Need A Bride

Need A Bride
Ch. 21. Lampu Temaram


__ADS_3

Bab. 21


Setelah berbincang dengan mertuanya, Rio pamit undur diri. Karena malam sudah semakin larut. Akan tidak sopan jika dirinya tetap berada di sana dan mengajak mereka untuk berbincang. Belum lagi besok mereka sudah menjalani aktifitas seperti biasa.


Rio tetap mengajar lebih dulu sebelum berangkat ke kantor, karena pria itu memilih jam pertama untuk dirinya mengajar.


Sementara Yuan juga tetap sekolah dsn kedua mertuanya juga berangkat kerja di lembaga pemerintahan.


Rio menghentikan langkah kakinya di kala sampai di depan kamar Yuan. Rumah orang tua Yuan tidak bertingkat. Hanya satu lantai dan itu pun cuma terdapat tiga kamar tidur.


Jadi, ketika dirinya berhenti di depan kamar Yuan, mertuanya pun juga bisa melihat.


"Kenapa, Nak? Masuk saja. Nggak apa. Udah halal juga kok," ingat ayah Aldi sambil menggeleng kepala melihat sikap Rio yang seolah takut untuk masuk ke dalam kamu Yuan. Lalu mereka masuk ke dalam kamar mereka sendiri setelah menggoda Rio.


Kini, tinggal lah Rio sendiri yang berada di luar kamar. Rio sendiri juga heran, kenapa dirinya merasa takut. Takut kalau sampai sang empunya kamar marah dan akan membuat gaduh di malam seperti ini. Yang ada, nanti tetangga akan berdatangan. Karena memang rumah mereka berada di komplek perumahan yang padat akan rumah. Bahkan nyaris tidak ada lahan luas sebagai spasi antara rumah yang saru dengan rumah yang lain.

__ADS_1


Tok tok tok!


Rio mengetuk pintu kamar Yuan. Tidak mungkin dirinya langsung nyelonong main masuk saja. Namun, tidak mendapatkan sahutan dari dalam.


"Yuan," panggilnya dengan nada lirih. Karena takut kalau sampai mengganggu mertuanya.


Hasilnya tetap sama. Rio tidak mendapat respon dari gadis yang berada di dalam. Oleh karena itu, Rio memutuskan untuk membuka pintunya.


Lagi dan lagi nasib siaal begitu melekat pada Rio. Pintu itu tidak bisa dibuka. Ya. Pintunya di kunci oleh Yuan dari dalam. Sedangkan gadis yang sedari tadi Rio panggil-panggil namanya justru terlihat begitu santai membaca komik kesukaannya sambil berbalas pesan dengan temannya—Sila. Menanyakan bagaimana kesiapan untuk acara akhir minggu nanti.


Pria itu mencoba untuk mengetuk nya lagi. Serta menambah nada panggilnya lebih tinggi dari sebelumnya. Sampai-sampai membuat bunda Yana keluar dari kamarnya.


"Ada apa, Nak Rio?" tanya bunda Yana dengan raut bingung. Kenapa menantunya itu tidak lekas masuk ke dalam kamar Yuan.


Rio menyengir lalu menunjuk ke arah pintu. "Pintunya dikunci, Bunda," ucap Rio.

__ADS_1


Lebih baik jujur daripada dirinya tidur di luar. Dingin dan banyak nyamuk itu sudah pasti. Dan Rio tidak bisa tidur dalam keadaan pakaian lengkap seperti ini. Apa lagi mengenakan setelan kemeja. Sungguh kurang nyaman.


Bunda Yana sedikit terkejut dengan tindakan putrinya. Namun, wanita paruh baya itu mengerti bagaimana rasanya berada di posisi putrinya saat ini. Apa lagi ketika mengetahui di sini Yuan sama sekali tidak menaruh hatinya pada Rio. Bahkan juga terlihat tidak tertarik sedikit pun. Terlihat begitu cuek dan abai.


"Sebentar, Bunda ambilin kunci cadangan," ujar bunda Yana yang kemudian masuk ke kamarnya lagi.


Tidak berapa lama, ayah Aldi yang keluar membawa kunci.


"Maklumi sikap Yuan, Nak Rio. Karena ini mungkin terlalu mendadak baginya. Jadi dia perlu adaptasi dan Nak Rio bisa mendekati Yuan pelan-pelan. Anak itu tidak bisa dipaksa terus menerus memang. Dia akan memberontak. Seperti sekarang ini contohnya," ucap ayah Aldi sembari membuka kamar Yuan dengan kunci yang ia bawa.


Rio mengangguk. "Saya paham, Yah," balas Rio yang sudah mengubah sebutannya pada ayah mertuanya tersebut.


Ayah Aldi mundur di saat pintu itu berhasil di buka.


"Ya sudah, sana kamu masuk. Tapi ingat, lakukan pelan-pelan. Jangan dipaksa lagi. Kasihan putri Ayah satu-satunya," ujar ayah Aldi sembari tersenyum penuh arti lalu pergi meninggalkan Rio.

__ADS_1


Perkataan serta ekspresi ayah Aldi membuat imajinasi Rio semakin liar tak terarah.


__ADS_2