Need A Bride

Need A Bride
Ch. 45. Sudah Halal, Bisa Apa?


__ADS_3

Bab. 45


"Siapa?" tanya Yuan penasaran. Pun begitu dengan Rio yang belum memberi keputusan sanggup tidaknya dirinya.


Cika mendekat sambil membawakan sebuah mahkota kecil untuk menunjang penampilan Yuan.


"Itu, pangeran yang selaku bersama lo," jawab Cika sambil mengerjakan tugasnya.


Yuan langsung tertawa tanpa mengingat sopan santun di kala di ruangan itu juga ada guru mereka, Rio. Hal itu membuat Rio memicingkan matanya.


"Maksud lo si Icad?" Yuan memperjelasnya lagi dan mendapat anggukan dari Cika.


Sementara Rio masih belum paham siapa yang sedang mereka bahas saat ini. Karena setahunya tidak ada murid yang bernama Icad.


"Kenapa? Secara dia kan jago banget aktingnya. Apa lagi kalau udah sama lo. Kek natural aja gitu. Lagi pula kita juga tidak bisa memaksa Pak Rio, kalau memang Pak Rio merasa keberadaan atau kurang srek aja," ucap Cika yang kemudian menatap Rio.


Pria itu masih sama saja. Duduk di kursi yang ada di dekat Yuan dengan wajah seperti papan tulis. Datar tanpa ada variasinya barang sedikit saja.


"Iya juga sih. Tapi yang ada gue berantem mulu kalau sama dia," balas Yuan.


"Dari pada acaranya gagal, Yu. Mendingan sama Richard aja su—"

__ADS_1


"Siapa bilang saya keberatan?" sergah Rio dengan suara tinggi. Membuat ketiga gadis yang ada di sana tersentak kaget dengan suara Rio yang tiba-tiba.


"Loh, memangnya Pak Rio mau lanjut?" tanya Cika setelah berhasil mengatasi keterkejutannya barusan.


"Ya," jawab Rio singkat lalu melihat ke arah pergelangan tangannya. Di mana terdapat jam tangan mahal di sana. "Kurang sepuluh menit lagi. Mendingan segera selesaikan." titah Rio yang kemudian keluar dari sana.


Yuan memicingkan matanya ke arah Rio yang meninggalkan mereka di sana.


"Ini beneran Pak Rio, kan?" Cika beberapa kali mengerjapkan matanya demi memperjelas kalau dirinya tidak salah melihat.


"Dia lagi kesambet mungkin. Si es batu yang udah cair. Sampai mau ikut-ikut acara seperti ini," timpal Santi yang juga merasa ada yang aneh dengan guru mereka.


***


Kegiatan Pensi yang berlangsung malam ini berjalan begitu lancar. Juga belum ada yang mau pulang lebih dulu. Terlebih lagi para siswi yang tengah menunggu acara puncak pada malam ini.


Dan tibalah acara yang paling ditunggu. Para pemain pendukung muncul lebih dulu, baru Yuan naik ke atas pentas.


Gadis yang biasanya selalu berkata kasar jika diganggu dan sangat ketus tersebut, kini tampak begitu anggun dan wajahnya yang imut itu membuat para siswa meneriakkan namanya. Bahkan ada juga yang dengan terang-terangan mengungkapkan perasaan mereka dari bawah panggung.


"Imut bener sih Ibu dari anak-anak gue!" teriak salah seorang murid yang menatap kagum ke arah Yuan.

__ADS_1


"Yaelah ... lo belum tau? Dia tuh bini gue!" timpal yang lain dan langsung mendapat tonyoran di kepalanya.


"Jodoh gue tuh! Kita udah tunangan!" sahut yang lain.


Masih banyak lagi kalimat yang terucap. Membuat Rio yang berada di belakang panggung tampak begitu geram.


Tidak berapa lama, Rio masuk dan memerankan perannya. Sama seperti Yuan, kali ini sorakan demi sorakan terdengar begitu melengking. Sampai-sampai membuat gempar acara tersebut. Hampir kesemuanya menginginkan posisi Yuan saat ini, di mana gadis itu memejamkan mata dan di dekatnya ada pangeran yang sesungguhnya.


Tibalah pada momen sang pangeran mencium putri agar terbangun dari tidurnya.


Teriakan histeris terdengar lebih nyaring lagi di kala Rio mendekatkan wajahnya ke arah Yuan.


"Jangan aneh-aneh. Di sini banyak orang," ingat Yuan dengan mata yang masih terpejam.


"Kirain tidur beneran," goda Rio. "Eits, nggak boleh buka mata. Nanti yang lain kecewa," cegah Rio di saat Yuan terlihat akan membuka mata dan tentu saja gadis itu jelas akan melayangkan protes padanya.


Tidak mau membuang kesempatan dan waktu, tanpa ijin lebih dulu Rio benar-benar menempelkan bibir mereka. Sontak, mata Yuan terbuka dengan sangat sempurna. Sedang Rio memejamkan matanya. Seolah begitu menikmati momen tersebut dan tidak menghiraukan teriakan histeris dari para penonton. Bahkan pak kepala sekolah saja sampai menggeleng kepala.


"Udah halal, kita bisa apa," gumamnya.


Sementara pak Yohanes terkekeh mendengarnya. "Maklum, masih pengantin baru, Pak. Mungkin Pak Rio juga sudah nggak tahan keliatannya."

__ADS_1


__ADS_2