
"Dion sayang, maafkan Mama nak." ucap Mama begitu masuk keruangan tempat Naura yang terbaring lemah. hatinya hancur melihat penampilan Dion yang udah tidak terurus lagi. bahkan wajah tampan Dion sekarang sudah semakin banyak ditumbuhi bulu-bulu halus yang mulai memanjang.
"Mama," ucap Dion melirik kearah kedua orang tuanya yang semakin mendekat.
"Iya nak ini namamu yang dulu pernah membuat mu hancur nak, Mama benar-benar menyesal. melihatmu seperti ini hati Mama hancur." Mama mengusap rambut Dion. tubuh putranya yang dulu gagah berisi sekarang sudah semakin mengurus, dan selalu berada didamping istrinya.
"Naura ma, kenapa istri Dion tidak bangun-bangun," mengusap air matanya.
" Sabarlah nak, kita harus selalu berdoa demi kesembuhan nya." ucap Mama mendekati Naura.
"Naura, maafkan Mama nak. sembuh lah sayang lihat lah anakmu sangat tampan. dia begitu membutuhkan mu saat ini nak." Mama mencium sayang kening Naura.
Dalam tidur nya, Naura mengetahui dan mendengar semuanya. namun dia tidak mampu untuk membuka matanya yang terdapat begitu berat. bahkan untuk sekedar menggerakkan tangannya saja Naura tidak mampu.
Gilang masuk dan memberi kode Dion untuk mengikuti nya keruang dokter. setelah mendengar pendapat dari dokter dan Gilang. akhirnya Dion menyetujui untuk terbang keluar negeri agar Naura bisa mendapatkan pengobatan dan perawatan terbaik disana.
__ADS_1
"Baiklah aku setuju, kapan kami bisa berangkat." ucap Dion.
"Lusa, sekarang persiapkan lah segala sesuatu nya, apa yang akan kamu bawa, sekalian pamit para anakmu." ucap Gilang.
"Bos sekali lagi terimakasih banyak, karena bos begitu baik dan perhatian terhadap keluarga ku." Dion mersa terharu.
"Dion, bagiku kamu bukanlah orang lain lagi. kita sudah seperti saudara selama ini. jadi jangan pernah sungkan terhadap ku." mereka berpelukan.
Malam ini Dion sudah mempersiapkan sedikit pakaian nya dan Naura, setelah itu dia mengayunkan langkah menuju kamar anaknya.
Sari ikut terharu, melihat kasih sayang Dion terhadap Naura dan anaknya. tanpa sadar dia mengusap air mata yang menetes dikedua pipinya.
"Sari besok aku harus pergi keluar negeri, dan akan kembali jika Naura sudah benar-benar sembuh. aku titip anak kami ya, karena cuma kamu yang kami percaya dan yakin jika mampu menjaganya dengan penuh kasih sayang." ucap Dion.
"Tentu mas, aku akan menjaga amanah mu ini." menidurkan kan kembali bayi itu dalam bik bayi.
__ADS_1
Mama masuk kedalam kamar bayi,
"Dion, selepas kepergian mu bersama Naura nanti. Mama berencana ingin mengajak sari dan anak mu untuk tinggal dirumah kita. karena disana banyak pelayan yang akan membantu Sari. termasuk Mama dan papaku ini." terang Mama.
"Dion setuju sekali ma,"
"Sari bagaimana dengan mu, apa kamu bersedia untuk tinggal bersama Mama?" tanya Dion menatap wajah sari untuk melihat kepastian dari wajahnya.
"Sari setuju mas," sambil menunduk karena dia takut melihat tatapan mata elang Dion yang mampu menembus perasaan terdalam nya.
"Sari, kami tidak akan pernah melupakan kebaikan mu ini." ucap Dion.
"Mas Dion, sari ikhlas membantu dan selalu berharap agar kak Naura kembali sembuh." balas Sari.
Malam itu, Dion sengaja menghabiskan waktu tidur bersama bayi mungilnya, sementara Mama dan sari mengganti kan Dion untuk menjaga Naura dirumah sakit.
__ADS_1