia melamun sepanjang jalan akhirnya sampai dirumah mertuanya. Alika duduk terpaku di sofa depan rumahnya. Alika melamun sambil meneteskan air matanya. Dia menyesali kenapa dirinya harus hamil sedangkan dirinya sudah ingin pergi dari kehidupan tajudin dan keluarganya.


"Alika! Heh alika!" Panggil tajudin menepuk bahu alika yang tak mendengar panggilan tajudin dari tadi.


"Ah iya kak ada apa?" Sahut alika sambil mengusap air matanya.


"Kamu kenapa menangis?" Tanya tajudin yang berada disebelah alika.


"Aku hamil!" Ucap alika menatap lekat mata tajudin dengan intens.

__ADS_1


"Apah? Hamil? Kata siapa? Lalu kapan kamu periksa?" Tanya tajudin berulang kali dengan tatapan heran pada alika.


"Hmm. Yaa aku hamil. Tadi aku periksa di biyung silem! Katanya aku hamil dua minggu." Ujar alika panjang lebar pada suaminya.


"Kamu kerumah biyung silem? Dengan siapa? Lalu siapa yang memberitahu kamu rumah biyung silem?" Tanya lagi tajudin yang membuat kepala alika terasa pusing.


"Kalau tanya itu satu-satu! Jangan nyerocos aja kayak petasan tahun baru!" Jawab alika kesal pada suaminya.


"Yaa aku kan juga pengen tahu yang sebenarnya! Jadi bagaimana?" Tanya lagi tajudin ingin mendengar jawaban dari pertanyaan nya yang tadi.


"Aku kerumah biyung amin! Dan aku tanya siapa disini yang bisa memeriksa tanpa harus membayar nya?" Ucap alika sengaja menyindir suaminya yang tak pernah memberi uang."Kata biyung amin ada tabib namanya biyung silem rumah nya di ujung pertigaan. Dan aku langsung kesana!" Jelas alika pada tajudin panjang lebar.


"Kenapa kamu tidak membayarnya? Kan kasihan biyung silem tidak mendapat bayaran!" Ujar tajudin tanpa dosa.


"Bagaimana aku mau bayar? Kamu saja selama menikah denganku apa pernah memberiku uang sepeserpun? Nggak kan? Lalu aku uang dari mana untuk membayar biyung silem?" Kesal alika rasanya ingin menampar suaminya tanpa ampun.


"Kan bisa bawa beras dua kilo! Kamu juga tinggal ambil di karung! Kan banyak beras dikarung! Nggak mesti harus uang alika!" Jawab tajudin masih enggan memberi uang nafkah pada alika.


"Aku kan orang kota! Mana tahu jika disini seperti itu? Lagian kamu sebagai suami nggak pernah peduli dan nggak pernah memberi nafkah sama aku! Memang nya aku boneka apah!" Kesal alika melirik tajudin dengan sinis nya.


"Hmm aku sudah serahkan semuanya uangku sama ibu! Jadi aku tidak bisa memberimu uang!" Jawab tajudin tanpa rasa bersalah.


"Yang menikah denganmu itu ibumu atau aku? Jika kamu menyerahkan semua uangmu pada ibumu, menikahlah dengan ibumu! Dan lepaskan aku!" Pekik alika kesal dengan mata berkaca-kaca lalu beranjak masuk ke kamar dan menguncinya.


Tajudin hanya terpelongo melihat tingkah alika yang semakin kesini menurutnya semakin susah dipahami. Padahal alika adalah istri yang penurut tak pernah menuntut apapun dari suaminya dari sejak awal menikah sampai usia perniakahan nya berusia empat bulan. Alika ingin mengakhiri semuanya dan pergi jauh ke jakarta menemui ibrahim yang pernah menjadi bos nya dijakarta agar alika bisa hidup berkecukupan seperti dulu lagi. Namun harapan nya sia-sia karena sekarang alika telah mengandung darah daging tajudin.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2