Need A Bride

Need A Bride
Ch. 29. Tidak Tahan


__ADS_3

Bab. 29


"Masa saya harus manggil Bapak dengan sebutan 'mas'? Ya nggak sopan dong. Kalau saya keceplosan di sekolah gimana?" protes Yuan yang sebenarnya masih berat untuk memanggil Rio dengan sebutan yang pria itu minta.


Rio melangkah mendekat, membuat Yuan semakin menyipitkan pintunya.


Sementara Rio semakin mendekat. Tatapan pria itu datar. Sama sekali tidak bisa dibaca apa yang sedang dia rencanakan.


"Aku yang masuk, atau kamu menuruti perintahku? Hmm? Ingat, sekarang ini aku suamimu. Bukan gurumu," ucap Rio dengan suara lirih namun penuh dengan penekanan di setiap katanya. Membuat Yuan semakin menciut.


"Iya, iya! Saya ganti panggilannya!" pekik Yuan menghentikan langkah kaki Rio.


Handuk sudah ada di tangan pria itu. Namun, Rio tidak berniat untuk memberikannya kepada Yuan sebelum gadis itu membiasakan diri memanggil dirinya dengan sebutan lain. Tidak seperti di sekolah.


"Om ... tolong ambilin handuk, do—"


"Bukan om juga kali, Yuan!"

__ADS_1


Kali ini kesabaran Rio benar-benar sudah habis. Pria itu dengan cepat dan kuat mendorong pintu kamar mandi ke dalam lalu merentangkan handuk yang ia bawa untuk kemudian Rio lilitkan di tubuh Yuan. Membungkusnya dengan handuk seperti bayi yang di bedong.


"Sudah aku peringatkan, jangan menguji kesabaranku. Apa harus aku peringatkan dengan cara lain? Hmm?" tekan Rio sembari menekan handuk di tubuh Yuan agar tidak lepas.


Yuan tersentak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Rio terhadap dirinya. Ingin melontarkan kalimat protesnya, takut jika pria yang berhak atas dirinya tersebut melakukan hal yang tidak Yuan inginkan. Di tambah lagi posisinya sekarang sangat tidak menguntungkan baginya. Terlebih tangannya juga berada di dalam handuk. Sama sekali tidak bisa bergerak.


Tanpa mengucap banyak kata, Rio mengangkat Yuan dan membawanya keluar dari kamar mandi untuk kemudian dia rebahkan di atas tempat tidur. Tentu, segera Rio tindih setelah menutup tubuh Yuan dengan selimut.


Bukan karena apa. Rio hanya takut dirinya kelewat batas dan memaksakan kehendak nya atas gadis yang sudah halal untuknya.


Sementara Yuan segera memalingkan wajahnya. Namun, gegas Rio tahan dagu gadis itu agar tetap menatap ke arahnya.


"Kalau sedang di ajak bicara, tatap lawan bicaramu, Yuan," ingat Rio dengan nada dingin.


Lagi dan lagi membuat Yuan semakin menciut. Tidak berani membantah seperti sebelumnya. Di tambah lagi ekspresi pria itu yang teramat menyeramkan di matanya.


'Siall! Kenapa jantung gue malah berdisko di saat yang nggak tepat sih!' rutuk Yuan ketika melihat wajah Rio begitu dekat.

__ADS_1


Rio juga sama. Pria itu merasakan grogi yang teramat sebenarnya. Karena ini kali pertamanya ia berada begitu dengan dengan seorang perempuan. Apa lagi perempuan yang ada di bawahnya saat ini sungguh halal baginya. Membuat tangan Rio semakin gatal.


Alih-alih segera beranjak dari atas tubuh Yuan, Rio justru mendekatkan wajahnya ke arah Yuan. Melihat bibir pink kemerahan alami milik sang istri, di mana setiap malam selalu Rio cium jika Yuan sudah terlelap, membuat Rio tidak bisa menahannya lebih lama dari ini.


Cup!


Satu kecupan berhasil Rio dapat. "Manis," ucap pria itu.


Lalu Rio mengulangnya lagi. Kali ini bukan hanya kecupan saja. Melainkan Rio juga menyapu permukaan bibir Yuan dengan lidahnya. Terasa kenyal dan lembut. Sedangkan Yuan di bawah sana diam membeku. Tidak tahu harus berbuat seperti apa.


"Buka sedikit mulutmu, Yuan. Ini sebagai hukuman karena kamu tidak mematuhi suamimu," bisik Rio begitu dekat di telinga Yuan.


Yuan membelalakkan matanya. Tidak terima dengan hukuman yang diberikan oleh suaminya dan merasa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun.


"Tapi, say—mmpphhh!"


Tentu saja Rio tidak lagi membuang kesempatan yang datang kepadanya. Bodo amat dengan Yuan nantinya semakin benci padanya atau tidak. Yang terpenting, ia tidak akan membuang peluang yang ada di depan matanya. Menerobos masuk dan mengubek apa saja yang ada di dalam mulut sang istri.

__ADS_1


__ADS_2