
Sampai di indoneia, jenazah Naura dalam dibawa pulang kerumahnya Dion untuk disholatkan dan kembali dibawa ke pemakaman keluarga Dion.
Banyak sekali pelayat yang mengantarkan Naura ke peristirahatan terakhir nya, Dion memeluk tubuh putra satu-satunya sambil terus menangis melihat orang-orang yang saling membantu memasukkan istrinya liang lahat, bibir Dion selalu beristighfar mencoba untuk ikhlas.
"Selamat jalan sayang, tunggu mas dan anak kita disurga. mas ikhlas dan semoga kamu tidak mersa sakit lagi sayang. mas akan selalu mencintaimu dan akan selalu untuk mu sayang." gumam Dion sambil terus menangis karena tidak mampu menahan rasa sedih dan kehilangannya.
Saat semua pelayat sudah pulang, tinggal Dion, Gilang dan kedua orang tua Naura dan Dion. sementara Sari sudah duluan pulang karena diboy sudah mulai rewel.
Mereka semua bergantian untuk membujuk mengajak Dion kembali pulang kerumahnya, mengingat hari juga sudah beranjak sore, namun Dion kembali bungkam tatapan matanya yang kosong terus tertuju pada foto Naura yang terpajang didamping batu nisannya.
" Dion sayang, ayo nak kita pulang dulu." bujuk Mama.
Karena tidak ada respon dari Dion mereka, akhirnya berinisiatif untuk memapah dengan sedikit memaksa Dion mengingat kondisi nya yang sudah sangat lemah karena Beberapa hati ini dia tidak makan apa-apa, sehingga Dion seperti tidak mempunyai tenaga lagi.
Tubuh Dion seketika ambruk, saat mereka mencoba membantu nya untuk berdiri.
Dalam bawah sadarnya Dion mersa sedang berada dalam pangkuan dan pelukan hangat sang istri tercintanya Naura. hingga Dion tertidur lama saat dia mulai kembali membuka matanya, doa melirik ke sekeliling nya serba putih.
"Dimana aku, apakah aku sudah menyusul istriku tercinta., Naura....Naura...kamu dimana sayang." teriak Dion
Mama langsung panik begitu terbangun fisofa rumah sakit.
"Syukurlah Dion sudah sadar," gumam Mama keluar menuju ruang dokter. tidak lama mereka kembali dan memeriksa Dion yang masih setengah sadar.
__ADS_1
Setelah melihat Mama dan dokter, barulah Dion sadar jika dia sedang berada dirumah sakit, bukan disurga. raut wajah kecewa nampak di wajah tampannya itu. perlahan Dion menghafal lirik lagu, membiarkan sapaan mama dan ucapan dokter yang memperbaiki selang infus Dion yang terlepas.
Dua orang perawat saling berbisik Melihat Dion.
"Kasihan sekali dia, sangat tampan tapi dia seperti sedang mengalami depresi berat, setelah kepergian istrinya. "
"Mungkin istrinya sangat cantik, sehingga dia begitu mencintai nya," bisik perawat satunya lagi.
"Seandainya dia mau sama aku, aku siap menjadi perawatnya seumur hidup," Ucap mereka bisik-bisik dan tersenyum mengagumi ketampanannya.
Tak per terpikir oleh ku
Tak sedikit pun ku bayangkan
Begitsulit ku bayangkan
Begitu sakit kurasakan
Kau pergi tinggalkang kusendiri
Dibawah batu nisan kini
Kau telah sandarkan
__ADS_1
Kasih sayang kamu begitu dalam
Sungguh ku tak sanggup ini terjadi
karena ku sangat cinta
Inilah saat terakhir ku melihat kamu
Jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan
Selamat jalan kasih.....
Satu jam saja kubtelah bisa
Cinta kamu, kamu, kamu dihatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktu seumur hidup,,
Lirik lagu Dion membuat dari tidak mampu juga !emenfung air matanya, dia hari ini menemani Mama Dion untuk membantu menjaga Dion. sedangkan boy diaduh oleh Mama Naura dirumah.
__ADS_1
"Kasihan sekali kamu mas Dion, kak Naura sangat beruntung memiliki suami seperti dirimu." gumam Sari.