
Malam itu Naura masih melilit tubuhnya dengan selimut tebal, duah buah guling digunakan Naura sebagai pembatas buat mereka tidur, Dion tidak mempermasalahkan semua itu. dia memaklumi perasaan Naura sekarang.
Dion tidak bisa memejamkan mata, kegelisahan ingin menyentuh sang istri membuat nya membalikkan badan kesamping. sambil menatap punggung yang tidur membelakangi itu. mungkin karena efek kelelahan. Dion akut tertidur dengan pulas. begitupun dengan Naura.
Paginya, Naura terbangun. dia mengusap-usap perutnya dengan perlahan karena rasa lapar yang teramat sangat. dia melirik Dion yang mas tertidur pulas. Dengan sebelah yang diperut Naura. segera dia menyingkirkan tangan Dion, dengan hati - hati takut Dion akan terbangun.
"Kamu laparnya nak? sabar ya, ibu akan cari makanan untuk mu."
Naura bangkit menuju wastafel dan membersihkan wajahnya, serta mengoles dengan beda tipis membuat kecantikan Natural nya benar-benar terlihat nyata. Naura berjalan menuju pintu, dengan perasaan was-was dan bingung memikirkan akan bertemu ibu mertua yang tidak menyukainya.
"Ooo, ternyata Tuan Putri kita sudah bangun.!" sapa Mama Dion, saat melihat Naura melangkah turun menuju dapur.
"Selamat pagi ma," sapa Naura pelan
Mama tidak menggubris sapaan Naura,
"Kamu mau ngapain berjalan ke dapur.?"
"Naura mau...., bantu masak dulu." Naura tidak berani mengatakan jika dia sedang lapar, dan ingin membuat susu hamil dan roti.
"Bagus sekali, cepat ikuti aku" melangkah mendahului Naura.
__ADS_1
Naura memperhatikan letak dapur yang terlihat rapi dan bersih, seorang asisten rumah tangga sedang sibuk membuat sarapan.
"Ani, kamu boleh istrhat. biar semua pekerjaanmu hari ini digantikan oleh wanita ini." menujpnjuk wajah Naura.
"Benar Bu, asyik" Ani terlonjak senang meninggalkan Naura.
"Awas saja, jika masalahmu tidak sesuai selera kami." ikut pergi meninggalkan dapur.
Naura yang selama ini terbiasa dimanja oleh Hendro, dan segala sesuatu keperluannya diurus pelayan. mulai kebingungan harus menyiapkan apa.
Naura memperhatikan, hanya Bawang yang baru dipotong oleh Ani. sambil berjalan mondar-mandir Naura melihat beberapa buah mie instan.
Naura mulai memasak, dengan menumis bawang yang sempat diris Ani itu, meskipun sempat beberapa kali kena percikan minyak. namun Naura tidak menyerah.
"Apapun terjadi, saat ini aku harus bertahan disini demi anak yang aku kandung." kembali mengelus-elus perutnya.
Dikamar, Dion terbangun sambil meraba disebelahnya. " kosong, kemana Naura.?" Dion segera bangun dan mencari Naura.
Dari lantai dua, dia memperhatikan Naura menyiapkan sarapan dimeja makan. perlahan Dion mengayunkan langkah kaki menuju Naura.
"Naura, kenapa kamu yang mengerjakan semua ini sendiri, mana Ani.? ucap Dion terlihat heran, mendekati Naura dan mengelap keringatnya dengan lembut mengunakan tissue yang terdapat di atas meja.
__ADS_1
Naura tercekat mendapat perhatian mendadak dari laki-laki yang belum lama menjabat sebagai suaminya itu, perlahan Naura mundur. mengingat posisi mereka yang begitu dekat dan saling berhadapan.
"Kamu berlebihan sekali Dion, sudah sewajarnya dia memasak untuk kita semua. tidak manja seperti kehidupan nya selama ini." ucap Mama yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Bukan manja ma, tapi Naura belum terbiasa dengan semua ini. lagian saat ini kondisi Naura tengah hamil." Dion menatap kesal Mama.
"Naura, kamu duduk dulu. biar Ani yang melanjutkan semua pekerjaan ini." Dion memangil Ani, tidak lama Ani datang dengan tergesa-gesa.
"Ani mulai sekarang, aku perintahkan jangan pernah berikan tugasmu pada Naura lagi. sekarang kamu lanjutkan pekerjaan nya, terlebih dahulu buatkan Naura susu hamil."
"Baik Tuan." berjalan cepat menuju dapur, sambil bibir nya di monyong kan kesal. karena semula Ani, merasa senang terbebas dari pekerjaannya.
"Makanan apa ini." teriak Mama saat menyadari menu makanan yang disajikan oleh Naura.
"Ma.... maaf mas, Naura hanya bisa masak ini." Naura menundukkan kepalanya.
"Mama apaan sih, makanya jangan suruh Naura." bentak papa semula hanya tutup mulut.
"Naura, minum susumu dan roti ini, untuk sarapan pagi ini. aku tidak mau kamu makan mie instan. karena tidak baik untuk kehamilan mu." bujuk Dion sambil menyodorkan segelas susu.
Naura meminum susunya, sementara yang lain memakan mie instan. meskipun mengomel tidak jelas, namun Mama tetap makan. karena mie masakan Naura memang enak dan menggugah selera, namun dia seakan gengsi mengakuinya.
__ADS_1