
"Bodoh.... bodoh kamu Lisa, dipikiran kamu selalu kak Frans. sehingga tidak bisa jalan dengan benar. aku pasrah jika hari ini aku harus dipecat. dan mulai kembali mencari kerja yang sangat susah." bathin Lisa merutuki kebodohannya telah menabrak seorang bos besar. namun Lisa hanya bisa melihat wajah sang Bos dengan sekilas, karena ketakutan mengingat kesalahan nya itu.
"Aku merasa wajah CEO itu sangat mirip dengan kak Frans, namun jika diperhatikan secara seksama mereka berbeda. hidung dan bibir nya mempunyai perbedaan. atau ini perasaanku saja, karena selalu teringat sama kak Frans. sehingga tidak bisa membedakan lagi antara seorang CEO pengusaha perusahaan besar dengan kak Frans yang hanya anak buruh biasa" Lisa perang bathin sendiri.
Lamunan Lisa buyar, suara lantang Jo yang terdengar tiba-tiba membuat nya kaget, dan menatap kesal kearah Jo.
"Apaan sih Jo, ngagetin aja." bibir Lisa manyun beberapa centi kedepannya
"Lisa kamu nampak tambah seksi jika seperti itu, rasanya pengen cium tuh bibir hingga monyong benaran." goda Jo
"Aku Masih kepikiran tentang kejadian barusan." terang Lisa
"Kejadian apa.?" Jo mendekati Lisa karena penasaran, dia juga berharap kejadian itu tidak tentang kedekatan Lisa dengan pria lain. karena Jo sangat berharap Lisa akan menjadi wanita pilihan hatinya. untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. pikir Jo setiap saat jika bertemu Lisa.
__ADS_1
"Tadi aku Secara tidak sengaja nabrak cowok." ucap Lisa menggebu, membuat Jo kaget, namun wajahnya seketika berubah pias. Jo mers cemburu dan tidak ingin Lisa dekat apalagi didekati oleh cowok lain.
"Kok kamu terlihat neh gitu Jo.?"
"Ngak papa kok. kamu lanjutkan saja cerita mu itu.!"
"Kamu tahu ngak orang yang aku tabrak itu.?"
"Ya ngak lah." teriak Jo cuek.
"Lisa ini kota besar, aku harap kamu bisa hati-hati dalam bergaul. karena bisa jadi kamu salah jalan. Dengan kedok wajah tampan seseorang." terang Jo tidak suka.
"Iya Jo aku ngerti maksud mu, tapi yang membuat ku resah. cowok yang aku maksud itu. Presdir perusahaan ini." Lisa kembali manyun membayangkan hasilnya. sambil bertumpu pada kedua belah tangannya.
__ADS_1
Begitu juga Jo, di ikutan syok mendengar penuturan Lisa. dia juga mersa khawatir jika lusa tiba-tiba dikeluarkan dari perusahaan Ini. dan mereka berpisah.
"Trus kita harus bagaimana lusa, apa kamu sudah minta maaf.?" ucap Jo.
"Sudah, tapi melalui asistennya. aku tidak berani menatap dan berbicara langsung."
"Mudah-mudahan saja, mereka tidak mempermasalahkan ini Lisa. sebaiknya kita kembali melanjutkan pekerjaan kita." ajak Jo.
"Tunggu dulu." suara Dika yang datang tiba-tiba, menghentikan langkah kedua nya. Lisa dan jo sama-sama menatap kearah Dika. Dengan tatapan ketakutan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi pada pekerjaan Lisa.
"Ada apa Tuan." jawab Jo.
"Aku ada perlu dengan Lisa, kamu boleh pergi." ucap Dika.
__ADS_1
Jo terlihat keberatan dan ingin membela Lisa, namun melihat tatapan Dika yang dingin. membuat Jo akirnya pergi. sambil terus berharap Lisa masih bisa bekerja diperusahaan itu. dan Bos Besar mau memaafkan kesalahan yang dilakukan secara tidak sengaja itu.
tok....tok...Lisa mengetuk pintu ruangannya Frans, dengan debaran jantung yang saling berpacu, antara penasaran, senang melihat wajah Bos yang sangat mirip dengan Frans. takut. jika hari ini nasip pekerjaan nya harus berakhir.