
"Aah..! Kak!" Lenguh alika sambil memanggil nya.
"Apa kamu merasakan sensasi nya?" Tanya tajudin menghentikan aksinya dan menangkup pipi alika dengan lembut setelah melepaskan aksinya sesaat.
Alika tidak menjawab pertanyaan tajudin hanya menunduk dengan nafas yang memburu lalu melepaskan tangan tajudin dari wajahnya kemudian duduk ditepi ranjang dan mengusap wajahnya kasar. Tajudin yang melihat ekspresi alika hanya tersenyum simpul karena alika mulai gelisah tak karuan. Tajudin kembali menghampiri alika dan memeluk bahunya untuk menguatkan. Tajudin memegang dagu alika dan menghadapkan nya ke wajah tajudin. Alika hanya terdiam menatap netra suaminya bergantian. Alika tidak tahu dirinya merasakan sesuatu yang baru dia rasakan selama ini. Tajudin kembali memagutkan bibirnya pada alika dan ********** tanpa henti. Alika yang merasakan sensasi yang tidak biasa itu membuatnya semakin gusar. Tajudin melepaskan pagutan nya karena alika sudah mulai kesulitan bernafas. Tajudin menundukan wajahnya dan kembali mencium leher alika memainkan lidahnya dan membaringkan tubuh alika secara bersamaan. Tangan tajudin semakin nakal menggerayangi dada alika yang tidak terlalu besar namun padat berisi. Tajudin mulai membuka baju alika sambil terus menjilat leher alika hingga memberi tanda merah dilehernya. Alika melenguh semakin gelisah karena ulah suaminya. Tajudin semakin ganas diatas tubuh alika dan mulai membuka baju alika dari bawah keatas namun tangan tajudin langsung dihentikan oleh alika.
"Kakak mau apa?" Tanya alika menahan tangan tajudin yang akan membuka bajunya.
"Aku mohon jangan hentikan!" Ucap tajudin menatap sendu wajah alika.
"Tapi..!" Ucapan alika terhenti karena tajudin kembali ******* bibir alika.
"Emph.." Lenguh alika tak bisa berkata lagi.
Tajudin kembali melakukan aksinya membuka baju alika. Kini tajudin sangat takjub melihat tubuh alika yang putih mulus dengan dada yang padat berisi meski tidak terlalu besar. Tajudin kembali membuka pakaian dalam alika dibagian atas dan setelah terlepas tajudin kembali semakin ganas dengan menenggelamkan wajah nya di dada alika. Alika menjadi semakin gelisah saat tajudin menghisap gunung kembar miliknya.
"Akhh kak..! Jangan..Akhh..!" Lenguh alika gelisah merasakan sensasi yang luar biasa didalam tubuhnya.
Tajudin mendengar suara lenguhan alika semakin semangat untuk melakukan nya. Tajudin kembali menurunkan kepalanya menuju perut alika hingga celana alika ditarik sampai terlepas dari tubuh alika. Alika yang merasa tidak ada sehelai benang ditubuh nya langsung bangkit dan duduk menutupi bagian dada dan bawahnya merasa malu dilihat oleh pria yang ada dihadapan nya saat ini.
"Kak! Jangan seperti ini. Aku mohon!" Ujar alika yang mulai takut dan panik melihat tajudin yang sudah seperti buaya kelaparan.
"Tidak apa-apa alika! Aku janji akan melakukan nya perlahan agar kamu tidak kesakitan.
__ADS_1
"Yang tenang yaa? Jangan terlalu tegang! Santai saja!" Sahut tajudin membuat alika tenang agar tidak kembali panik.
Tajudin kembali melakukan aksinya dengan membuka paha alika perlahan dan menenggelamkan wajahnya dilembah milik alika. Alika yang baru pertama kali merasakan nya melenguh dengan kerasnya. Rasa yang tak biasa dengan rasa ngilu, geli dan nikmat membuatnya gusar dengan kaki yang menekan kasur sangat kuat.
"Aakhh kak! Sakit! Aakh!" Lenguh alika yang tak sanggup merasakan nikmatnya saat ini.
Setelah selesai mengguncang milik alika dengan lidahnya kini pedang milik tajudin sudah berdiri tegak dan ingin memasukan nya pada benda milik alika. Namun begitu terkejutnya alika setelah melihat pedang milik tajudin yang sudah saatnya menusuk dilembah milik alika.
"Aaaa..!" Teriak alika saat melihat milik tajudin akan masuk ke dalam lembah itu.
