
Malamnya, saat semua anggota keluarga berkumpul diruangan utama rumah besar itu, Dion mengutarakan maksudnya yang ingin pindah rumah Berliana bersama Naura. membuat Mama menghentikan gerakannya tangan yang memegang secangkir teh hangat yang hendak diseruputnya, dan menaruh kembali diatas meja kecil dihadapannya.
"Pindah rumah bagaimana maksudmu Dion, rumah besar ini kita bangun juga sebagian besar dari uang penghasilan mu nak. jadi kamu berhak sepenuhnya atas rumah ini." papa mulai ikutan bicara. sementara Mama masih nyimak sambil mengarahkan pandangan tidak suka dan senyum sinis nya pada Naura.
"Kalau masalah itu papa tidak perlu khawatir, karena semua itu sudah kewajiban Dion memberikan tempat tinggal dan hunian yang nyaman buat mama dan papa. mungkin sekarang sudah waktunya Dion juga berusaha untuk istri dan calon anak kami." sebelah tangan Dion menggenggam tangan Naura yang tersa dingin.
"Mama yakin jika istrimu sudah menghasut, atau kamu menginginkan kami yang pergi dari rumah ini." ucap Mama menatap tajam Naura.
"Ti...tidak..ma, ini semua keinginan kami berdua yang ingin hidup mandiri." tiba-tiba Naura seperti mendapatkan keberanian.
"Mandiri katamu...cis...aku yakin, kamu hanya ingin menguasai Dion dan menghapusnya agar korupsi seperti orang tuamu yang serakah." sindir Mama.
"Cukup ma." terdengar suara Dion yang lantang.
"Dion semenjak kamu bertemu dengan wanita ini, kamu sudah berani menentang Mama mu...hu....hu..." Mama langsung menangis dengan air mata membanjiri kedua belah pipinya.
Tangisan Mama membuat rasa bersalah dihati Dion, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Dion untuk membujuk sang Mama. wanita pertama yang disayangi Dion setelah Naura.
__ADS_1
"Maafkan Dion ma, tapi Dion juga harus bertanggung jawab terhadap anak istri Dion. mungkin dengan hidup mandiri kami akan lebih mengerti satu sama lain, dalam membina keutuhan rumahtangga kami kedepannya. Dion harap Mama tidak marah dan menyalahkan Naura lagi. karena ini semua atas keinginan dan usulan Dion sendiri." ucap. Dion menatap penuh harap pada Mama.
Tidak bantahan lagi yang keluar dari mulut Mama, wanita itu Berlalu pergi menuju kamarnya.
"Papa mendukung penuh kepuasan mu, setelah mendengar alasan mu nak. mengenai sikap Mama kalian berdua tidak perlu khawatir dan cemas, papa yakin seiring berjalannya waktu Mama akan luluh dengan sendirinya, dan menerima Naura dengan hati yang lapang." papa mencoba mengambil keputusan yang bijak.
"Terimakasih atas dukungan nya pa." Dion terlihat kembali bersemangat mendapatkan restu dan dukungan dari papa.
"Kapan rencananya kalian akan pindah ?"
Besoknya, Dion dan Naura mulai sibuk berkemas tidak banyak yang mereka bawa. beberapa pakaian dan peralatan penting Dion. setelah itu mereka pamit menuju rumah baru mereka. meskipun Mama mengabaikan kepergian Dion, mereka tetap melangkah mantap.
Naura menatap takjub rumah sederhana, dengan taman serta kolam kecil disudut halamannya yang tidak terlalu luas itu, namun tersa begitu nyaman dan asri. rumah itu terlihat bersih dan sangat rapi. sehingga Naura menatap rmah itu sedikit bingung, Kate seperti berpenghuni. namun dia masih memendam rasa penasarannya, dan mengikuti langkah kaki Dion yang menuntunnya hati-hati.
"Naura, dirumah ini kamu akan ditemani oleh seorang pelayan wanita, nama nya Bi Darmi. dia akan membantu segala kebutuhan mu." ucap Dion ketika melihat rasa penasaran istrinya itu.
Tidak terlalu lama, seorang wanita paruh baya keluar dari dapur berjalan kearah mereka.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan, Nyonya. maaf bibi tidak menyadari kedatangan Tuan dan Nyonya, karena asyik didapur menyiapkan makanan. karena bibi baru juga sampai dari pasar." terang Bi Darmi.
"Tidak masalah Bi, akumalh senang karena bibi telah menyiapkan segala untuk istriku Naura."
"Nama Nyonya bagus sekali, prsis kayak orangnya cantik dan ayu." puji Bi Darmi.
"Bibi bisa aja." ucap Naura sungkan.
Mereka memasuki kamar tidur, Dion tidak ingin Naura kecapean habis perjalanan, sehingga dengan lembut dia membujuk Naura untuk istirahat diranjang. sementara Dion mulai sibuk menyusun pakaian mereka.
Dalam kondisi berbaring, Naura tidak bisa memejamkan matanya. dan memperhatikan Dion yang tengah sibuk menyusun pakaian nya. termasuk pakaian dalam Naura yang sudah pada membesar ukuran nya dari biasa.
Muka Naura bersemu merah karena mersa malu, namun dia tidak bisa berbuat lebih untuk membantu suaminya itu, selain memilih diam dan menahan rasa malunya.
"Naura, tidak dapat aku pungkiri jika kamu bertambah cantik dan seksi sekarang, dengan perut dan tubuh yang sudah sangat berisi. rasanya aku ingin sekali melihat tubuh indahnya mengunakan dalaman ini." bathin Dion mengulum senyum menyusun pakaian dalam Naura kerak khusus.
Setelah selesai Dion menutup lemari dan membalikkan badannya, menatap Naura yang langsung menutup mata dan pura-pura tidur, ketika mengetahui Dion yang akan berjalan mendekatinya. Dengan senyum manis dan terlihat sangat bergairah menatap tubuh Naura yang terlentang.
__ADS_1