
Restoran Dion Semakin hari menunjukkan peningkatan, meskipun tidak begitu dikenal banyak orang. namun Dion yakin dan optimis jika suatu saat restoran nya akan sukses dan ramai pengunjung.
Seperti biasanya pagi-pagi sekali Dion sudah bersiap Menuju restoran nya, diliriknya Naura yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuknya. Meskipun mereka memiliki seorang pelayan dirumah sederhana itu untuk membantu Naura mengerjakan pekerjaan rumah, tapi Naura tidak pernah mau berpangku tangan. untuk sarapan dan kebutuhan Dion Naura lebih senang mengurus nya sendiri.
"Muuuacch, muuuacch pagi sayang," kecupan ringan dikedua pipi Naura, sebagai ucapan selamat pagi. yang sudah menjadi kebiasaan Dion agar dia lebih bersemangat dalam bekerja. Dion memeluk Naura dari belakang rasanya begitu indah yang selalu membuat nya merasa nyaman dan tenang jika menghirup aroma tubuh sang istri dengan wangi farfum khas buah-buahan favorit Naura yang bagaikan candu bagi Dion.
Dion membalikkan tubuh Naura, sehingga mereka saling berhadapan. sebelah tangan Dion merapikan anak rambut Naura.
"Sayang, kamu seperti memikirkan sesuatu.?" tanya Dion.
"Mas, aku boleh ketemu Sari nggak karena aku merindukan nya. setelah kejadian itu aku tidak pernah bertemu Sari lagi." ucap Naura.
"Boleh sekali sayang, atau gini aja. nanti mas hubungi Sari atau jemput dia, mas kawatir jika kamu berangkat sendirian kesana. takut nya kenapa-napa mengingat kondisi mu yang tengah hamil besar."
"Ngak papa, terserah mas Dion saja. yang penting Naura bisa ketemu Sari." ucap nya semangat.
Dion senang melihat sikap Naura yang menurut dan patuh, Naura tidak pernah sekalipun menolak atau membantah perkataannya. Dion mersa bersyukur sekali bisa mendapatkan Naura.
Setelah sarapan pagi, Dion langsung Menuju restoran. sebelum nya dia menghubungi pihak asrama Sari memberitahukan jika siang nanti dia Ingin bertemu dengan Sari.
__ADS_1
Setelah jam mata kuliah berakhir, Sari berjalan gontai Menuju asrama. pikiran gadis itu tertuju pada Naura, wanita yang sudah dianggap Sari sebagai kakak kandungnya sendiri.
"Sari tadi ada telpon untukmu dari laki-laki yang bernama Dion, siang ini dia akan menemui mu di lobby." ucap petugas asrama Putri memberitahukan.
"Mas Dion itu kan suaminya kak Naura, ada apa ya? jangan-jangan terjadi sesuatu pada kak Naura." Sari perang bathin dengan perasaannya sendiri. perasaan cemas tiba-tiba menghantuinya. Sari meletakkan buku-buku dimeja belajar nya. dan segera kembali berjalan cepat menuju lobby.
"Mas Dion," sapa Sari dari arah belakang.
Laki-laki berbadan tegap dengan wajah tampan itu segera menoleh kearah asal suara.
"Sari," sapa Dion tersenyum ramah.
"Tidak juga, sebenarnya mas datang kesini atas permintaan Naura. dia ingin sekali bertemu kamu." terang Dion.
"Sari juga sangat merindukan kak Naura, sebenarnya sudah lama Sari ingin menemuinya namun berhubung kemaren Sari sibuk dengan tugas akhir sehingga Sari menunda nya." ucap Sari sambil memainkan jemarinya, dia benar-benar grogi dengan mata elang Dion yang tajam.
"Apa sekarang kamu masih sibuk.?"
"Tidak mas, cuma menunggu wisudanya aja sekarang."
__ADS_1
"Baguslah, jadi hari ini kamu bisakan bertemu Naura.?"
"Bisa-bisa sekali mas." Sari terlihat antusias.
"Kalau begitu yuk sekarang kita berangkat." ajak Dion menuju mobilnya, Sari mengikuti langkah Dion dari belakang. gadis itu berjalan sambil menunduk. dengan Pikiran berkecamuk antara ingin menolak berangkat bareng Dion dan memilih naik taxi online, namun ada juga persaan tidak enak, takutnya nanti Dion tersinggung.
Sari tidak menyadari jika Dion berhenti hendak membuka pintu mobil, Sari yang mengikuti dari belakang langsung menabrak tubuh Dion. membuat Dion kaget, dan kembali menyeimbangi tubuhnya yang oleng kedepan.
"Maaf...maaf mas." tubuh Sari gemetar antara ketakutan dan grogi, secara tidak langsung dia telah bersentuhan bahkan hampir memeluk tubuh Dion dari belakang.
"Ngak papa Sari." ucap Dion dingin dan langsung masuk kedalam mobil, dia yakin jika Sari tidak sengaja melakukan hal itu. sepanjang perjalanan Sari dan Dion lebih memilih diam dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba Sari bersuara pelan dan terdengar ragu-ragu.
"Mas Dion, terimakasih karena berkat mas Dion dan Tuan Gilang. aku bisa melanjutkan pendidikan ku, dan ibu tiriku juga tidak mencari-cariku lagi." ucap Sari.
"Ya, ini juga salah satu permintaan Naura. dia sangat menyayangi mu layaknya adik sendiri."
"Ya mas."
__ADS_1