Need A Bride

Need A Bride
Ch. 35. Mengumpat Atau Bersyukur


__ADS_3

Bab. 35


Pagi harinya, Yuan yang bangun lebih dulu karena merasakan tubuhnya terasa berat. Seperti ada beban lain yang ada di atas perutnya.


Gadis itu mengerjap pelan demi bisa melihat dengan jelas. Lalu menurunkan pandangannya ke arah ya g dia rasa begitu berat. Berapa terkejutnya Yuan ketika ada lengan kekar di sana.


"Ck! Padahal baru semalam bahas peraturan. Tapi udah dilanggar aja," gumam Yuan dengan segera memindahkan tangan Rio dari atas perutnya.


Setelah berhasil lolos, cepat-cepat Yuan berlari ke arah kamar mandi dan membersihkan diri terlebih dulu. Baru itu menuju ke dapur setelah menyiapkan buku sekolahnya. Agar nanti tidak terlalu berburu-buru.


"Pagi, Mi," sapa Yuan ketika mendapati mertuanya yang sudah berada di dapur.


Mami Dilla menoleh kaget. "Loh, kok udah bangun, Sayang?" tanya mami Dilla dengan raut terkejut.


Yuan sendiri juga tidak kalah kaget.

__ADS_1


"Ya kan ini udah jam setengah enam, Mi," ucap Yuan. "Apa yang bisa Yuan Bantu, Mi?" tanya gadis itu lagi semakin mendekat ke arah mami Dilla.


Mami Dilla menggeleng.


"Nggak. Kamu balik ke kamar aja. Bangunin suami kamu dan siapin keperluannya. Di sini biar di handle sama bibi aja. Mami juga cuma lihat-lihat aja kok," ujar mami Dilla yang menyuruh Yuan untuk segera pergi dari sana.


"Ta-tapi, Mi—"


"Udah ... kamu masuk aja ke kamar lagi, Sayang. Nanti kalau sarapannya udah selesai, biar dipanggil sama bibi."


Kemudian mami Dilla mendorong pelan tubuh kecil Yuan agar kembali masuk ke kamarnya.


Sesampainya di depan kamar, Yuan menarik napas panjang. Malas sekali berduaan di dalam ruangan yang sama dengan om matengnya itu. Namun, mau bagaimana lagi. Mengelak pun juga tidak bisa. Akhirnya Yuan memutar handle pintu dan melangkah pelan masuk ke dalam.


Sedikit tersentak kaget, Yuan tidak melihat om matengnya itu di atas tempat tidur yang semalam ia tempati bersama sang pemilik kamar.

__ADS_1


"Loh, tadi ada di sini," gumam Yuan.


Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan, namun tetap saja tidak menemukan Rio.


Yuan pun bodo amat. Beranggapan jika Rio sudah keluar dari kamarnya dan entah ke mana. Karena jarak kamar dan dapur lumayan jauh, ia tidak ambil pusing. Yuan pun lebih memilih dirinya segera berganti seragam. Sebab ia juga harus berangkat pagi-pagi demi gladi resik hari ini.


Tanpa menaikkan tingkat kewaspadaannya, Yuan melepas baju rumahan yang ia pakai di dekat tempat tidur. Lalu dengan bagian atas yang hanya mengenakan kacamata saja di bagian dadaa, Yuan berjalan menuju ke kopernya berada, karena semalam belum sempat menaranya di menari Rio.


Gadis itu dengan sangat santai sekali mengambil seragamnya tanpa mengetahui ada sepasang mata yang memperhatikannya dari balik dinding yang terbuat dari kaca tebal.


Rio mendengar suara pintu dibuka, lantas pria itu menekan sebuah remote yang ada di rak gantung di sisi kamar mandi. Hingga dinding yang mengarah ke kamarnya tersebut tampak jelas dan memperlihatkan kondisi kamarnya sekarang ini. Sebab dinding yang semulanya padat dan tidak tembus pandang, kini berganti dengan dinding kaca tebal. Di mana akan terlihat dari kamar mandi, namun jika dari kamarnya tetap akan terlihat gelap.


Betapa terkejutnya Rio ketika matanya mendapat asupan vitamin menyegarkan pagi ini. Juga merupakan ujian baru bagi miliknya yang di bawah sana.


"Ya Tuhan ... belum cukupkah Engkau memberi ujian di malam hari? Entah, aku harus bersyukur atau mengumpat kali ini," gumam Rio sambil mengacak rambutnya frustasi. Melihat apa yang ada di dalam kamarnya saat ini.

__ADS_1


Ingin sekali Rio keluar dalam keadaan polosan dan langsung menerjang. Akan tetapi ia tahan dan lebih memilih untuk melakukan solo pagi ini. Dari pada sampai sekolah nanti miliknya masih ngambek.


"Sabar ... sabar. Tunggu enam bulan lagi, baru bisa menyatu lo," ucap Rio sembari mengusap barang paling pribadinya dengan perasaan mengenaskan.


__ADS_2