
Dion semakin bergairah, perlahan dia berbaring di samping Naura. berharap Naura sudah bisa menerimanya, termasuk sentuhan penuh kasih sayang yang selama ini dipendam Dion dengan susah payah. bahkan dia terpaksa menuntaskan hasratnya sendiri.
Detak jantung Naura semakin berpacu, ketika merasakan hembusan nafas Dion yang semakin menderu dan mendekat. dengan mata terpejam Naura mencoba pura-pura tidur seakan-akan tidak terganggu dengan pergerakan Dion.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. aku benar-benar bingung saat ini karena tidak mungkin aku terus-terusan menolak dan mencari alasan setiap mas Dion ingin mencumbu dan melaksanakan tugasnya sebagai suamiku.
Yah...aku harus siap, kasihan mas Dion yang selama ini cukup bersabar menghadapi setiap penolakan dariku. mungkin dengan memilih memejamkan mata aku bisa melewati ini semua. Frans maafkan aku karena sekarang tubuhku sudah dimiliki oleh orang lain, meskipun hati dan cintaku masih untuk mu sayang." bathin Naura.
__ADS_1
Dion mulai mencium lembut kening Naura, dengan perasaan was-was, takut akan penolakan, serta penuh dengan kelembutan. berharap Naura akan membuka hatinya dengan sentuhan darinya.
Dian menatap lekat wajah cantik Naura dengan jarak yang sangat dekat, sementara Naura berusaha menahan hembusan nafasnya. mengingat posisi Dion yang begitu dekat dan rasa grogi yang membuatnya memilih diam dan menutup mata.
Melihat Naura yang terdiam, ciuman hangat kembali mendarat dikedua pipi Naura. berlanjut kebibir mungilnya. Dion memperlakukan dan memberikan sentuhan yang begitu lembut. sehingga tanpa sadar Naura ikut terbuai, gairahnya secara alami ikut timbul dan bergelora. Naura mengeliat pelan dan mulai mendesah setiap Dion mencumbui nya. seketika Naura menutup mulutnya dengan punggung telapak tangannya, ketika suara desahan panjang keluar dari tiba-tiba. Naura benar-benar malu. namun Dion seolah-olah tidak memperdulikan tinfah Naura, dan terus melanjutkan sentuhan nya yang sudah semakin kebawah.
"Kenapa aku begitu bergairah dicumbu mas Dion, apa ini semua karena bayi yang ku kandung sekarang." pikir Naura
__ADS_1
Seny kecil dan terlihat masih ragu dan malu-malu terpancar dari wajah cantik Naura, ketika dia mendengar bisikan dari Dion.
"Naura, terimakasih sayangku... malam ini kamu telah membuatku mersa benar-benar menjadi seorang suami sejati." bisik Dion yang akirnya kembali memeluk Naura dan tertidur pulas.
Paginya, Naura terbangun merasakan berat di pahanya. yang terhimpit paha Dion yang madih memeluknya, perlahan Naura memindahkan posisi Dion, dan duduk disisi ranjang sambil memungut Piyama tidurnya yang berserakan di lantai.
"Aaawww.... sakiiiitt." ucap Naura lirih, ketika mersa kan organ intim nya yang masih sakit, meskipun ini bukan yang pertama kali bagi Naura, namun ini yang kedua kali setelah kejadian dia dan Dion dulu. yang menghabiskan malam panjang diruangan kerja Gilang. tentunya miliknya masih sempit.
__ADS_1
Perlahan Naura menyeret langkahnya menuju kamar mandi, setelah mengisi bactub, Naura mulai berendam sambil memijid kepala pelan. mengingat malam panjang yang dia habiskan bersama Dion lagi.
"Bagaimana pun aku harus ikhlas sekarang menjadi istri dan ibu yang baik untuk mas Dion dan calon anak kami, biarlah Frans menjadi masa lalu ku. karena Frans laki-laki yang baik dan aku wanita yang tidak pantas mendampinginya. Frans semoga kamu bisa menemukan wanita yang bisa membuat mu bahagia dan mampu menjaga Cinta nya untuk mu, bukan wanita seperti diriku ini." gumam Naura sedih.