Tajudin yang terkejut mendengar teriakan alika langsung menutup mulut alika dengan telapak tangan nya. Tajudin panik takut penghuni yang di dalam rumahnya akan mendengar teriakan alika.
"Alika! Jangan teriak!" Bisik tajudin dihadapan alika yang berada diatasnya.
"Tapi alika! Ini sudah hampir selesai!" Ujar tajudin membohongi agar alika tidak kembali menolaknya.
"Hiks..hiks..! Aku mohon jangan lakukan itu kak! Aku takut!" Sahut alika menggelengkan kepalanya dengan isak tangisnya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan nya karena masih melihat pedang milik tajudin masih berdiri tegak.
"Alika! Rasanya sakit hanya sekali saja dan hanya sesaat. Setelah itu rasa sakitnya akan hilang berganti dengan rasa nikmat." Ucap tajudin terus merayu agar alika kembali mau melakukan nya.
"Jangan! Aku mohon jangan teruskan! Aku takut!" Sahut alika menggelengkan kepalanya dengan ekspresi ketakutan diatas rata-rata.
"Baiklah! Aku tidak akan melakukan nya lagi!" Ujar tajudin dengan wajah kecewa dan bergegas keluar kamar menuju kamar mandi dan akan melakukan nya sendiri tanpa dilihat oleh alika.
__ADS_1
Alika kembali memakai bajunya yang sudah terbang kemana-mana dan membaringkan tubuhnya dikasur membelakangi tajudin. Dia menutupi semua tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya bergetar menahan takut ditambah air matanya yang terus mengalir tak bisa berhenti membuat pikiran nya semakin traveling mengingat kejadian tadi dengan suaminya.
"Apa benar rasanya sangat nikmat setelah rasa sakit yang akan aku rasakan?" Gumam alika dalam hati dengan tatapan tajam pada satu tempat di sudut kamar nya. "Jika memang rasanya nikmat kenapa harus ada rasa sakitnya?" gumam alika menanyakan nya pada diri sendiri.
Pikiran alika terus melayang kemana-mana memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika memang tadi akan berhasil. Tajudin yang sudah kembali ke kamarnya menghampiri alika yang masih dengan tangisan nya.
"Maafkan aku! Jangan pernah takut dengan kejadian malam ini. Aku ingin besok kita akan mencoba nya lagi sampai rasa takutmu hilang!" Ujar tajudin lembut dengan senyum simpulnya kemudian mengecup puncuk kepala alika dengan mesranya.
Alika hanya menatap tajudin tanpa menjawab ucapan nya. Tajudin akhirnya menaiki kasur dengan berbaring disebelah alika dengan posisi terlentang. Alika masih tetap berada pada posisinya membelakangi tajudin dan tak menghiraukan suaminya. Tak berselang lama alika terlelap dengan sendirinya disaat pikiran nya yang masih melayang. Mereka berdua terlelap setelah berkutat dengan kegiatan panas nya malam ini. Tajudin yang sudah terasa lemas karena sudah melakukan nya sendiri dikamar mandi. Sedangkan alika lemas karena rasa takutnya masih terlalu besar hingga membuat jantungnya terguncang hebat sampai tubuhnya menjadi lemas setelahnya.
***
Tak terasa kini hari sudah berganti pagi. Matahari telah memancarkan cahaya indahnya. Alika masih terlelap dengan tidurnya begitu juga dengan tajudin. Mereka berdua seakan asik dengan mimpinya yang masih setia berada di dalam matanya. Jam sudah menunjukan jam delapan pagi. Tajudin belum juga bangun dari tidurnya karena semalam mereka menghabiskan waktu panjang hingga dini hari tapi tak berhasil menjebol gawang. Tak berselang lama pintu kamar tajudin ada yang mengetuknya hingga membuat dirinya terbangun.
"Iyaa iyaa! Tunggu sebentar!" Ucap tajudin menuruni ranjang nya dan melangkah membuka pintu kamarnya.
"Bangun! Sudah siang! Tidur jam berapa kamu semalam? Sampai jam segini belum juga bangun!" Pekik dariyah sang ibu melihat anaknya masih tidur di jam delapan pagi.
"Sssttt! Jangan teriak-teriak bu. Nanti alika bangun! Sahut tajudin sembari menutup pintunya dengan ekspresi panik karena takut istrinya akan terbangun.
...****************...
BERSAMBUNG
__ADS_1