
Frans, menatap takjub pada bangunan mewah dihadapannya itu. Frans dengan ragu turun dari motor Lisa yang dipinjamnya. dia berjalan pelan ketempat pos keamanan yang terdapat disamping pagar besi.
"Cari siapa mas.?"
Frans kaget, dan menoleh kearah suara. nampak seorang security berdiri dengan gagah berani disampingnya pos.
"Maaf pak, saya mau menanyakan tentang kebenaran alamat rumah ini.?" Frans memperlihatkan kartu nama yang dipegangnya.
Security tersebut manggut-manggut memperhatikan katru nama yang masih dipegang oleh Frans.
"Benar sekali, ini rumahnya. ada keperluan apa kamu kesini.?" tanya bapak yang terlihat seram dengan kumis tebalnya.
"Aku ada janji untuk bertemu ibu Berliana, beliau ada Khan.?"
"Tunggu disini. aku akan panggilkan beliau.!" security itu berjalan masuk kerumah besar, tidak menghiraukan Frans yang masih berdiri mematung diluar pagar.
Tidak begitu lama, security itu kembali berjalan menghampiri Frans. sambil membuka pintu pagar.
"Silahkan masuk, Nyonya besar telah menunggumu ditersabelakang.!"
__ADS_1
Frans melangkah masuk, dia seakan tidak percaya memasuki rumah mewah bak istana itu, sambil sesekali memperhatikan foto yang terpajang. nampak sepasang foto keluarga dan seorang anak perempuan tersenyum bahagia. yang terpajang ditengah-tengah ruangan besar itu.
"Selamat datang di rumahku Frans.!" ucap Nyonya Berliana yang nampak pucat, sambil mengeratkan shall dileher nya.
"Ibu." Frans menunduk hormat.
Silahkan duduk Frans," mereka berjalan kearah sofa, pelayan sibuk membawa minuman dan makanan kecil untuk Frans.
"Oya Frans, kamu pasti heran melihat rumah sebesar ini, namun sepi seperti tanpa penghuni." Berliana bisa menangkap apa yang tengah dipikirkan Frans.
"Iya Bu.!" ucap Frans tersipu malu.
"Kecelakaan.?"
"Ya Frans, berdasarkan penyelidikan polisi. seseorang sengaja membobol rem mobil suamiku. meskipun aku curiga dengan rekan bisnis sekaligus sepupuku. namun aku tidak mempunyai bukti-bukti yang jelas, bahkan perusahaan kami sekarang diambang kebangkrutan." Berliana bertambah sedih tubuhnya bergetar menahan isakan.
Frans ikut terenyuh melihat perempuan paruh baya tersebut, namun dia masih bertahan duduk disposisi nya.mendengar penuturan wanita itu selanjutnya.
"Frans bisakah kamu membantu Ibu, dan jadilah anak angkat ibu. mengingat ibu tidak mempunyai siapa-siapa lagi."
__ADS_1
"Mau Bu, tapi apa yang bisa aku lakukan untuk membantu ibu."
"Tolong kamu ungkap kasus kecelakaan suami dan anak ibu, dan juga kembalikan kondisi perusahaan kami seperti sediakala kala." menatap wajah Frans penuh harap.
"Maaf Bu, tapi apakah aku mampu menjalankan misi itu." ucap Frans ragu.
"Jangan ragu Frans, ibu memilih mu kerena ibu yakin melihat kemampuan dan potensi mu. ibu telah menyelidiki kehidupan mu dan semangat mu. bahkan kamu pernah menjadi preman di pasar yang melindungi pedagang. ibu yakin dengan kemampuanmu."
"Maksud ibu.?"
Frans bertambah bingung, melihat tiga orang yang pernah dihajarnyababak belur itu, berdiri dibelakang ibu Berliana.
"Jadi kalian.?"
"Kamu boleh saja bingung melihat mereka Frans, sebenarnya mereka bertiga ini para bodyguardku, mereka sengaja melakukan itu agar kamu mau menolong ku. dan semua rencana kami bisa berjalan sempurna. jika kamu mau memantu ibu. mereka bertiga akan menjadi anak buahku Frans."
"Baiklah Bu." Frans menyerah mengingat tatapan penuh harap dari wajah Berliana.
"Terimakasih nak, ternyata pilihan ibu tidak salah. besok ibu akan mengurus surat-surat yang menyatakan kamu anak kami. dan akan mengurus perusahaan kedepannya. nanti asisten suami ibu akan membantu dalam berkerja." ucap Berliana dengan wajah berbinar-binar bahagia.
__ADS_1