Naura, Cintaku Yang Hilang

Naura, Cintaku Yang Hilang
Bertemu dengan Lisa


__ADS_3

Lisa mengalihkan perhatiannya pada jendela kaca mobil,


"Apa sih maunya Presdir ini, apa dia ngak salah memberikan hukuman dengan mengajak tinggal bareng dan menjadi asisten kedua nya, setelah pria dingin yang sedang menyetir mobil ini. tidak mungkin kalau dia memilihku untuk menjadi wanita peliharaan nya, mengingat wajahnya yang tampan seperti ini. dan semua wanita dikantor berlomba merebut perhatian nya itu, akan memilihku yang hanya mempunyai wajah jauh dibawah rata-rata dan juga tidak menarik sama sekali.


Aku tidak memiliki pakaian bagus, cuma tas Selempang dan baju lusuh ini. atau jangan-jangan dia ingin menjadikan aku babu dikantor dan dirumahnya nanti."


Lisa menerka-nerka sendiri, Frans tersenyum melihat karena dia sudah dapat menduga apa yang tengah dipikirkan Lisa saat ini.


"Tuan tau tempat tinggal ku.?" ucap Lisa heran, saat mobil mewah itu telah berhenti dikontrak nya yang kecil.


"Itu hal mudah bagi ku, cepat kemari barang-barang mu yang penting' saja, untuk pakaian dan lainnya tinggal kan saja disini." pentitah Frans cuek.


"Tidak bisa Tuan aku hanya punya beberapa potong pakaian, jika aku tinggal terus aku mau pakai apa.?" ucap Lisa kesal.

__ADS_1


Meskipun sudah dilarang Frans, Lisa tetap membawa barang-barang nya yang sempat dia bawa kekota ini. termasuk selembar foto Frans. dan kembali masuk dan duduk manis sambil memeluk tas berisi barang-barang nya.


"Cepat jalan Dika."


Mobil kembali melaju kencang, menuju rumah besar yang baru saja dibelinya oleh Frans, dengan hasil gajinya sebagai Presdir. meskipun Berliana menyerahkan sepenuhnya pada Frans, namun pria itu tidak pernah semena-mena mengunakan uang Berliana. dia tidak mau tinggal di apartemen pemberian Berliana lagi. dengan alasan lebih menyukai tinggal dirumah yang mempunyai pekarangan yang luas.


"Wah bagusnya." ucap Lisa tanpa sadar menatap takjub rumah mewah itu, saat mobil yang membawanya baru saja memasuki gerbang utama.


"Kuharap betah tinggal disini." bisik Frans


"Sekarang kamu bebas memilih kamar yang kamu sukai." ucap Frans.


"Apa, aku bebas memilih." Lisa terlihat senang, namun juga ragu melihat kebaikan Frans.

__ADS_1


"Apa dia tidak memiliki maksud lain.?" Lisa mencoba menerka-nerka.


"Kamu tidak perlu cemas, dirumah ini ada dua orang pelayan. Bi Ijah dan mbak Tini. kamu bisa meminta pertolongan mereka jika butuh sesuatu." terang Frans.


"Jadi saya disini bukan bekerja sebagai Babu untuk Tuan." tanya Lisa polos membuat Dika tertawa lepas, karena tidak bisa menahannya lagi melihat tingkah polos Lisa.


Tawanya langsung terhenti ketika mendapat plototan tajam dari Frans.


"Gadis kecil, sebaiknya kamu jangan banyak tanya, ikuti saja perintahu. karena biasanya orang yang banyak tanya itu lebih cepat matinya dari pada orang pendiam."


Ucapan Frans itu, sangat ampuh untuk mengunci mulut Lisa. segera gadis itu menentukan kamar yang akan ditempati nya. yaitu lantai dua, kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar tidur Frans. karena Lisa sangat menyukai dan bisa memandang hamparan luas melalui jendela kaca. yang tinggi.


"Pilihan yang tepat" sela Dika

__ADS_1


"Kamu silahkan pulang Dika, karena aku tidak memerlukan mu lagi." Frans tidak suka melihat tatapan Dika dan ikut campur nya, dia tidak ingin Dika keceplosan tentang jati diri Frans yang sesungguhnya. karena dia berharap Lisa akan tahu sendiri.


__ADS_2