
Lara terlihat cemas, dengan nafas yang terengah-engah. dia mencoba untuk berbicara.
"Gue sempet nguping pembicaraan papi, nanti malam gadis baru itu akan dijual dengan harga yang sangat fantastis. bahkan dia harus melayani tiga laki-laki sekaligus." ucap Lara yang juga merupakan sahabat baik Sari.
"Apa.?" kasihan sekali Naura, kita harus membantunya.!" Sari terlihat mulai kwartir.
"Aku takut Sari, kamu tahu sendirikan, jika mereka semua berbahaya dan kejam.!" ucap Lara memelankan nada suara. takut ada yang mendengar percakapan mereka.
"Lara kamu jaga situasi, aku ingin mendekati laki-laki yang tadi. aku merasa dia bisa membantu Naura."
"Baiklah, kamu hati-hati jangan sampai kita ketahuan." ucap Lara.
Namun Sari tidak melihat lagi sosok Dion, yang duduk diruangan tersebut. Sari mengedarkan pandangannya ke sekeliling Club malam yang penuh hiruk-pikuk Suara musik dan aroma minuman. yang menyeruak penciuman dan memekakkan telinga.
"Mana laki-laki itu.?" gumam Sari. kembali menemui Lara.
"Laki-laki yang aku kira bisa membantu, ternyata sudah menghilang kembali." wajah putus asa terpancar dari wajah Sari.
"Huss...Papi datang, sepertinya berjalan kearah kita." bisik Lara.
"Hey kalian berdua, tolong dandani gadis baru itu secantik dan sebaik mungkin. karena malam ini dia akan mendatangkan keuntungan yang besar buat kemajuan Club malam kita kedepannya." pancaran wajah bahagia terpancar dari wajah laki-laki bertubuh besar dengan muka sangar itu.
"Baik Pi." jawab mereka serempak.
"Bagus, cepat laksanakan sebelum tamu kita itu datang kesini.!"
Ciuman panas mendarat di kedua pipi Lara dan Sari, sebelum laki-laki yang mereka panggil papi itu berlalu dari hadapan mereka berdua.
"Ayo Lara, nanti kita akan pikiran jalan keluarnya.!" ajak Sari menarik tangan Lara menuju kamar Naura.
__ADS_1
Ceklek.....,, pintu terbuka
Naura terperanjat kaget, gadis cantik itu langsung bersembunyi dibalik selimut, sambil menggigil ketakutan.
"Jangan dekati aku." ucap Naura dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Naura ini aku Sari dan Lara." ucap mereka serempak
Naura perlahan membuka selimut tersebut,
"Naura, malam ini kami harus mendadanimu dengan pakaian ini. karena malam ini kamu harus melaksanakan tugas pertamu disini." Sari mengeluarkan bungkusan pakaian yang sangat terbuka.
"Apa,?? tidak....tidak...aku tidak mau melakukan hal terkutuk itu lagi, sudah cukup aku menjadi korban kedua orang tuaku, yang menyuruhku menyerahkan sesuatu yang sangat berharga pada laki-laki yang salah." Naura menangis
"Kita tidak punya cara lain, pikiran kami buntu mencari jalan keluar untuk membantu mu. karena kami dulu juga mengalami hal yang sama dengan mu, sekarang kami sudah terbiasa dan tidak terbebani lagi oleh pekerjaan kami itu" ucap Lara
"Aku tidak tega melihat Naura, apa sebaiknya kita membujuk papi, agar menunda dulu, biar kita berdua yang mengantikan posisi Naura.," ucap Sari
"Aku setuju, tapi apa Papi akan setuju begitu saja. mengingat mereka telah membayar mahal tubuh Naura." Lara mulai ragu.
"Aku punya ide, begini saja. kita buat alasan dengan mengatakan jika Naura sedang datang tamu bulanan.!" Sari terlihat antusias dengan ide nya.
"Tapi takutnya mereka akan memeriksanya secara langsung.!"
"Kita akan bermain cantik, aku yakin dengan cairan ini mereka akan percaya."
Sari mengambil sebuah pembalut wanita, dan menuangkan cairan tersebut. sehingga berbentuk dan sama persis dengan darah datang bulan. dan memberikan pada Naura.
"Pakailah ini Naura.!"
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi, Naura memakainya. Sari pun langsung menyembunyikan bekas sisa cairan tersebut, saat mendengar pintu kamar terbuka lebar.
Sari berjalan kearah pintu, lalu membukanya. nampak empat orang laki-laki bertubuh besar. salah satu diantaranya adalah Papi. yang sedang memainkan kumis tebalnya.
"Kenapa gadis itu masih belum menganti pakaian nya.?" Papi meninggikan suaranya, membuat Sari dan Lara terlonjak kaget.
"Pi maaf, gadis itu sedang datang bulan. kami berdua telah memeriksa nya." ucap Sari sambil ketakutan.
"Apa.??"
"Plakcc.... pukulan singgah dikedua pipi gadis malang itu.
"Ampun Pi, kami tidak berbohong...hu...hu..."
"Rey, kamu tidak boleh kasar pada kedua wanita cantik ini. kami tidak masalah jika digantikan oleh mereka. namun saat gadis baru dan cantik itu telah selesai dari masalah nya. kami tidak akan membayarmu lagi untuk pemangsanya nanti." ucap salah seorang dari mereka.
Papi tertawa senang, karena tamunya tidak marah dan menuntut ganti rugi.
"Baiklah aku sangat setuju, kalian bersenang-senang lah"
"Untuk kalian berdua layani tamu kita dengan baik." perintah Rey pada Sari dan Lara.
"Baik Pi." jawab mereka patuh.
"Silahkan anda mau dikamar yang mana.?"
"Tidak kami hanya mau dikamar ini, agar gadis batu itu bisa melihat dan bagaimana cara memuaskan kami bertiga. agar dia nanti nya sudah mengerti dan pandai. karena aku merasa jika gadis itu masih polos."
"Ha...ha...tentu boleh," Rey meninggalkan kamar tersebut sambil terus terbawa lepas.
__ADS_1