Need A Bride

Need A Bride
Ch. 27. Rencana Epik


__ADS_3

Bab. 27


Rapat itu berlangsung cukup lama rupanya. Yuan bahkan sampai numpang mandi di sekolah dan melakukan kewajibannya lalu memulai rapat lagi. Belum lagi ia harus bertemu dengan personil band Ciruz Brook.


"Gimana Sil? Mereka udah ada di cafe sekarang?" tanya Yuan yang tengah menghubungi Sila.


"Ya, mereka ada di sini sama gue. Bentar lagi gue ajak ke sekolah," sahut Sila di seberang sana.


"Ya udah, gue tunggu sama anak-anak yang lain."


Setelah itu Yuan memutus sambungan mereka. Melani yang ada di sampingnya bertanya melalui tatapan gadis itu.


"Tenang aja, beres." beritahu Yuan.


"Terus mau latihan di mana sore ini?" tanya Richard yang juga masih berada di sana. Pun dengan Fandi yang tidak mungkin membiarkan cewek-cewek ini berada di sekolah tanpa mereka.


"Gimana kalau minjem ruang seni? Di sana peralatannya lengkap, kan?" usul Yuan yang tetiba teringat ruangan itu. Di mana dirinya tadi sempat disekap di dalam sana beberapa menit oleh guru menyebalkan.


Mengingat hal itu, cepat-cepat Yuan menghubungi bundanya. Lupa jika belum memberitahukan perihal dirinya yang pulang telat.


"Kenapa lagi, lo?" tanya Melani melihat perubahan mimik wajah Yuan.


"Gue lupa belum laporan sama Bunda. Bisa digorok gue nanti kalau nggak laporan dulu," jawab Yuan.

__ADS_1


Inilah yang mereka sukai dari Yuan. Walaupun tangan dan mulutnya jarang sekali bisa dikondisikan, tetapi gadis itu selalu mengedepankan kepercayaan orang tuanya. Mengabari apapun kegiatan yang dia lakukan kepada orang tuanya jika hal itu memungkinkan.


"Tenang aja. Nanti pulangnya gue anter. Sekalian kenalan sama camer," sahut Richard dengan tatapan jahilnya.


Sontak, membuat cowok itu langsung mendapat geplakan di lengannya dari Yuan.


"Yang ada lo digorok sama Ayah," ucap Yuan sengaja menakuti Richard.


Richard langsung angkat kedua tangan nya hingga bersejajar dengan kepalanya.


"Waaahh ... kalau yang itu di skip aja bisa nggak Yu?" ucap Richard yang masih menyayangi nyawanya.


Melani begitu kesal di saat teman-temannya ini justru bercanda bukannya segera menuju ke ruangan seni.


Yuan kicep, pun begitu dengan yang lain. Gadis itu melirik ke arah Richard lalu berkata dengan suara lirih.


"Hust! Paduka Ratu udah marah. Tanduknya keluar. Jangan ngomong lagi," ucap Yuan dengan suara lirih. Namun, masih bisa terdengar oleh yang lainnya.


Fandi dan Guntur menggeleng kepala melihat tingkah Yuan. Sementara Friska dan Sena menepuk jidat mereka.


"Bakalan kena omel lagi dah si Yuan," batin mereka bersamaan.


"Lo yang jangan ngomong, Yuan!" geram Melani dengan mata melotot.

__ADS_1


Richard yang lelah mendengar perdebatan di antara mereka, lantas cowok itu segera menarik lengan Yuan dan mengajaknya ke ruang seni. Lalu diikuti dengan yang lain. Meninggalkan Melani yang masih merasakan amarah yang sangat luar biasa.


"Amit-amit deh punya anak kayak mereka," gumam Melani sembari mengatur napas serta menurunkan amarahnya.


Sementara itu, di kediaman orang tua Yuan. Tampak seorang pria yang sedari tadi duduk di teras, terus menerus menatap ke arah luar. Berharap sebentar lagi ia melihat sosok yang sedang dia tunggu saat ini.


"Sedang menunggu Yuan ya, Nak Rio?" tanya bunda Yana yang baru turun dari mobil.


Wanita paruh baya dengan seragam dinas berwarna putih itu melangkah mendekat ke arah sang menantu.


Sesuai dengan apa yang diajarkan orang tuanya selama ini, Rio bergegas menyalami mertuanya secara bergantian.


"Iya, Bunda. Dari tadi kok Yuan belum keliatan," jawab Rio jujur setelah mengecup tangan mereka secara bergantian.


Kaning bunda Yana berkerut ke dalam.


"Dia nggak ngabarin kamu, Nak Rio?" tanya bunda Yana sedikit terkejut.


Spontan Rio menggeleng. "Ngabarin apa ya, Bund?" tanya Rio.


Tampak bunda Yana menghela napas. "Yuan bilang kalau hari ini pulang terlambat. Karena ada kegiatan di sekolah, katanya."


Mendengar hal itu, membuat Rio mengeram di dalam hati.

__ADS_1


'Gadis itu benar-benar membuat kesabaranku semakin menipis saja!' geram Rio. Segers terlintas di kepalanya sebuah rencana epik untuk sang istri.


__ADS_2