
"Baiklah, aku akan menerima Sari bekerja sebagai kepala divisi untuk anak cabang perusahaan Kita yang dibelanda, aku yakin dengan kemampuan Sari mengingat prestasi belajarnya yang sangat memuaskan." Ucap Gilang sambil membolak-balik cv dan data-data mengenai Sari.
"Terimakasih bos, atas segala." Ucap Dion yang dibls hanya anggukan kepala oleh Gilang.
Setelah menyelesaikan segala administrasi nya, siang ini Sri akan langsung diutus Gilang untuk bekerja di Belanda. dia juga memberikan Sari fasilitas untuk tinggal di apartemen milik istri nya Cantika, karena Apartemen itu sudah lama kosong semenjak dia Cantika menikah, dan madam Jane meninggal dunia, Gilang hanya memerintahkan pelayan untuk membersihkan apartemen itu sesekali saja.
Sari mengepak beberapa pakaian nya, meskipun berat baginya berpisah dengan Naura, Rasya dan terutama Dion. namun Naura membulatkan tekadnya mengingat inilah jalan terbaik baginya untuk saat ini.
"Dek, sesampainya di Belanda jangan pernah lupa untuk selalu menghubungi kakak ya." Ucap Naura.
"Tentu kak, karena hanya kakak lah satu-satunya saudara yang Sari miliki di dunia ini." Ucap Sari diiringi air matanya.
"Jang sedih, jika kakak ada waktu. sesekali kakak dan mas Dion akan mengunjungi mu fek." bujuk Naura.
__ADS_1
"Jangan kak." Ucap Sari spontan, mengingat dia ingin menyendiri dulu sampai benar-benar mampu melupakan Dion.
"Maksud mu Sari, kak Naura baru sembuh dan sibuk ngurus Rasya dan mas Dion. jadi biar Sari saja yang akan pulang jika sudah memiliki kesempatan nantinya." bujuk Sari.
Wajah Naura yang semula tegang, Akirnya tersenyum manis setelah mendengar penuturan Sari.
"Baiklah dek, kakak akan tunggu sampai kesempatan itu datang." tersenyum kearah Sari.
"Boy ku sayang, jangan rewel ya nak. . kasihan Bunda nantinya jika boy rewel. karena tidak ada Tante lagi yang bakal bantuin Bunda.." mencium Rasya dengan penuh kasih sayang.
"Kak Naura, Sari pergi dulu." menyalami Naura sambil mencium punggung tangannya.
"Ya dek, hati-hati disana ya. jaga diri dan kesehatan mu dan jangan lupa untuk selalu sholat." pesan Naura sambil memeluk sayang Sari.
__ADS_1
"Iya kak." me!balas pelukan Naura.
"Mas Dion, Sari pamit dulu." Ucap nya, berusaha untuk kuat menahan tangannya yang gemetar dan sangat dingin ketika ingin menyalami tangan Dion. bahkan rasanya Sari ingin pingsan begitu mencium punggung tangan itu.
"Aku sangat bahagia dan rasanya begitu indah dan sangat nyaman, meskipun hanya bisa sedikit menyentuh tangan dan menciumnya sekilas tangan mas Dion." gumam Sari sambil berjalan masuk dan melambaikan tangannya.
Naura terus melambaikan tangannya, sampai Sari menghilang dari pandangan mata. dia mengusap air matanya perlahan dan mengikuti langkah Dion yang menuntun nya penuh mesra menuju tempat mobil mereka terpakir.
"Ayo sayang kita pulang, kasihan Rasya ditinggal lama-lama." bujuk Dion
"Ya mas," balas Naura.
Dalam pesawat yang membawanya, Sari menumpahkan tangisnya dalam hati, sambil sesekali mengusap air matanya.
__ADS_1
"Kenapa, aku harus merasakan perasaan yang salah disaat aku mulai mencoba merasa kan jatuh cinta untuk yang pertama kali nya, aku mencintaimu mas Dion... laki-laki yang mungkin un aku miliki...Tuhan kirimkan aku seseorang laki-laki seperti mas Dion."