
" Mama.... papa.... "
Dalam bawah sadarnya Naura merasakan kehadiran kedua orang tua yang sangat dirindukan. namun kaki dan tanganya begitu susah untuk digerakkan, Naura hanya mampu merasakan sentuhan lembut tangan sang Mama yang membelainya penuh kasih sayang.
Naura juga air mata yang keluar dari sudut matanya, tanpa tangan kecilnya mampu untuk menghapus bahkan untuk digerakkan sekedar merespon ucapan Mama.
"Ya Allah, aku merasa bersyukur karena engkau masih memberikan aku kesempatan bertemu dengan kedua orang tua ku, dan juga memiliki suami yang sangat mencintai ku, aku bahagia menjalani hari-hari yang pernah aku lalui bersama mas Dion. meskipun aku belum bisa menjadi istri yang sempurna dan seutuhnya untuk dia.
Mas Dion, aku sangat mencintaimu mas. tapi aku tidak kuat lagi dan sanggup bertahan. tubuhku terasa begitu lemah dan sangat dingin. maafkan aku yang tidak bisa membesarkan dan merawat anak kita mas, aku titip buah cinta kita." Ucap Naura yang merasa kan tubuhnya semakin dingin dan ringan bagaikan kapas.
Lambat Laun Naura mendengar lantunan Al Qur'an, dan suara bisikan kalimat ilahi dari Dion, yang mencoba membantu istri nya yang sudah kejang-kejang dan kesusahan untuk bernafas.
Disela kepanikan dan tangisnya, Dion masih terus mencoba menuntun Naura untuk mengucapkan, sementara tim dokter sedang berpacu menuju ruangan Naura dirawat.
__ADS_1
Ceklek...tim dokter langsung bersiap memeriksa tubuh kecil itu, yang sudah terdiam kaku dalam dekapan Dion. perlahan Dion melepaskan rangkulan nya saat dokter mulai memeriksa, namun wajah putus asa bisa ditangkap oleh bdufut mata Dion melihat satu persatu dokter yang menggelengkan kepalanya pelan.
Mama Naura langsung ambruk menangis dilantai, begitu juga dengan Hendro yang memukul dinding rumah sakit. hatinya ikut hancur menyaksikan tubuh mungil Putri nya yang sudah terbujur kaku.
"Naura anakku maafkan papa, ini semua kesalahan papa..." Ucap Hendro menyesali dirinya.
Dion tidak bisa bersuara, mulutnya tersa kaku dia belum siap menerima situasi yang tersa begitu mendadak itu. dalam bungkamnya Dion terus memeluk tubuh Naura, meskipun tim medis disana berusaha untuk membujuk Dion, agar mereka bisa bekerja dan melepas selang-selang yang membantu Naura bertahan selama ini.
"Nak Dion, tenangkan dirimu. biarkan mereka bekerja dan menjalankannya tugasnya." bujuk Mama yang sudah bisa menguasai keadaan.
"Lihatlah ma, Naura tidak kesakitan lagi. istriku tertidur nyenyak Mama lihatlah sebentar lagi dia akan terbangun." Ucap Dion tersenyum kearah Naura dan mencium ke!but kening Naura.
"Sudahlah nak, kita harus iklas menerima kenyataan ini. kasihan Naura melihat suaminya seperti ini." bujuk Mama.
__ADS_1
Hendro menuntun tubuh Dion agar mau meninggalkan ruangan itu, agar perawat bisa bekerja. meskipun Hendro kesusahan untuk membawa Dion namun akhirnya mampu juga berkat bantuan Gilang yang juga baru sampai di Negara itu.
"Dion kita harus keluar fulu, biarkan dia membantu Naura dulu." bujuk Gilang.
Dion membiarkan tubuhnya diseret Hendro dan Gilang, sampai mereka menaiki pesawat untuk kembali ke Indonesia. Dion masih diam tanpa suara Mama Naura yang duduk disebelah Dion terus membantu nya untuk selalu beristighfar yang diikuti oleh Dion secara perlahan.
Suasana rumah orang tua Dion sudah dipenuhi oleh pelayat, suara tangis pilu saling bersahutan antara Mama Dion, dan Sari yang terus memeluk foto Naura.
"Kak Naura, jangan tinggalkan dari fan Boy. dia sang membutuhkan mu kak." Ucap dari menangis sambil memeluk foto, hingga dia mersa seperti ber halusinasi, Sekilas Sari seperti melihat Naura yang tersenyum kearahnya,
"Sari aku ikhlas pergi meninggalkan mas Dion dan anakku, aku berharap kelak bisa bertemu mereka disurga, Sari adikku. kakak titip si boy ya." Ucap Naura.
Sari kembali terjaga, dan melihat sekeliling yang banyak orang mengaji. menunggu kedatangan Dion dan rombongan membawa jenazah kak Naura dari luar negeri.
__ADS_1