
Frans yang masih terbawa emosi, menarik kerah baju Dion.
"Tunggu aku di luar rumah sakit ini," Frans mengepalkan tinjunya berjalan keluar dari ruangan.
Dion menitipkan bayinya pada perawat, dan langsung mengikuti fran dari belakang, sementara Gilang langsung menutup panggilan telpon masuk begitu ! melihat gelagat yang tidak baik dari dua orang laki-laki itu.
"Dion tunggu," teriak Gilang, namun dia tidak menghiraukan teriakan Gilang tersebut.
Frans berdiri dibelakang taman rumah sakit, tempat yang sepi karena posisi nya dibagian belakang, dia berkacak pinggang sambil menunggu kedatangan Dion.
Dion mengepalkan tangannya emosi, begitu sampai dibelakang Frans.
"Siapa kamu sebenarnya?" ucap Dion.
"Ha....ha...kamu bertanya aku siapa, lihat aku. aku adalah Frans laki-laki yang dicintai Naura sampai detik ini." ucap Frans emosi.
__ADS_1
"Tapi dia istriku, ibu dari anakku. jadi kamu tidak berhak mengambilnya begitu saja dari ku." ucap Dion.
"Aku tidak mengambilnya, tapi menolongnya. tolong cerna kata-kataku baik-baik menolongnya...., tapi aku bisa saja merebut mereka Setelah mengetahui bagaimana caramu memperlakukan wanita yang sangat berharga bagiku." ucap Frans.
"Aku mencintai Naura, dan tidak akan pernah memberikan padamu." baku hantam terjadi antra Dion dan Frans, kedua sama-sama terbawa emosi. sehingga tidak peduli kondisi dan situasi lagi.
"Brugghhh,, plakcc," tinju dan hantaman kersa sama-sama melukai wajah mereka Masing-masing.
"Tolong hentikan, dan kendalikan emosi kalian," tetiak Gilang, sambil membawa dua orang petugas keamanan rumah sakit untuk membantunya memisahkan tubuh fran dan Dion.
"Dan kamu Tuan Frans, seorang CEO Perusahaan besar. saya tidak menyangka dibalik wibawa dan rendah hati mu itu, ternyata kamu laki-laki yang tidak bisa berfikir secara jernih." ucap Gilang.
"Apa kamu mengenali ku," ucap Frans.
"Ya, aku mengenalmu lebih dari yang kamu pikiran, termasuk Mada lalumu dengan Naura." ucap Gilang.
__ADS_1
"Dion kamu juga salah, seharusnya kamu bisa bersikap tenang, karena Naura diselamatkan oleh Frans, singkirkan rasa cemburu mu itu. lebih baik kalian berdoa dan memikirkan keselamatan Naura yang masih kritis, bahkan dia koma sekarang" terang Gilang.
"Naura koma," ucap Dion dan Frans serempak.
Kedua langsung tertunduk lemas, dengan persaan takut dan sedih kehilangan wanita yang sangat dicintainya. Dion mengayunkan langkah gontai menuju ruangan istri nya dirawat. diikuti Gilang dari belakangnya.
Sementara Frans, mengusap kasar wajah nya, bayangan indah masa-masa pacaran mereka seakan-akan kembali bermain-main dipeluk matanya.
"Fran aku bahagia," tetiak Naura ketika mereka masih memakai pakaian abu-abu berboncengan bersepeda melewati perkebunan teh yang menghijau.
Rumah pohon yang sering mereka jadikan tempat kencan, merupakan saksi bisu saat pertama kali nya Frans mencium lembut bibir Naura. bahkan tempat itu juga menjadi saksi kesedihan Frans begitu tahu Naura telah menghilang meninggalkan nya.
"Naura, kenapa kisah cinta kita harus seperti ini. kenapa kamu meninggalkanku dan memilih menikahi laki-laki itu sayang, apa kamu sudah lupa akan janjimu sendiri untuk hidup dengan ku walaupun kamu tahu kondisi ku yang hanya seorang tukang ojek barang-barang pedagang di pasar tradisional."
Frans akirnya ikut bangkit, menyeret langkah kakinya menuju ruangan Naura, dia terduduk disebelah Gilang yang juga menunggui kondisi Naura, sementara Dion terduduk lemas dilantai.
__ADS_1